II.2.1. YESUS KRISTUS ADALAH TUHAN
Kesaksian Kitab Suci : Filipi 2 : 10
II.2.2. DIALAH YANG MEMANGGIL DAN MENJADI DASAR TER-BENTUKNYA UMAT YANG BARU.
| Kesaksian Kitab Suci : |
I Korintus |
3 : 11 |
| |
I Petrus |
2 : 6 - 7 |
II.2.3. GEREJA
GEREJA ADALAH SAKRAMEN ILAHI
Kristus Yesus adalah ”misteri” ilahi yang tidak kelihatan. Ia sudah ada bersama Allah. Bersama dengan Dia Allah menciptakan segala sesuatu. Dia itu FIRMAN ALLAH . Dia FIRMAN yang mengandung KUASA ALLAH . Sama seperti Allah mengucapkan FIRMAN , maka terjadilah segala sesuatu, demikian pula dalam FIRMAN - YANG - MENJADI -M ANUSIA , Allah menciptakan Gereja. Misteri Allah telah tersingkap, ketika FIRMAN - YANG - MENJADI - DAGING . Melalui FIRMAN - YANG - MENJADI - DAGING Allah berkarya memanggil dan mengihimpunkan orang-orang percaya, yang disebut: GEREJA . Demikianlah GEREJA bukan hanya tanda-tanda kehadiran KERAJAAN ALLAH ke dalam dunia, akan tetapi GEREJA juga harus dimengerti sebagai SAKRAMEN Ilahi di dalam dunia ciptaan-Nya. Hakekat Gereja tergantung pada TUHAN Allah berdasar iman kepada Kristus Yesus dan yang dipimpin oleh Rohkudus. Oleh karena itu, Gereja, pertama-tama, disebut sebagai PERSEKUTUAN ORANG-ORANG PERCAYA YANG DIHIMPUNKAN ALLAH HANYA OLEH IMAN DI DALAM KRISTUS DAN MELALUI PEKERJAAN ROHKUDUS . Dalam hal ini Gereja adalah PERSEKUTUAN ROH dan bersifat TIDAK KELIHATAN .
Akan tetapi orang-orang percaya (GEREJA) kepada Kristus Yesus itu memerlukan ”badan” yang dapat memperlihatkan aktifitasnya di dalam dunia. Oleh karena itu, ia membutuhkan perupaan organisasi ( institusi = lembaga ), sehingga seluruh aktivitas hidupnya dapat dilihat oleh dunia. Hanya melalui iman yang berkerja dalam perbuatan Gereja, yang tidak kelihatan itu, hadir di dalam sejarah bangsa-bangsa di dunia, untuk membawa tanda-tanda kehadiran pemerintahan dari Kerajaan Allah. Di sinilah Gereja melembaga, menjadi organisasi; dan disebut Gereja Yang Kelihatan .
GEREJA YANG KELIHATAN : SISTEM DAN STRUKTUR HIRARKHIS
Gereja yang kelihatan dan menampakkan diri sebagai organisasi sosial-keagamaan itu dibangun di atas dasar karya Kristus Yesus, dan ditopang oleh Rohkudus. Sebagai organisasi sosial-kegamaan Gereja hadir memberitakan dan
mengajarkan kebenaran dan anugerah Allah ke dalam kehidupan masyarakat. Gereja yang kelihatan itu bercirikan :
-
Persekutuan orang percaya yang Esa (Yoh.17:20-23), Kudus (I Pet. 2:9a) , Am (I Pet.2:9a) dan rasuli.
- Ia memiliki visi dan misi.
- Ia memiliki Panggilan dan Pengutusan yang nampak pada Tri Dharma-nya.
-
Ia merupakan sistem yang tertata rapi secara struktural hirarkhis kepemimpinan maupun fungsional (I Kor. 12:12)
-
Gereja mengambil rupa dan bentuk organisasi sosial-keagamaan untuk menampakkan Tubuh-Kristus-Yang Tidak-Kelihatan (I Kor. 12: 27; 14:25).
-
Ia adalah sebuah subsistem dalam masyarakat dan sekaligus persekutuan rohani (Efs. 4: 11-16).
- Gereja hidup dari berkat Allah.
Seluruh aktivitas yang tampak dari kehadiran organisasi sosial-kegamaan itu bertujuan untuk mempersekutukan yang kelihatan ke dalam yang tidak kelihatan, yang jasmaniah kepada yang rohaniah, dunia yang sekarang ini kepada dunia yang akan datang bersama dengan Raja Yesus.
Meskipun Gereja sadar akan keberadaannya dalam pembuangan sekarang ini, namun ia terus mengerjakan pekerjaan Allah, dengan tetap memohonkan tuntutan Rohkristus, sambil menantikan penggenapan janji Allah.
Dasar pemahaman ini dikembangkan dari arti kata SAKRAMEN . Sakramen berarti Firman Yang Dilakukan . Gagasan itu kemudian berkembang menjadi ” tanda keselamatan yang kelihatan ”; katakanlah, ketika seorang anak atau orang dewasa dibapiskan, maka hal itu memperlihatkan ” stempel, cap, meterai yang menandai dan memaknai keselamatan ” hanya oleh iman kepada Kristus Yesus. Demikian pula dengan Perjamuan. Ia adalah ” tanda ” dari kehadiran keselamatan yang nyata-nyata menghubungkan orang percaya dengan Yesus Kristus. GEREJA dapat dikatakan sebagai ” tanda-tanda spiritual ” dari karya penyelamatan Allah yang dianugerahkan kepada manusia di dalam pekerjaan Kristus Yesus. Orang-orang percaya yang bersekutu di dalam GEREJA harus menyadari, bahwa KESUCIAN (kekudusan) Allah tidak tergantung pada karya Gereja; justru sebaliknya, GEREJA tergantung pada pekerjaan Allah melalui Rohkritus yang memimpinnya. Kehadiran Rohkristus yang membuat tubuh Gereja hidup dan bergerak. Rohkristuslah yang membuat Gereja menjadi ’TANDA KESELAMATAN YANG KELIHATAN ” atau SAKRAMEN Allah di tengah dunia dan dalam masyarakat. Gereja adalah ” tanda sakramental dari Allah ” yang diberikan kepada dunia. Dia hanya dapat disebut ”sakramen Allah”, sejauh ia terus menerus memelihara dan meningkatkan hubungan kasih setia dengan Tuhan Yesus, Kepala Gereja.
GEREJA DALAM LAMBANG
Kesaksian Kitab Suci :
- GEREJA sebagai TUBUH KRISTUS
| |
Roma |
12 : 4 - 5 |
| |
I Korintus |
12 : 12, 27 |
| |
Efesus |
4 : 12 - 16 |
- GEREJA sebagai KELUARGA ALLAH
| |
Efesus |
2 : 19 |
| |
I Tim. |
3 : 15 |
- GEREJA sebagai KAWANAN DOMBA
| |
Yohanes |
10 ; bd. Yeh. 34 |
| |
Yohanes |
21 : 15 – 157 |
| |
I Korintus |
9 : 7 |
| |
Kejadian |
6 : 18 - 22 |
| |
Ibrani |
11 : 7 |
Lambang yang dipakai dalam Perjanjian baru itu menunju pada beberapa hal penting, yakni :
-
Ketergantungan hidup antara Allah dan orang-orang percaya dalam persekutuan bersama.
-
Hubungan antara orang-orang percaya di dalam persekutuan Gereja-Jemaat Kristus
-
Sistem kehidupan bersama (persekutuan = komunitas keselamatan)
GEREJA – YANG – MELEMBAGA
Salah satu tugas Gereja adalah menyatakan Keesaan Allah di dalam gerakan hidupnya. Gereja percaya, bahwa TUHAN Allah yang memanggil dan mengutusnya adalah Esa dan kudus. Dia pula yang menguduskan Gereja ( Kuduslah kamu, sebab Aku, TUHAN Allahmu, adalah kudus ). Kekudusan melekat pada sifat Kristus, Dia yang selalu bekerja melalui perantaraan Rohkudus untuk ”terus-menerus” menguduskan Gereja. Kristus Yesus-lah yang membuat Gereja itu Esa, Kudus dan rasuli. Oleh karena itu, Gereja harus ” terus-menerus ” memelihara dan mengembangkan hubungan baik dan benar dengan Tuhan, Kepala Gereja.
Yesus Kristus adalah FIRMAN - YANG - MENJADI - MANUSIA . Ia itu Allah yang mengambil rupa manusia. Dalam kemanusiaan-Nya Yesus memperlihatkan ketaatan kepada seluruh Hukum yang berlaku di dalam tatanan masyarakat Yahudi. Ia disunat pada hari ke delapan sesuai tradisi keyahudian (Luk.2:21). Ia dibaptis oleh Yohanes Pembaptis (Mat. 3:13-17; Mrk. 1:8-11; Luk. 3:21-22; Yoh. 1:32-34) . Dia sendiri berfirman :
NASKAH
" Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya . (Mat. 5:17)
Gereja tidak memberlakukan Hukum Taurat di dalam pem-bangunan tubuh Kristus. Tetapi Gereja meniru keteladanan Kristus Yesus yang setia dan taat memberlakukan kehendak Allah dalam Kitab Suci.
Keteladanan itu memberi dasar kepada Gereja, agar dapat menata dan mengatur seluruh fungsi anggota-anggota di dalam Tubuh Kristus (Gereja).Penataan dan pengaturan itu bertujuan menjamin ketertiban beribadah dalam semua aspek kehidupan manusia di dalam Gereja dan di dalam masyarakat. Oleh karena itu, Gereja yang diberikan kuasa oleh Kepalanya, yakni: Kristus Yesus, menyusun dan mengadakan TATA DASAR , PERATURAN, PERATURAN - PERATUAN, PERATURAN PELAKSANAAN DAN KEPUTUSAN - KEPUTUSAN, agar penyelenggaraan penata layanan (Yun. oikonomos – oikonomos) dapat berlangsung baik dan benar berdasarkan kebenaran Firman Allah di dalam Kitab Suci. Seluruh hirarkhi PERATURAN GEREJA harus didasarkan atas kebenaran firman Allah yang ada di dalam KITAB SUCI : Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru .
Pengadaan PERATURAN - PERATURAN GEREJA itu bertujuan :
-
Memelihara kehidupan warga Gereja sesuai dengan kehendak Allah yang terdapat di dalam Kitab Suci : Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru
-
Menata dan mengatur seluruh fungsi Warga Gereja dalam persekutuan yang melayani dan bersaksi.
-
Membangun spiritualitas Warga dan Pejabat Gereja secara baik dan benar berdasarkan kesaksian Kitab Suci; sehingga tiap-tiap Warga Gereja dapat melaksanakan Misi Kristus dalam kehidupan pribadi dan keluarga di tengah masyarakat Indonesia yang sedang membangun.
-
Menjamin keharmonisan dalam hal bekerja sama, berinteraksi dan beraksi, bersinergi sesuai dengan tata kerja yang ditetapkan dalam Persidangan Jemaat-Jemaat yang disebut juga P ERSIDANGAN S INODE .
-
Menjamin pemberdayaan SUMBER DAYA GEREJA, agar dapat menunjang dan mendukung pelaksanaan dan penyelenggaraan MISI KRISTUS (Lat. Missio Christi) di dalam pekerjaan Gereja sesuai dengan VISI yang telah ditetapkan dan diputuskan dalam tiap PERSIDANGAN SINODE dan SIDANG MAJELIS JEMAAT .
-
Menjaga kemurnian PEMBERITAAN dan PENGAJARAN Gereja sesuai dengan Injil Kristus dan Pengajaran para rasul .
-
Menjaga tertib hidup kudus dari seluruh Pejabat dan Warga Gereja sebagai orang-orang kristen yang telah diselamatkan Allah melalui Kristus Yesus .
-
Melakukan dan mengadakan pengembalaan terhadap PEJABAT dan WARGA GEREJA dalam berbagai situasi-kondisi sulit yang dihadapinya.
GEREJA-YANG-MELEMBAGA tetap dipimpin oleh Roh-kristus.
TEMPAT RASUL-RASUL DI DALAM GEREJA
Dua hal yang penting pokok, berdasarkan kesaksian Kitab Suci, perlu diperhatikan dalam proses P EMBANGUNAN (Yun. Oikodomeo) adalah :
NASKAH I
Karena tidak ada seorangpun yang dapat meletakkan dasar lain dari pada dasar yang telah diletakkan, yaitu Yesus Kristus (I Kor. 3:11)
Naskah I itu menunjuk pada HAKEKAT GEREJA yang lahir dari pekerjaan Yesus Kristus, sedangkan....
NASKAH II
yang dibangun di atas dasar para rasul dan para nabi, dengan Kristus Yesus sebagai batu penjuru (Efs. 2:20)
Naskah II menunjuk pada Proses PEMBANGUNAN GEREJA yang dilakukan di atas Pemberitaan Injil Kristus melalui Pengajaran rasul-rasul.
PENGADAAN JABATAN GEREJA
Meskipun Jabatan Gereja merupakan karunia Rohkudus (Rom 12:6-8) dan pemberian Kristus (Efs. 4:11) untuk memperlengkapi orang-orang kudus melaksanakan dan menyelenggarakan tugas pengutusannya, namun ia harus ditata, supaya berfungsi secara baik dan benar bagi PERTUMBUHAN IMAN (Efs. 5:16) dan PEMBANGUNAN TUBUH KRISTUS (I Kor. 14:5,12).
Jabatan Gereja itu bukan milik orang percaya, akan tetapi ia merupakan sarana organisasi untuk memancarkan kemuliaan Kristus Yesus. Jadi Jabatan Gereja itu, sesungguhnya, merupakan FUNGSI PELAYANAN - KESAKSIAN di dalam penata layanan GEREJA-MISI dan MISI- GEREJA.
Demi pelaksanaan pelayanan kesaksian dan penyelenggraan organisasi Gereja, rasul-rasul ”menetapkan” para D IAKEN (Yun . Diakonos – diakonox - Kis. 6:3) dan PENATUA (Yun. Presbuteros - presbuterox - Kis. 14:22; bd. Tit. 1:5). Mereka disebut DEWAN PRESBITER atau MAJELIS GEREJA . Secara institusional DEWAN PRESBITER itu merupakan representasi dari Jemaat. Dalam perkembangan organisasi Gereja di kemudian hari dipilih dari antara DEWAN PRESBITER atau MAJELIS GEREJA itu orang yang memimpin dan mengawasi pengajaran dan pemberitaan serta penata layanan Gereja. Jabatan itu disebut P ENILIK J EMAAT (Yun. Episkopos – episkopox - Uskup atau Bishop)
Episkopos ( Episkopos ), Penatua ( Presbuterox ) dan Diaken ( Diakonos ) melaksanakan penatalayanan (dalam pengertian ” memerintah, mengatur dan menata persekutuan ” Ing. Stewardship ; Yun. Oikonomos – Oikonomos ) dari persekutuan yang melayani dan bersaksi secara bersama-sama. Perihal bekerja bersama-sama atau berjalan bersama-sama itu disebut Gereja sebagai ” Presbiterial-Sinodal ”.
KEPEJABATAN DALAM GEREJA PROTESTAN DI INDONESIA BAGIAN BARAT (GPIB) MASA KINI
Kepejabatan sejak zaman para rasul mengalami perkembangan terus menerus, sehubungan dengan konteks di mana Gereja melaksanakan dan menyelenggarakan penatalayanannya.
Dari Swiss (Geneva) Negeri Belanda Indonesia , ke-pe-jabatan Gereja diambil alih secara utuh , yakni : PENDETA – PENATUA – DIAKEN. Ketiga Jabatan itu masih diberlakukan sampai hari ini di dalam Gereja. Ketiga Jabatan itu merupakan representasi dari Jemaat, yang adalah Tubuh Kristus.
PRESBITERIAL -SINODAL SEBAGAI PRINSIP DAN FUNGSI
Pada Alenia 3 tentang GEREJA pada sub-bahasan : GEREJA YANG KELIHATAN – SISTEM DAN STRUKTUR HIRARKHIS perlu mendapat penjelasan khusus.
SISTEM PEMERINTAHAN
TEOKRASI – KRISTOKRASI
SISTEM TEOKRASI DALAM PERJANJIAN LAMA
Teokrasi adalah salah satu sistem masyarakat. Istilah TEOKRASI berasal dari Bahasa Yunani : THEOS ( Allah ) + KRATOS ( Pemerintahan ) = Pemerintahan Allah . Pemahaman tentang Pemerintahan Allah itu bertumbuh dan berkembang subur dalam budaya dan religi Perjanjian Lama.
Pada sistem TEOKRASI ini TUHAN Allah adalah Raja alam semesta. TUHAN Allah juga adalah RAJA Israel. Raja Israel dipahami sebagai ANAK ALLAH , yang mewakili Bapanya memerintah Israel ( Maz. 2 , khususnya ay. 7 ).
Sejarah MONARKHI Israel baru betrtumbuh pada Abad IX seb. Masehi, ketika orang Israel mendesak Samuel (Hakim dan Nabi) untuk memberikan kebebasan mereka memilih raja seperti yang dilkukan bangsa-bangsa sekitarnya (I Sam. 8:4-7) . Allah menyetujui permintaan umat Israel (I Sam. 8:22).
Akan tetapi Allah sendirilah yang memilih dan menentukan Raja Israel. Hal itu dikarenakan Israel adalah milik Allah. Israel dibentuk dan dijadikan Allah. Raja memiliki hak-hak terbatas. Ia tunduk dan harus melakukan seluruh perintah (kehendak) Allah, jika ia melawan, Allah akan mengambil kembali tanggung jawab dan wewenang yang diberikan kepadanya.
SISTEM KRISTOKRASI DALAM PERJANJIAN BARU
RAJA Israel, menurut penulis-penulis Perjanjian Baru, adalah bayangan ke depan dari sesuatu yang akan diciptakan Allah pada masadepan baru a) . Pemahaman seperti itu ditafsirkan dan dirumuskan secara baru oleh penulis-penulis Perjanjian Baru berdasarkan nubuat nabi-nabi dalam Perjanjian Lama tentang kedatangan RAJA MESIAH b) yang dijanjikan Allah.
Berdasarkan Pemahaman Iman Gereja dan dalam Pengakuan Iman bersama seluruh Gereja di segala abad dan di setiap tempat, Gereja menghayati kesaksian Kitab Suci Perjanjian Lama, bahwa F IRMAN -Y ANG -M ENJADI- D AGING ialah TUHAN Allah sendiri, sebagaimana disaksikan penulis-penulis Kitab Suci Perjanjian Baru. F IRMAN -Y ANG -M ENJADI- D AGING itu disapa dan disebut Yesus Kristus. Dia telah lahir, disalibkan, mati dan dikuburkan, dibangkitkan Allah dan kembali ke dalam kemuliaan surgawi serta memerintah di dalam Kerajaan Allah sampai waktu ditetapkan Allah untuk datang kembali ke dunia. Paulus menyatakan Yesus Kristus itulah Kepala Jemaat-Gereja (Efs. 1:22; 4:15; Kol. 1:16) .
Pemberitaan dan pengajaran para rasul yang dirumuskan dalam Pengakuan Iman : ”Yang telah naik ke Surga, duduk di sebelah kanan Allah , Bapa Yang Mahakuasa...” (Rom.8:34; Efs.1:20; Kol.3:1; I Pet. 3:22) menjadi alasan kuat bagi Gereja, untuk menetapkan dan meneguhkan keyakinannya, bahwa Kristus Yesus sedang memerintah selaku Raja di dalam Kerajaan Allah. Pernyataan pengakuan bersama Gereja-Gereja sejak Abad III –IV Masehi, bahwa Y ESUS K RISTUS adalah R AJA yang memerintah di dalam kerajaan surga dan di atas bumi. Pemerintahan itu disebut Gereja sebagai K RISTOKRASI (Pemerintahan Kristus). Oleh karena Dia, Yesus Kristus, Allah telah mengutus Roh-Nya ke dalam Gereja-Jemaat yang adalah Tubuh-Nya. Di dalam Gereja-Jemaat selaku Tubuh-Nya, Yesus Kristus menjalankan pemerintahan-Nya melalui Pejabat-Pejabat Gereja-Jemaat, yang merupakan representasi tetap dari Tubuh Kristus yang kelihatan (organisasi sosial-keagamaan).
KERAGAMAN PEMERINTAHAN GEREJA
Bertolak dari penafsiran ayat-ayat Kitab Suci, Gereja Kristus di seluruh dunia memilih dan menetapkan corak dari sistem pemerintahannya sesuai Ketetapan Persidangan Gerejanya. Corak dari sistem pemerintahan Gereja dapat dikategorikan ke dalam 3 kelompok, yakni :
- Sistem Pemerintahan Gereja yang bercorak EPISKOPAL
- Sistem Pemerintahan Gereja yang bercorak PRESBITERIAL -SINODAL , dan
- Sistem Pemerintahan Gereja yang bersifat KONGREGASIONAL .
Masing-masing Sistem Pemerintahan Gereja itu memiliki latar belakang sejarah pertumbuhannya sendiri.
PRESBITERIAL SINODAL
Sistem Pemerintahan Gereja bercorak P RESBITERIAL- S INO-DAL bertumbuh dalam sejarah Gereja bersamaan dengan P EMBANGUNAN O RGANISASI J EMAAT A BAD P ERTAMA . Presuposisi Gereja sebagai dasar pengembangan gagasan teologi tentang sistem tersebut berlatar belakangkan :
- BENTUK GEREJA SEBAGAI TUBUH KRISTUS
TUBUH RISTUS merupakan istilah yang digunakan secara metapora dalam kekristenan Abad I menunjuk
Orang-orang Kristen yang percaya mengakui dan menerima kehadiran Allah di dalam nama Yesus Kristus untuk menjalankan pekerjaan penyelamatan atas manusia dan alam semes-ta. Pekerjaan keselamatan itu tampak sejak kelagirannya sampai Dia kembali ke dalam kemuliaan dan duduk di sebelah kanan Allah, Bapa yang Mahakuasa.
Secara khusus istilah ”tubuh Kristus” itu muncul dalam seluruh tradisi Jemaat Abad I untuk melambangkan persekutuan dengan Yesus Kristus. Persekutuan bersama Tuhan Gereja dirayakan dalam sakramen Perjamuan. Di dalam peristiwa itu, gereja-jemaat mengenang kembali kematian-kebangkitan Yesus Kristus.
Hal itu bergema dalam ucapan pelayan Firman yang mengutip tradisi Gereja sebagai berikut :
Dan ketika mereka sedang makan, Yesus mengambil roti, mengucap berkat, meme-cah-mecahkannya lalu memberikannya ke-pada murid-murid-Nya dan berkata : "Ambillah, makanlah, inilah tubuh-Ku." (Matius 26:26)
Dan juga dalam tulisan Paulus kepada Jemaat Allah di Korintus (I Kor. 11 : 24)
Ia mengucap syukur atasnya; Ia memecah-mecahkannya dan berkata: "Inilah tubuh-Ku, yang diserahkan bagi kamu; perbuat-lah ini menjadi peringatan akan Aku !"
Roti yang dimakan itu adalah ”tanda” yang memaknai pengorbanan Yesus Kristus. Roti itu akan bermakna spiritual, jika orang-orang kristen yang percaya dan makan bersama itu menghayati berdasarkan iman akan karya Kristus Yesus. Roti itu hanya sarana dan wacana spiritual untuk memeasuki persekutuan dengan Kristus. Dalam hal ini Gereja menganut pemahaman Konsubtansial tentang dua sakramen yang ditetapkan Tuhan Yesus.
Perbuatan makan bersama dari roti itu dihayati sebagai perbuatan dari orang-orang kristen yang percaya menghayati persekutuan dengan Yesus Kristus, Tuhan dan Kepala Gereja.
PERJAMUAN ESKATOLOGIS
Perjamuan Kudus memiliki nuansa masade-pan yang terbentang luas sampai kedatangan Kristus kembali. Hal itu bergema dalam ucapan Yesus Kristus :
Akan tetapi Aku berkata kepadamu: mulai dari sekarang Aku tidak akan minum lagi hasil pokok anggur ini sampai pada hari Aku meminumnya, yaitu yang baru, ber-sama-sama dengan kamu dalam Kerajaan Bapa-Ku ." (Mat. 26:29)
Dalam spiritualitas yang diberikan Kristus, Jemaat-Gereja menghayati Perjamuan Kudus sebagai perbuatan suci yang harus dilakukan berulang-ulang sebagai tanda dan lambang peringatan akan kematian-kebangkitan Tuhan-nya.
PERJAMUAN DAN MISI GEREJA
Pada sisi lain, Jemaat-Gereja memahami ” per-buatan suci yang dilakukan berulang-ulang ” itu sebagai bagian tidak terpisahkan dari tugas pengutusan untuk memberitakan Kristus Yang Tersalib. Pandangan itu muncul dalam tulisan Paulus :
Sebab setiap kali kamu makan roti ini dan minum cawan ini, kamu memberitakan kematian Tuhan sampai Ia datang (I Korintus 11 : 26)
Perbuatan makan roti bersama dari orang-orang kristen yang percaya itu, bukan saja mengenang akan pekerjaan Yesus Kristus, tetapi juga menghayati pemberian spiritual Kristus ke dalam persekutuan, agar mereka dapat memberitakan dan mengajarkan kema-tian dan kebangkitan Yesus Kristus.
Mengalir dari pemahaman di atas Jemaat-Gereja memahami dirinya sebagai persekutuan yang esa dengan Tuhannya. Persekutuan itu disebut TUBUH KRISTUS. Tradisi itu muncul dalam tulisan Paulus :
| Kesaksian Kitab Suci : |
1. Kolose |
1 : 18 |
| |
2. Efesus |
1 : 23 |
Naskah 1
Ialah kepala tubuh , yaitu jemaat . Ialah yang sulung, yang pertama bangkit dari antara orang mati, sehingga Ia yang lebih utama dalam segala sesuatu . (Kolose 1 : 18)
Naskah 2
Jemaat yang adalah tubuh-Nya , yaitu kepenuhan Dia, yang memenuhi semua dan segala sesuatu . (Efesus 1 : 23)
TUBUH KRISTUS adalah sebuah istilah, yang dipakai secara metapa, untuk menunjuk pada persekutuan orang-orang Kristen yang perca-ya, yang disebut : Jemaat-Gereja. Sebutan itu pada Abad I digunakan terkait erat dengan Jemaat Lokal. Mereka juga adalah mempelai Kristus, yang kepadanya Kristus berjanji akan kembali.
Jemaat-Gereja itu bersifat esa, sama seperti roti yang satu melambangkan Tubuh Kristus. Mereka adalah orang-orang yang berkumpul, percaya dan mengasihi Yesus serta melalui pimpinan Rohkristus mereka saling mengasihi.
MENJADI SATU PERSEKUTUAN
Gereja dipanggil Allah melalui karya Yesus Kristus untuk menjadi satu persekutuan, yakni tubuh-Nya.
UNTUK MELAKSANAKAN PELAYANAN
Persekutuan orang-orang Kristen yang dipanggil itu diutus-Nya ke dalam dunia untuk melayankan Injil Kristus dalam bentuk pelayanan kasih (PEL-KAS) di tengah jemaat dan pelayanan kemasyarakatan (PEL-KES).
UNTUK BERSAKSI DAN MENGAJAR
Persekutuan orang-orang kristen yang dipanggil itu diutus-Nya untuk memberitakan kebenaran Injil Kerajaan Allah dan mengajarkan kepada dunia, bahwa YESUS KRISTUS itu Allah yang telah datang menjadi Juruselamat manusia. Pemberitaan itu dilaksanakan dalam beragam bentuk, termasuk pengajaran agama kristen.
Ketiga hal itu disebut Gereja sebagai TRI-DHARMA GEREJA.
- BENTUK GEREJA SEBAGAI KELUARGA ALLAH
Kesaksian Kitab Suci PL :
| a). |
MASA DEPAN BARU |
Yesaya |
43 : 19 |
| |
|
Yesaya |
65 : 17 |
| |
|
Yesaya |
66 : 22 |
| b). |
IMANUEL |
Yesaya |
7 : 14 |
| |
RAJA DAMAI |
Yesaya |
9 : 5 |
| |
TUNAS ISAI |
Yesaya |
11 : 1 – 10 |
| |
RAJA KEADILAN |
Yesaya |
32 : 1 - 8 |
Nubuat-nubuat nabi itu menunjuk pada pekerjaan Allah menciptakan masa depan baru, di mana Dia sendiri yang memerintah di dalamnya.
Penyataan Allah pada peristiwa Baptisan Yesus (Mat.3:17) : ” Inilah Anak-Ku yang Kukasihi (Mz.2:7) kepadanya Aku berkenan (Yes. 42:1) bergema dalam Pengakuan Petrus (Mat. 16:18 ) : ” Engkaulah Mesiah, Anak Allah Yang Hidup ”. Pembap-tisan Yesus tidak menunjuk pada pertobatan , sebagaimana dipahami tentang Baptisan Yohanes. Pembaptisan Yesus membuka makna baru dalam kerangka penyelamatan Allah :
-
YESUS itu ANAK ALLAH (Maz. 2:7). Dialah RAJA Sejati yang mengatasi segala raja dan penguasa dunia (I Tim. 6:15; Why. 17:14; 19:16). Dia adalah KUASA ALLAH (Kis. 8:10b)
-
YESUS itu JURUSELAMAT (Luk. 2:11; Yoh. 4:42; Kis. 5:51; 13:23; Flp. 3:20; 2 Tim. 2:3;Tit. 3:6; I Yoh. 4;14)
-
Demi menjalankan penyelamatan atas manusia bermasalah, Yesus Kristus telah ” mengosongkan diri-Nya ” (Flp. 2:6-7) menjadi sama seperti manusia (Yoh. 1:14) menjadi hamba yang menderita di kayu salib (Flp :8, bd. Yes.52:13-53:12) .
KRISTUS YESUS MEMBERI KUASA KEPADA GEREJA
1. ALLAH MEMBERI Exousia KEPADA YESUS
Kesaksian Kitab Suci :
" Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi (Mat. 28:19)
Kata KUASA ( exousia - exousia ) menunjuk pada pemberian hak dan kekuasaan kepada Yesus untuk melakukan sesuatu pekerjaan (tindakan) demi mewujudkan rencana penyelamatan Allah. Exousia Yesus itu tampak dalam keputusan-Nya mengampuni dosa (Mrk. 2:10), mengusir setan (Mrk. 3:15), dan mengajar ( Mat. 7:9; Mrk. 11:8; Luk. 4:16) . KUASA itu, exousia , tidak dapat dipisahkan dari kehadiran Kerajaan Allah yang dibawa-Nya. Dalam kehadiran-Nya, Yesus membuktikan Kerajaan Allah sedang datang dan bekerja di antara manusia (Mrk. 1:14-15).
2. YESUS MEMBERI Exousia KEPADA GEREJA
Gereja adalah orang-orang percaya yang telah dipanggil masuk ke dalam persekutuan hidup bersama Allah. Panggilan itu disampaikan Yesus kepada semua orang. Kepada persekutuan orang-orang percaya itu (Gereja) Yesus memberi KUASA, exousia , agar ia dapat melanjutkan ” pekerjaan Dia ” (Yoh.9:4) . Dengan kata lain, Yesus memberikan KUASA -Nya, agar Gereja dapat melanjutkan Misi-Nya.
Matius 28:19 perlu dipahami dari latar belakang yang diuraikan di atas. Jika KUASA , exousia , itu dihubungan dengan Gereja, maka hal itu harus dimengerti dalam relasi khusus antara Yesus, selaku Kepala (dari Tubuh-Nya yang menerima kuasa dari Yesus (Yoh.1;12). Tuhan Yesus juga memberikan KUASA kepada para rasul (2 Kor. 10:8), tetapi mereka harus memakainya secara bertanggung jawab (bd. Mrk. 13:34;1 Kor. 9:4 ff).
3. Exousia DIBERIKAN KEPADA TIAP ORANG PERCAYA DALAM PERSEKUTUAN DENGAN KRISTUS DAN GEREJA
Perjanjian Baru menyoroti pemberian exousia kepada tiap orang percaya lebih terkait dengan KEBEBASAN (1 Kor. 6:12; 8:9; 10:23).
Secara khusus Paulus memakai kata exousia itu bukan dalam arti yang sama seperti digunakan pada konsep filsafat Yunani. Dalam pandangan Paulus, exousia itu harus digunakan orang percaya dengan mengingat dua hal : pertama , kepatutan (pertimbang-an etis sesuai dengan iman) hidup sebagai orang-orang yang telah diselamatkan; kedua , peberdayaan exousia harus dilihat dari hukum manfaatnya. Apakah exoxus , pemberian Allah itu telah dipergunakan untuk membangun persekutuan ataukah tidak.
KUASA DIBERIKAN KEPADA PEJABAT MELALUI GEREJA
Dasar Pemahaman Teologis :
Dalam pemahaman Gereja mengerti, tidak seorang pun dapat melakukan Misi Yesus terpisah dari apa yang sedang dan akan dikerjakan Gereja. Tidak seorang pun diberikan hak organisasi untuk ”mentahbiskan” dan atau ”meneguhkan” dirinya sendiri diluar kewibawaan Gereja selaku Persekutuan (Kis.15:25). Di sinilah orang percaya, yakni: Warga Gereja memahami makna PANGGILAN INSTITUSIONAL dari tiap Pejabat Gereja.
|