Home
  Sambutan
  Sejarah
  Profil
  Pemahaman Iman
  Laporan Dana
  Contact Us
 
   
 
 
 
 
 
 
Penjelasan Pemahaman Iman
>> Keselamatan
>> Gereja
>> Manusia
>> Alam dan Sumber Daya
>> Negara dan Bangsa
>> Masa Depan
>> Firman Allah
 
 
     
 

PENJELASAN – PENJELASAN

TENTANG

PEMAHAMAN IMAN

 
     
 

IV

ALAM dan SUMBER DAYA

     
 
 
ALENIA I
Bahwa Allah menciptakan alam dan sumber daya-nya 1). Allah mempercayakan pengelolaannya kepada negara 2) dengan penuh tanggung jawab 3) demi kesejahteraan 4) manusia dan kelangsungan hidup sesama ciptaanNya.

 

IV.1.1 ALLAH MENCIPTKAN ALAM DAN SUMBER DAYANYA .

Kesaksian Kitab Suci : Kejadian 2 : 1 - 3

IV.1.2. ALLAH MEMPERCAYAKAN PENGELOLAAN KEPADA NEGARA

  • Pada mulanya TUHAN tidak menyerahkan pengelolaan dan pengolahan alam kepada pemerintah. Allah memberikan mandat kepada manusia, kata-Nya: ” Berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di urada dan segala binatang yang merayap (Kej.1:28b) dan lagi : ” TUHAN Allah mengambil manusia dan menempatkannya di Taman eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu (Kej. 2:15). Hal itu berarti, TUHAN mempercayakan tugas dan tanggung jawab pengelolaan secara luas kepada manusia.
  • Akan tetapi manusia bukanlah makluk yang hidup tanpa orang lain. Manusia adalah makhluk sosio-religius. Ia memiliki hubungan vertikal dengan Allah, tetapi juga hubungan horitontal dengan sesamanya. Alkitab bersak-si tentang perkataan Allah : ”Tidak baik kalau manusia itu seorang diri...” (Kej. 2:18). Pokok kalimat ini mengan-dung dua makna penting dalam relasi horisontal :
1. Relasi Horisontal yang bersifat umum

Yang dimaksudkan dengan relasi horisontal yang bersifat umum adalah relasi antar sesama manusia dalam kelompok sosial terbesar, yakni: masyarakat. Manusia tidak dapat hidup sendiri. Secara religius, kehidupan manusia tergantung pada Allah. Tetapi hubungan dengan Allah itu merupakan dasar spiritualitas, agar ia dapat mengembangkan potensi-hidup-anugerah-Allah itu dalam hubungan dengan sesamanya. Pada dataran kehidupan seperti ini, kita dapat menyatakan, hubungan manusia terbuka dan dinamis. Hubungan itu terbuka sebab manusia membutuhkan orang lain sebagai mitra hidupnya. Hubungan itu disebut dinamis , karena manusia hidup dalam konteks sosialnya. Tidak semua konteks sosial itu bertindih tepat dan sama persis. Konteks sosial itu memiliki karakter (ciri khas) tersendiri, yakni : budaya dan sebagainya. Oleh karena itu, tiap manusia (secara individual) dapat mengembangkan potensi-hidup sesuai dengan kultur (termasuk nilai-nilai budaya) di mana ia berada.

Orang percaya pun tidak dapat hidup sendiri. Ia hidup bersama dengan orang lain di dalam masyarakat. Di sana ia berjumpa dengan beragam budaya (sistem politik, sistem ekonomi, sistem sosial, sistem keaga-maan) dan manusia. Sekalipun orang percaya memiliki visi dan misi khusus, namun ia harus menyesuaikan diri ( menyerasikan = ber- adaptasi ) dengan lingkung-an di mana ia berada. Ia harus dapat mengak-tualisasikan dan mentransformasikan nilai-nilai kekristenan ” menjadi ” nilai-nilai yang berfungsi dan berdaya bina bagi pembangunan manusia dalam masyarakatnya.

2. Relasi Horisontal yang bersifat Khusus

Yang dimaksudkan relasi horisontal yang ber-sifat khusus adalah keluarga. Relasi keluarga itu, sekalipun ia bersifat sosiologis, akan tetapi selalu dilandasi keyakinan iman. Hubungan suami-isteri-anak-orangtua memiliki kekususan. Mereka memiliki hubungan segi tiga sama sisi kokoh. Dalam hubungan itulah nilai-nilai kekristenan ditumbuh kembangkan, hingga membentuk HUBUNGAN INDIVIDU DAN NEGARA DALAM PENATA-LOLAAN ALAM

TUHAN tidak menciptakan Negara. Itulah prinsip pandangan Gereja tentang NEGARA dan BANGSA. Tuhan menciptakan manusia. Dia menyuruh manusia menatalola ”mandat” yang diberikannya untuk kepentingan bersama . Pada saat, Gereja membahas kebersamaan itu, ia tiba pada kesimpulan terkait bagaimana mengenola dan melaksanakan kebersamaan dan keber- sesama -an manusia dalam upaya meningkatkan kesejahteraan bagi dan semua ciptaan. Di sinilah orang percaya sebagai warga masyarakat berperan serta. Peran serta (partisipasi) itu diberikan dalam bentuk ” melimpahkan kepercayaan kepada orang dan atau orang-orang tertentu ” menata-lola Negara dan Bangsa (pemerintah).

Lihat catatan Penjelasan pada pokok PEMAHAMAN IMAN mengenai MANUSIA, khususnya alenia tentang PERKAWINAN

Lihat catatan penjelasan tentang istilah INDIVIDU dan NEGARA pada pokok PEMAHAMAN IMAN mengenai NEGARA DAN BANGSA.

PEMBAGIAN KEKUASAAN DAN TUJUANNYA

Dalam pemahaman demikian Gereja mengartikan ” pemilihan dewan pemerintahan ” itu sebagai kehendak sosial untuk melakukan pembagian kekuasaan ( sharing of social power ) yang dinugerah-kan Allah kepada tiap manusia ke dalam institusi sosial (pemerintahan). Di snilah Warga Gereja (orang perca-ya) harus mengerti dan mengetahui, bahwa kuasa yang dimiliki pemerintah itu diberikan oleh Allah melalui kepercayaan yang diserahkan Warga masyarakat kepada pengola Negara dan bangsa. Dengan demikian pemerintahan dan sistemnya adalah ciptaan manusia (budaya) yang diadakan dalam kerangka pemberdayaan kekuasaan secara bersama-sama .

Pembagian kekuasaan dan kepercayaan kepada pengelola Negara (pemerintah) itu pun bertujuan untuk menghadirkan secara terus menerus dan bulang-ulang karya penyelamatan Allah ke atas alam semesta dan semua makhluk ciptaan di dalamnya.

KEKUASAAN NEGARA DAN PENGELOLAAN ALAM

Gereja memahami pula, Negara adalah alat (sekalipun karya manusia) yang dipakai Allah untuk mendatangkan keselamatan ke atas alam semesta dan semua makhluk di dalamnya. Oleh karena itu, apa yang telah ditetapkan bersama-sama dalam Undang-Undang Negara republik ndonesia (tahun 1945), diakui Gereja sebagai bahagian yang tidak terpisahkan dari rencana Allah yang menyelamatkan rakyat dan bangsa Indonesia. Alenia IV dari Mukadimah UUD 1945 bertujuan : mencapai ” kesejahteraan sosial yang mera-ta bagi seluruh penduduk Indonesia ”. Gereja mendukung sepenuhnya tujuan tersebut dengan cara membina dan membangun wawasan warganya, agar berperan serta aktif ke dalam semua proses pembangunan yang direncanakan Pengelola Negara (Pemerintah) jika hal itu sesuai dengan kehendak Allah (ukuran kualitatif sesuai dasar-dasar Ajaran para rasul dan Gereja).

Bertolak dari pemahaman tersebut, Gereja, melalui peran warga maupun institusi, ikut mendorong kemajuan bangsa yang membawa kesejahteraan kepada penduduk Indonesia. Sekaligus Gereja merestui pemberdayaan alam demi mencapai kesejahteraan, jika hal itu sesuai dengan kehendak Allah .

IV.1.3 PENUH TANGGUNG JAWAB

Kesaksian Kitab Suci :

IV.1.4 . DEMI KESEJAHTERAAN

Tujuan pemanfaatan dan pemberdayaan alam semesta itu harus ditujukan untuk menghadirkan kesejahteraan yang bernilai ekonomis ke dalam kehidupan bersama.

Lihat catatan Penjelasan tentang istilah tanggung jawab dalam pokok PEMAHAMAN IMAN mengenai MANUSIA pada alinea terkait.

 
 
 
ALENIA II
Bahwa kekuatan-kekuatan alam 1) yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, takluk pada kuasa Allah dan karena itu alam tidak boleh disembah 2) .

 

IV.2.1 KEKUATAN – KEKUATAN ALAM

Alam memiliki kekuatan, karena itu ia disebut ”sumber daya”. Kekuatan yang dimaksudkan adalah ”potensi” yang terkandung di dalam dirinya sejak TUHAN Allah menciptakannya. Sumber Daya alam terdiri dari mineral yang terkandung di dalam bumi, benda-benda di angkasa, binatang di atas bumi, ikan-ikan yang berkeriapan di dalam lautan, termasuk pula ekosistem yang saling kait mengait pada dirinya (alam). Oleh karena itu, alam memiliki kekuatan destruktif (penghancur) kehidupan, tetapi sekaligus kekuatan pembangun kehidupan.

Kepada manusia Allah menugaskan dua hal penting, yakni:

  • MEMELIHARA, dan
  • MENGUSAHAKAN

Ad.1. MEMELIHARA ALAM.

Pemeliharaan alam yang dilakukan oleh manusia harus mencerminkan dan mewujud nyatakan pemeliharaan Allah atas ciptaannya, termasuk hubungan anatara manusia dengan alam semesta. Pemeliharaan alam oleh manusia itu harus mengingat akan kehendak Allah sebagaimana disaksikan di dalam Kitab Suci (.......)

Ad.2. MENGUSAHAKAN

Pengusahaan alam semestayang dijalankan manusia adalah kehendak Allah. Akan tetapi pengusahaan (pemberdayaan, pemanfaatan, penggunaan) harus tetap memelihara ekosistem, sehingga alam ditolong untuk memberdayakan dirinya dalam kaitan dengan manusia. Pengusahaan alam harus bertujuan menghadirkan kesejahteraan ekonomis kepada semua makhluk hidup.

IV.2.2 ALAM TIDAK BOLEH DISEMBAH

Alam adalah makhluk ciptaan Allah yang sama nilai dan kedudukannya dengan manusia. Oleh karena itu, ia tidak perlu disembah; akan tetapi ia harus dijadikan mitra untuk keselamatan sesuai dengan rencana Allah. Hubungan antara manusia dan alam dapat juga disebut kemitraan ciptaan Allah. Sebab itu, manusia harus dapat mengembangkan (memberdayakan) alam sesuai kehendak Allah, sebagaimana sejak semulanya ketika TUHAN menciptakan Taman Eden bagi kepentingan manusia (Kej. 2:15). Dengan demikian, manusia harus bertanggungjawab penuh terhadap kerusakan lingkunan (ekosistem) yang akan mengancam kehidupan kehidupan ciptaan Allah, termasuk manusia sendiri.

aman Eden (kata lain untuk menyebut alam semesta) adalah anugerah (pemberian) Allah kepada manusia, agar manusia mengusahakannya bagi kesejahteraan (Kej.2:15; ...............) yang bernuansa masadepan. Dalam proses penata-lolaan dan pengolahan alam, manusia harus tunduk di bawah kehendak Allah (......). Ketaatan dan kesetiaannya itu tampak ketika ia melaksanakan pekerjaan Allah (Yoh. 9:4) yang bertujuan keselamatan (.......). Pelaksanaan dan penyelenggaraan usaha pengolahan alam tidak boleh medorong manusia menempatkan alam di atas segala-galanya, termasuk di atas penyembahan kepada Allah. Sebab Allah tidak menghendakinya (......) .

 
 
 
ALENIA III
Bahwa alam dan sumber dayanya telah dipulihkan oleh Yesus Kristus 1) . Karena itu manusia yang telah didamaikan dan dipulihkan, wajib memelihara alam dan sumber dayanya dengan penuh perhatian dan rasa tanggung jawab .

 

IV.3.1 ALAM DAN SUMBER DAYA TELAH DIPULIHKAN OLEH YESUS KRISTUS

Karena kasih-Nya yang besar dan tiada tara Allah telah menganugerahkan keselamatan kepada seluruh ciptaan-Nya. Dengan firman-Nya Dia telah menertibkan dan menata alam semesta sesuai kehendak-Nya. Akan tetapi dosa yang mengikat kehidupan manusia telah mempengaruhi akalbudi dan hati nuraninya, sehingga manusia salah menjalankan ”mandat” yang diberikan Allah untuk mengusahakan alam semesta demi kesejahteraan hidupnya. Oleh karena itu, alam menjadi rusak dan sekaligus menjadi kekuatan penghancur kehidupan di atasnya.

llah berkerja memulihkan dan membaharui kehidupan manusia di dalam karya Yesus Kristus (Yoh. 1: 1-5) dan oleh pimpinan Roh-Nya. Dia telah membersihkan manusia dari hati yang jahat dan pikiran yang tidak benar (Yeh. 36:25-27; Efs. 4:22). Dengan akalbudi dan hati nurani yang telah dikuduskan, manusia dimampukan untuk menata alam secara benar dan baik sesuai kehendak Allah.

 
 
 
ALENIA IV
Bahwa dengan ilmu pengetahuan dan teknologi 1) , manusia boleh meneliti dan mengelola alam beserta sumber dayanya, secara tepat guna sehingga alam memiliki kesempatan untuk memperbaharui dirinya dan berdaur ulang 2).

 

IV.4.1. ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI

Penata lolaan dan pengolahan ( penatalayanan bagi pengusahaan) alam semesta harus dilakukan secara bertanggung jawab sesuai dengan prinsip-prinsip pengetahuan dan teknologi. Ilmu Pengetahuan dan Teknologi adalah budaya manusia yang tercakup di dalam ”mandat” Allah. Akan tetapi dalam pemanfaatan dan pemberdayaan Ilmu Pengetahuan dan teknologi, manusia tidak boleh mengkultuskannya. Sebab hanya Allah sendirilah yang menciptakan dan yang membuat semua indah sesuai kehendak-Nya yang agung.

IV.4.2. ALAM MEMILIKI KESEMPATAN UNTUK MEMPERBAIKI DIRI

Dalam penata-lolaan dan pengolahan (penata-layanan pengusahaan) alam, manusia harus memberikan kesempatan dan membantunya, agar ia dapat membenahi diri. Hal itu jelas dimaksudkan Allah dengan TAHUN SABAT (Tahun Yobel), di mana seluruh ciptaan beristirahat. Manusia harus menghormati hak azasi yang diberikan TUHAN kepada alam berdasarkan penciptaan-Nya.

 
 
 
ALENIA V
Bahwa oleh karena kuasa dosa, manusia cenderung untuk menguasai alam bagi kepentingan dan keuntungan pribadi, sehingga terjadi benturan kepentingan yang mengakibatkan dampak kerusakan alam. Hanya oleh pendamaian antara Allah dan manusia yang dilaksanakan dengan perantaraan Tuhan Yesus Kristus, maka manusia sebagai ciptaan baru 1) dapat melihat kembali pentingnya alam sebagai rumah dan sarana kehidupan bagi segala mahluk .

 

IV.5.1 . PENDAMAIAN

Pendamaian Allah bermakna memulihkan kedudukan seluruh ciptaan-Nya di dalam alam semesta sebagaimana sediakala. Pendahamai itu adalah anugerah Allah dalam dan melalui karya Yesus Kristus. Oleh karena itu, tiap orang percaya yang hidup dalam alam semesta harus menampakkan karya Yesus Kristus itu dalam hubungan dengan sesama ciptaan lainnya di dalam alam semesta.

IV.5.2. ALAM SEBAGAI RUMAH

Kitab Suci mengatakan, bahwa alam semesta dijadikan Allah sebagai tempat tinggal bagi seluruh makhluk ciptaan-Nya (......). Oleh karena itu, kebersamaan di antara seluruh ciptaan harus dibina dan dibangun secara sengaja dan terencana. Dengan demikian yang dimaksudkan ”kesejahteraan” bukan hanya dimiliki manusia dalam proses pengolahan (pengusahaan) alam; tetapi dalam pengelolaan itu manusia harus menata dan menertibkan kebutuhan serta membagikan ”kesejahteraan” kepada ciptaan-Nya yang lain, sehingga lahirlah ”kerja sama” semua makhluk dalam pembangunan alam sebagai ”rumah tempat tinggal bersama” (oikomenos).

IV.5.3. ALAM SEBAGAI SARANA KEHIDUPAN

Dalam proses membangun kesejahteraan bagi dirinya, manusia tidak boleh menganggap alam sebagai musuh yang harus ditaklukan , dan harta kekayaan yang harus dihabiskan ; akan tetapi manusia harus menjungjung tinggi hubungan kemitraan (persahabatan) dengan alam dalam kasih Kristus. Demikianlah alam menjadi sahabat yang mendampingi manusia memasuki masa depan yang dijanjikan Allah.

 
 
 
ALENIA VI
Bahwa karena pembaruan Roh Kudus 1), Gereja memiliki kewajiban moral 2) untuk bersama-sama pemerintah dan bangsa-bangsa berusaha menata ekologi dan mencegah pengrusakan alam .

 

IV.6.1. PEMBAHARUAN ROHKUDUS

Dalam pengusahaan alam semesta demi mencapai kesejahteraan bersama sesama ciptaan, manusia harus memberi diri dipimpin oleh Rohkudus. Pola (patronage) pembaharuan dan pemulihan yang telah diperlihatkan Allah melalui karya Yesus kristus harus menjadi contoh bagi manusia dalam proses pengusahaan alam.

IV.6.2. KEWAJIBAN ETIS-MORAL

KEWAJIBAN ETIS-MORAL adalah seluruh pekerjaan yang dilakukan atas perintah Allah, secara sadar dan disengajakan , berdasarkan iman di dalam Yesus Kristus. Pekerjaan-pekerjaan itu didasarkan pula atas nilai-nilai spiritual, yakni : kasih dan damai sejahtera (........), keadilan dan kebenaran (.........), kesetiaan dan kasih setia (..........), dalam kaitannya dengan pengusahaan alam semesta dan pemberdayaan makhluk ciptaan Allah yang lain. Oleh karena itu, Gereja dan Warganya harus memahami panggilan dan pengutusan-Nya untuk membangun kehidupan yang terintegrasi berdasarkan kasih Allah, yang nyata dalam pekerjaan Kristus Yesus.

 
 
     
Design By Agiz Yuroskha Leonard