Home
  Sambutan
  Sejarah
  Profil
  Pemahaman Iman
  Laporan Dana
  Contact Us
 
   
 
 
 
 
 
 
Penjelasan Pemahaman Iman
>> Keselamatan
>> Gereja
>> Manusia
>> Alam dan Sumber Daya
>> Negara dan Bangsa
>> Masa Depan
>> Firman Allah
 
 
     
 

PENJELASAN – PENJELASAN

TENTANG

PEMAHAMAN IMAN

 
     
 

II

GEREJA

     
 
 
ALENIA I
Bahwa Allah Bapa telah memanggil dan menghimpun 1) dari antara bangsa - bangsa suatu umat 2) bagi Diri-Nya untuk menjadi berkat 3).

 

II.1.1 MEMANGGIL DAN MENGHIMPUN

Menurut Gereja, Panggilan Allah tidak dapat dilihat secara terpisah dari rencana penyelamatan yang sudah ditetapkan-Nya sejak sebelum dunia diciptakan.

Panggilan itu dimulai sejak Allah menciptakan manusia di Taman Eden dan memberikan ”mandat” kepadanya untuk menjalankan (melanjutkan) karya keselamatan. Akan tetapi manusia (Adam-Hawa) memberontak melawan kedaulatan Allah, hingga Allah menghukum manusia dan keturunanya.

Kegagalan Adam-Hawa sebagai ” agen keselamatan ” tidak dapat menggagalkan rencana Allah. Allah melanjutkan panggilan -Nya kepada Abraham dan mengikat perjanjian kasih karunia untuk mendatangkan berkat bagi bangsa-bangsa (Kej. 12:1-3). Melalui keturunan Abrahamlah Allah melaksanakan rencana-Nya.

Panggilan-Nya itu tampak dari keputusan-Nya memilih (Yes. 41:8) Israel menjadi hamba TUHAN (baik secara individual maupun kolektif) yang melaksanakan maksud penyelamatan (Yes. 42:6 Aa; 44:21) , membentuk (Yes.43:7; 44:24) Israel menjadi perjanjian dan terang bagi umat manusia (Yes. 42:6b), menghimpunkan Israel dari timur dan barat, dan utara (Yes. 43:5) menjadi saksi-saksi-Nya (Yes. 43:10a, 21; 44:8b) .

Akan tetapi dalam perjalanan sebagai hamba TUHAN dan saksi-saksi-Nya, Israel telah gagal melaksanakan dan menyelenggarakan Ibadah-nya. Oleh karena itu, Allah menghukumnya.

Allah tidak pernah gagal melaksanakan Firman yang telah disambaikan utusan-utusannya (Yes. 44:26). Pada ”akhir zaman” { Istilah ”akhir zaman” yang digunakan dalam konteks Nabi-Nabi tidak menunjuk pada ”masa pourosia Yesus”, melainkan menunjuk pada ” waktu TUHAN ” (Yun. Kairos)} di mana Allah sendiri akan bertindak melaksanakan penyelamatan, sebab manusia yang dipanggil dan dipilih (baik secara individual maupun kolektif) telah gagal melakukannya. Dengan tegas Allah menyatakan :

NASKAH

”Aku membuat sesuatu yang baru, yang sekarang sudah tumbuh,... (Yes. 43:19). Aku mengabarkan kepadamu hal-hal baru dari sejak sekarang, dan hal-hal yang tersimpan yang belum kauketahui. Baru sekarang hal-hal itu diciptakan dan bukan dari sejak dahulu.... (Yes. 48:6-7). Sesungguhnya Aku menciptakan langit yang baru dan bumi yang baru; hal-hal dahulu tidak akan diingat lagi, dan tidak akan timbul lagi dalam hati (Yes. 65:17; bd.II Kor. 5:17; Why. 22:5) . Sebab sama seperti langit yang baru dan bumi yang baru, yang akan kujadikan itu.... (Yes. 66:22).

Allah sendiri yang berinisyatif untuk ”membarui” dan ” memulihkan ” keadaan ciptaan-Nya. Hal itu dimengerti dan dihayati, dipahami dan diakui (melalui konfesi dan kredo) Gereja, bahwa Allah melanjutkan pekerjaan selamat-Nya di dalam dan melalui Yesus Kristus. Perjanjian Baru memberikan kesaksian :

NASKAH

”Hal itu terjadi supaya genaplah yang difirmankan Tuhan oleh nabi : ”Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan meereka akan menamai Dia : Immanuel” (Mat. 1:23; bd. Yes. 7:14).

Kata kerja ” genap ” menunjuk pada kehendak Allah yang menyempurnakan segala karya-Nya dalam sejarah Israel. ’Waktu-Nya sudah genap ”: atinya, WAKTU yang ditentukan Allah untuk menuntaskan pekerjaan sudah tiba. Waktu penyelamatan itu tidak dapat ditangguh lagi. Allah sendirilah yang melakukannya.

Jadi Gereja memahami dan mengakui, bahwa Allah telah menghadirkan Diri-Nya di dalam ” keberadaan ” Manusia-Allah: Yesus Kristus. Oleh sebab itu Paulus menuliskan :

NASKAH

Segala lidah akan mengaku: Yesus Kristus adalah Tuhan bagi kemuliaan Allah Bapa (Flp. 2:11).

Pengakuan itu muncul karena pengalaman iman Jemaat (baik secara individual maupun kolektif) dalam perjalanan bersama Yesus Kristus. Rasul petrus menyatakan dalam khotbahnya :

NASKAH

”Jadi seluruh kaum Israel harus tahu dengan pasti, bahwa Allah telah membuat Yesus, yang kamu salibkan itu, menjadi Tuhan dan Kristus.” (Kis. 2:36)

Dan lagi dikatakannya :

NASKAH

”Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia (bd. Luk.2:21) yang olehnya kita dapat diselamatkan (Kis. 4:12)

PANGGILAN DAN PENGUTUSAN ALLAH ATAS MANUSIA

Penjelasan di atas mengantar Gereja kepada dua aspek PANGGILAN ALLAH :

  • PANGGILAN BATHIN
  • PANGGILAN INSTITUSI

Ad.1. PANGGILAN BATHIN

Allah dalam kasih-Nya yang besar dan tiada tara telah memanggil semua orang dari berbagai suku-bangsa, seperti yang ditulis oleh Lukas :

NASKAH

orang akan datang dari Timur dan Barat dan dari Utara dan Selatan dan mereka akan duduk makan di dalam Kerajaan Allah. (Luk. 13:29; bd. Yes. 51:5).

Panggilan itu disampaikan kepada semua orang melalui dan di dalam kehadiran Yesus Kristus. Dia memulai dengan mengajak para murid, kata-Nya :

NASKAH

”Mari, ikutlah Aku...”(Mat.4:19)

Matius mencatat respons positif dari orang-orang yang dipanggil itu :

NASKAH

”mereka segera meninggalkan..., ayahnya lalu mengikuti Dia” (Mat. 4:22)

Sikap ” meninggalkan ” adalah respons positif dari tiap individu yang mendengar dan mengambil keputusan untuk mengikuti Suara Tuhan. Sikap itu menunjukkan bahwa Roh Allah bekerja di dalam hati dan pikiran, akalbudi dan roh manusia untuk tanggap dan segera bertindak mengikuti ajakan Tuhan.

Demikianlah Gereja memahami: orang-orang yang mengakui percaya itu berhimpun menjadi satu persekutuan hidup bersama Tuhan . Mereka itu dijuluki orang : ” Kristen ”, sebab mereka memi-kul nama Kristus selaku Tuhannya (Kis. 11:26) dan selalu bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan, berdoa dan memecah-mecahkan roti (Kis.2;42). Orang-orang yang baru percaya itu ’tetap bersatu” (Kis.2:44). ”Mereka sehati dan sejiwa” (Kis.4:32) dalam persekutuan.

Persekutuan orang-orang percaya yang dipang-gil oleh Allah (I Pet. 2:9-10) itu disebut Jemaat Allah . Persekutuan orang- orang percaya yang dipanggil oleh Allah itu semakin hari bertambah besar jumlahnya (Kis.2:41). Mereka bertekun mempelajari kebenaran Firman Allah yang diajarkan rasul-rasul. Dari situlah Jemaat-Gereja semakin berkembang sesuai dengan tingkat pertumbuhan spiritualnya.

DASAR GEREJA

Atas bimbingan rasul-rasul orang-orang percaya membangun sistem persekutuan, pelayanan dan kesaksian di atas dasar karya Kristus Yesus , sebagaimana Rasul Paulus menuliskan :

NASKAH

”Karena tidak ada seorangpun yang dapat meletakkan dasar lain dari pada dasar yang telah diletakkan, yaitu Yesus Kristus” (IKor. 3:11)

Hal itu didasarkan atas pernyataan Tuhan Gereja:

NASKAH

Dan Akupun berkata kepadamu: Engkau ada-lah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya. (Mat.16:18)

PENGAKUAN GEREJA

Sepanjang perjalanannya Gereja-Jemaat hadir untuk memberitakan dan mengajarkan penga-kuan imannya tentang Yesus Kristus selaku :

NASKAH

” Mesias, Anak Allah yang hidup!" (Mat.16:16),

Dia adalah : ” Jalan, kebenaran dan hidup (Yoh. 14:6). Karena permohonan-Nya Allah telah memberikan Roh kudus (Yoh.14:5; Kis. 1:8). Rohkudus-lah yang menuntun orang untuk mengakui Kristus itu Tuhan (I Kor 12:3) serta membuat setiap orang percaya menyapa Allah selaku Bapa (Rom. 8:15; Gal. 4:6). Rohkudus itulah yang akan ”mengajarkan segala sesuatu dan mengingatkan semua yang telah (Yoh. 14:25) Kristus katakan kepada gereja melalui pejabat-pejabatnya (rasul-rasul).

KESELAMATAN ADALAH ANUGERAH ALLAH OLEH IMAN

Gereja meyakini penuh, bahwa Allah di dalam dan melalui Kristus Yesus telah menganuge-rahkan keselamatan secara cuma-cuma kepada manusia di dalam dunia (Yoh. 3:16). Keselamatan itu diterima hanya oleh iman kepada Yesus Kristus dan bukan karena manusia melakukan perbuatan baik { Gal. 3:12-14 --- (bacalah gagasan Yohanes Calvin tentang SOLAFIDE, SOLA GRATIA dan SOLA SCRIPTURA dalam bukunya: INSTITUTIO , juga tulisan Agustinus Areilus Bishop dari Hippo dalam bukunya : CONFFESIO ) menurut hukum Taurat maupun Hukum moral yang lain}. Dengan demikian Gereja menolak segala bentuk ajaran yang mengatakan, bahwa moralitas yang baik akan menjadi jaminan keselamatan manusia sejak saat ini maupun sesudah mati.

MANUSIA BARU DI DALAM KRISTUS

Rohkudus yang sama itu pula membaharui ”roh” dan ” pikiran ” orang percaya (Efs.4:23; bd.Yeh. 36:25-27) secara terus menerus (Kol. 3:10) men-jadi ” ciptaan baru (II Kor. 5:17). Dia menuntun orang percaya menanggalkan manusia dengan karakter yang lama dan mengenakan karakter yang baru (Gal. 5:22).

KARUNIA ROHKUDUS DAN JABATAN GEREJA

Rohkudus yang membaharui orang percaya secara terus menerus dan memimpinnya dalam satu persekutuan, mengaruniakan kepada mere-ka ” karunia-karunia rohani (I Kor.12:4,11,13;Rom. 12:6-8) untuk kepentingan bersama ( I Kor.12:7) demi pembangunan Gereja selaku Tubuh Kristus (I Kor. 14:5, 12,17) .

Karunia-karunia rohani itulah yang menjadi dasar pengembangan Jabatan-Jabatan Gerejawi (Efs. 5:11 rasul, nabi, pemberita injil dan gembala ). Jadi Gereja memahami dan mengakui, bahwa Jabatan-Jabatan Gerejawi diadakan untuk melak-sanakan dan menyelenggarakan pelayanan-kesaksian dari persekutuan orang-orang percaya , yang disebut Gereja-Jemaat selaku Tubuh Kristus .

PEMILIHAN DAN PENGISIAN JABATAN GEREJA

Sekalipun proses pengadaan dan pengisian keanggotaan Pejabat Gereja dilakukan melalui cara pemilihan, namun berdasarkan kesaksian Alkitab tentang Firman Kristus :

NASKAH

Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu (bd. Yoh.6:70-a). Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, ... (Yoh. 15:16).

Jadi melalui ” pemilihan jemaat ” Rohkristus beker-ja ” menetapkan (Tit. 1: 5) orang-orang percaya di dalam Gereja-Jemaat untuk mengisi Jabatan-Jabatan Gerejawi.

Kesaksian Kitab Suci :

Tentang PEMILIHAN

  Keluaran 18 : 13 – 26
  Bilangan 1 : 16
  Kisah 1 : 15 – 2

Tentang PENETAPAN JABATAN GEREJA

  I Korintus 12 : 28
  Efesus 4 : 11
  Markus 3 : 14
  Titus 1 : 5
  Kisah 14 : 22
  2 Tim. 1 : 11

PENGERTIAN TENTANG GEREJA

Istilah Gereja berasal dari bahasa Portugal ” Igreya ”. Melalui proses asimilasi bahasa ia masuk ke dalam perbendaharaan Bahasa Indonesia menjadi : GEREJA. Sementara itu ada beberapa istilah yang digunakan di dalam Alkitab (Perj. Lama dan Perj.Baru) untuk menerangkan : apakah yang dimaksudkan dengan Gereja. Oleh karena penggunaan istilah-istilah itu penting, maka perlu diadakan penjelasan. Istilah itu sebagai berikut :

  • EKKLESIA
  • KURIA
  • SYNAGOGE

Meskipun istilah-istilah tersebut berasal dari budaya filsafat Yunani, gereja mengambil alih dan ” membaptiskan ”-nya dan untuk menjelaskan pe-mahaman iman gereja tentang karya Allah yang menyelamatkan.

1. GEREJA : EKKLESIA

Ekklesia berasal dari Bahasa Yunani. Ia terdiri darui dua patah kata yang membentuk sebuah kata majemuk jadian, yakni :

  • Ek = keluar
  • Kaleo = memanggil

Ekklesia (tulis : ekklesia ) berarti : ” me-manggil keluar ”. Petrus menggunakan istilah itu menekankan aspek spiritual (I Pet. 2:9c).

EKKLESIA DALAM GAGASAN YUNANI

Istilah ” ekklesia ” itu sudah digunakan dalam budaya masyarakat Yunani untuk menunjuk pada ” kelompok orang dalam masya-rakat. Mereka memiliki kemerdekaan (kebebasan); dan karena itu juga memiliki status serta hak sosial khusus secara juridis-formal (hukum) .” Kelom-pok ini terdiri dari penduduk asli maupun pendatang.

EKLESIA DALAM GAGASAN TEOLOGI KITAB SUCI

Paulus mengunakan ” Eklesia ” menunjuk pada ” orang-orang percaya, yang dimerde-kakan Allah hanya oleh iman kepada Yesus Kristus ”. Pada saat mereka mengaku percaya, mereka beralih status dari ” hamba ” menjadi ” orang merdeka (ekklesia)”.

Ad.2. PANGGILAN INSTITUSI

Untuk melaksanakan dan menyelengga-rakan Misi-Nya, Gereja berjumpa dengan konteks masyarakat. Ia meminjam dan ” membaptiskan( membersihkan dan mengisi pemahaman baru ) bentuk kelembagaan sosial yang dipakai masyarakat untuk mencapai tujuan Gereja.

Sejalan dengan SISTEM PEMERINTAHAN GEREJA yang dipilihnya, Persidangan Gereja memberi wewenang penuh kepada Majelis Sinode pada tingkat sinodal merealisasikan PANGGILAN DAN PENGUTUSAN orang-orang pilihan-Nya. Majelis Sinode mewakili Persekutuan Jemaat-Jemaat MEMANGGIL orang-orang yang telah menyelesaikan PENDIDIKAN TEOLOGI untuk mengemban PENGUTUSAN TUHAN Allah dalam wilayah pelaanannya

PANGGILANDAN PENGUTUSAN diproses melalui pentahapan dan persyaratan sejak :

  • Penerimaan
  • Menjalani masa pra vikariat
  • Masa Vikariat sesuai waktu yang ditetapkan,
  • Pengangkatan dan Pentahbisan selaku Pelayan Firman dan Sakramen,
  • Pemutasian ke wilayah pelayanan Gereja.

Majelis Sinode sebagai Pimpinan Sinodal berhak mengangkat, menetapkan, mem-berhentikan sementara dan tetap Pelayan Firman dan Sakramen yang dengan nyata-nyata ditemukan melanggar aturan-aturan Gereja.

I.1.2.UNTUK MENJADI BERKAT

Abraham bukan seorang Yahudi. Ia berasal dari Ur-Kasdim. Allah memanggilnya untuk merealisasikan rencana penyelamatan atas semua bangsa. Abraham taat dan setia mengikuti panggilan Allah. Allah mengikat perjanjian dengan Abraham dan keturunannya. Dan, melalui panggilan Abraham, Allah memberkati semua kaum di muka bumi.

Gereja memahami sikap iman Abraham dalam konteks yang baru. Gereja menghayati PANGGILAN DAN PENGUTUSAN sebagai prototipe Gereja dalam Perjanjian Lama. Hal itu dilatar belakangi kehidupan orang percaya yang beragam : ras, sosial, budaya, pendidikan dan statusnya. Orang-orang percaya yang bersekutu di dalam Gereja itu bukanlah keturunan Abraham secara lahiriah, melainkan Gereja menempatkan dirinya berdasarkan iman kepada Allah di dalam nama Kristus Yesus. Sama seperti sikap iman Abraham, demikian pula orang-orang percaya memperlaku-kan dirinya di hadapan Allah yang memanggil.

Panggilan, sebagaimana diyakini Gereja (orang-orang percaya), memiliki dua aspek : untuk menerima anugerah keselamatan berdasarkan janji Allah dan untuk membawa berkat itu ke dalam kehidupan manusia dan alam semesta (Mrk.16:15; I Pet. 3:9) .

Trench R C, SYNONIMS OF THE NEW TESTAMENT , Studies in The Greek New Testament, Erdmans Publishing Co, Grand Rapids – Michigan , 1983, p. 1

 
     
 
ALENIA II
Bahwa panggilan itu dilanjutkan melalui Anak-Nya, yaitu Yesus yang adalah Tuhan 1). Dialah yang memanggil dan menjadi dasar 2) terbentuknya umat yang baru , yaitu Gereja 3).

 

II.2.1. YESUS KRISTUS ADALAH TUHAN

Kesaksian Kitab Suci : Filipi 2 : 10

II.2.2. DIALAH YANG MEMANGGIL DAN MENJADI DASAR TER-BENTUKNYA UMAT YANG BARU.

Kesaksian Kitab Suci : I Korintus 3 : 11
  I Petrus 2 : 6 - 7

II.2.3. GEREJA

GEREJA ADALAH SAKRAMEN ILAHI

Kristus Yesus adalah ”misteri” ilahi yang tidak kelihatan. Ia sudah ada bersama Allah. Bersama dengan Dia Allah menciptakan segala sesuatu. Dia itu FIRMAN ALLAH . Dia FIRMAN yang mengandung KUASA ALLAH . Sama seperti Allah mengucapkan FIRMAN , maka terjadilah segala sesuatu, demikian pula dalam FIRMAN - YANG - MENJADI -M ANUSIA , Allah menciptakan Gereja. Misteri Allah telah tersingkap, ketika FIRMAN - YANG - MENJADI - DAGING . Melalui FIRMAN - YANG - MENJADI - DAGING Allah berkarya memanggil dan mengihimpunkan orang-orang percaya, yang disebut: GEREJA . Demikianlah GEREJA bukan hanya tanda-tanda kehadiran KERAJAAN ALLAH ke dalam dunia, akan tetapi GEREJA juga harus dimengerti sebagai SAKRAMEN Ilahi di dalam dunia ciptaan-Nya. Hakekat Gereja tergantung pada TUHAN Allah berdasar iman kepada Kristus Yesus dan yang dipimpin oleh Rohkudus. Oleh karena itu, Gereja, pertama-tama, disebut sebagai PERSEKUTUAN ORANG-ORANG PERCAYA YANG DIHIMPUNKAN ALLAH HANYA OLEH IMAN DI DALAM KRISTUS DAN MELALUI PEKERJAAN ROHKUDUS . Dalam hal ini Gereja adalah PERSEKUTUAN ROH dan bersifat TIDAK KELIHATAN .

Akan tetapi orang-orang percaya (GEREJA) kepada Kristus Yesus itu memerlukan ”badan” yang dapat memperlihatkan aktifitasnya di dalam dunia. Oleh karena itu, ia membutuhkan perupaan organisasi ( institusi = lembaga ), sehingga seluruh aktivitas hidupnya dapat dilihat oleh dunia. Hanya melalui iman yang berkerja dalam perbuatan Gereja, yang tidak kelihatan itu, hadir di dalam sejarah bangsa-bangsa di dunia, untuk membawa tanda-tanda kehadiran pemerintahan dari Kerajaan Allah. Di sinilah Gereja melembaga, menjadi organisasi; dan disebut Gereja Yang Kelihatan .

GEREJA YANG KELIHATAN : SISTEM DAN STRUKTUR HIRARKHIS

Gereja yang kelihatan dan menampakkan diri sebagai organisasi sosial-keagamaan itu dibangun di atas dasar karya Kristus Yesus, dan ditopang oleh Rohkudus. Sebagai organisasi sosial-kegamaan Gereja hadir memberitakan dan

mengajarkan kebenaran dan anugerah Allah ke dalam kehidupan masyarakat. Gereja yang kelihatan itu bercirikan :

  • Persekutuan orang percaya yang Esa (Yoh.17:20-23), Kudus (I Pet. 2:9a) , Am (I Pet.2:9a) dan rasuli.
  • Ia memiliki visi dan misi.
  • Ia memiliki Panggilan dan Pengutusan yang nampak pada Tri Dharma-nya.
  • Ia merupakan sistem yang tertata rapi secara struktural hirarkhis kepemimpinan maupun fungsional (I Kor. 12:12)
  • Gereja mengambil rupa dan bentuk organisasi sosial-keagamaan untuk menampakkan Tubuh-Kristus-Yang Tidak-Kelihatan (I Kor. 12: 27; 14:25).
  • Ia adalah sebuah subsistem dalam masyarakat dan sekaligus persekutuan rohani (Efs. 4: 11-16).
  • Gereja hidup dari berkat Allah.

Seluruh aktivitas yang tampak dari kehadiran organisasi sosial-kegamaan itu bertujuan untuk mempersekutukan yang kelihatan ke dalam yang tidak kelihatan, yang jasmaniah kepada yang rohaniah, dunia yang sekarang ini kepada dunia yang akan datang bersama dengan Raja Yesus.

Meskipun Gereja sadar akan keberadaannya dalam pembuangan sekarang ini, namun ia terus mengerjakan pekerjaan Allah, dengan tetap memohonkan tuntutan Rohkristus, sambil menantikan penggenapan janji Allah.

Dasar pemahaman ini dikembangkan dari arti kata SAKRAMEN . Sakramen berarti Firman Yang Dilakukan . Gagasan itu kemudian berkembang menjadi ” tanda keselamatan yang kelihatan ”; katakanlah, ketika seorang anak atau orang dewasa dibapiskan, maka hal itu memperlihatkan ” stempel, cap, meterai yang menandai dan memaknai keselamatan ” hanya oleh iman kepada Kristus Yesus. Demikian pula dengan Perjamuan. Ia adalah ” tanda ” dari kehadiran keselamatan yang nyata-nyata menghubungkan orang percaya dengan Yesus Kristus. GEREJA dapat dikatakan sebagai ” tanda-tanda spiritual ” dari karya penyelamatan Allah yang dianugerahkan kepada manusia di dalam pekerjaan Kristus Yesus. Orang-orang percaya yang bersekutu di dalam GEREJA harus menyadari, bahwa KESUCIAN (kekudusan) Allah tidak tergantung pada karya Gereja; justru sebaliknya, GEREJA tergantung pada pekerjaan Allah melalui Rohkritus yang memimpinnya. Kehadiran Rohkristus yang membuat tubuh Gereja hidup dan bergerak. Rohkristuslah yang membuat Gereja menjadi ’TANDA KESELAMATAN YANG KELIHATAN ” atau SAKRAMEN Allah di tengah dunia dan dalam masyarakat. Gereja adalah ” tanda sakramental dari Allah ” yang diberikan kepada dunia. Dia hanya dapat disebut ”sakramen Allah”, sejauh ia terus menerus memelihara dan meningkatkan hubungan kasih setia dengan Tuhan Yesus, Kepala Gereja.

GEREJA DALAM LAMBANG

Kesaksian Kitab Suci :

  • GEREJA sebagai TUBUH KRISTUS
  Roma 12 : 4 - 5
  I Korintus 12 : 12, 27
  Efesus 4 : 12 - 16
  • GEREJA sebagai KELUARGA ALLAH
  Efesus 2 : 19
  I Tim. 3 : 15
  • GEREJA sebagai KAWANAN DOMBA
  Yohanes 10 ; bd. Yeh. 34
  Yohanes 21 : 15 – 157
  I Korintus 9 : 7
  • GEREJA sebagai BAHTERA
  Kejadian 6 : 18 - 22
  Ibrani 11 : 7

Lambang yang dipakai dalam Perjanjian baru itu menunju pada beberapa hal penting, yakni :

  • Ketergantungan hidup antara Allah dan orang-orang percaya dalam persekutuan bersama.
  • Hubungan antara orang-orang percaya di dalam persekutuan Gereja-Jemaat Kristus
  • Sistem kehidupan bersama (persekutuan = komunitas keselamatan)

GEREJA – YANG – MELEMBAGA

Salah satu tugas Gereja adalah menyatakan Keesaan Allah di dalam gerakan hidupnya. Gereja percaya, bahwa TUHAN Allah yang memanggil dan mengutusnya adalah Esa dan kudus. Dia pula yang menguduskan Gereja ( Kuduslah kamu, sebab Aku, TUHAN Allahmu, adalah kudus ). Kekudusan melekat pada sifat Kristus, Dia yang selalu bekerja melalui perantaraan Rohkudus untuk ”terus-menerus” menguduskan Gereja. Kristus Yesus-lah yang membuat Gereja itu Esa, Kudus dan rasuli. Oleh karena itu, Gereja harus ” terus-menerus ” memelihara dan mengembangkan hubungan baik dan benar dengan Tuhan, Kepala Gereja.

Yesus Kristus adalah FIRMAN - YANG - MENJADI - MANUSIA . Ia itu Allah yang mengambil rupa manusia. Dalam kemanusiaan-Nya Yesus memperlihatkan ketaatan kepada seluruh Hukum yang berlaku di dalam tatanan masyarakat Yahudi. Ia disunat pada hari ke delapan sesuai tradisi keyahudian (Luk.2:21). Ia dibaptis oleh Yohanes Pembaptis (Mat. 3:13-17; Mrk. 1:8-11; Luk. 3:21-22; Yoh. 1:32-34) . Dia sendiri berfirman :

NASKAH

" Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya . (Mat. 5:17)

Gereja tidak memberlakukan Hukum Taurat di dalam pem-bangunan tubuh Kristus. Tetapi Gereja meniru keteladanan Kristus Yesus yang setia dan taat memberlakukan kehendak Allah dalam Kitab Suci.

Keteladanan itu memberi dasar kepada Gereja, agar dapat menata dan mengatur seluruh fungsi anggota-anggota di dalam Tubuh Kristus (Gereja).Penataan dan pengaturan itu bertujuan menjamin ketertiban beribadah dalam semua aspek kehidupan manusia di dalam Gereja dan di dalam masyarakat. Oleh karena itu, Gereja yang diberikan kuasa oleh Kepalanya, yakni: Kristus Yesus, menyusun dan mengadakan TATA DASAR , PERATURAN, PERATURAN - PERATUAN, PERATURAN PELAKSANAAN DAN KEPUTUSAN - KEPUTUSAN, agar penyelenggaraan penata layanan (Yun. oikonomos – oikonomos) dapat berlangsung baik dan benar berdasarkan kebenaran Firman Allah di dalam Kitab Suci. Seluruh hirarkhi PERATURAN GEREJA harus didasarkan atas kebenaran firman Allah yang ada di dalam KITAB SUCI : Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru .

Pengadaan PERATURAN - PERATURAN GEREJA itu bertujuan :

  • Memelihara kehidupan warga Gereja sesuai dengan kehendak Allah yang terdapat di dalam Kitab Suci : Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru
  • Menata dan mengatur seluruh fungsi Warga Gereja dalam persekutuan yang melayani dan bersaksi.
  • Membangun spiritualitas Warga dan Pejabat Gereja secara baik dan benar berdasarkan kesaksian Kitab Suci; sehingga tiap-tiap Warga Gereja dapat melaksanakan Misi Kristus dalam kehidupan pribadi dan keluarga di tengah masyarakat Indonesia yang sedang membangun.
  • Menjamin keharmonisan dalam hal bekerja sama, berinteraksi dan beraksi, bersinergi sesuai dengan tata kerja yang ditetapkan dalam Persidangan Jemaat-Jemaat yang disebut juga P ERSIDANGAN S INODE .
  • Menjamin pemberdayaan SUMBER DAYA GEREJA, agar dapat menunjang dan mendukung pelaksanaan dan penyelenggaraan MISI KRISTUS (Lat. Missio Christi) di dalam pekerjaan Gereja sesuai dengan VISI yang telah ditetapkan dan diputuskan dalam tiap PERSIDANGAN SINODE dan SIDANG MAJELIS JEMAAT .
  • Menjaga kemurnian PEMBERITAAN dan PENGAJARAN Gereja sesuai dengan Injil Kristus dan Pengajaran para rasul .
  • Menjaga tertib hidup kudus dari seluruh Pejabat dan Warga Gereja sebagai orang-orang kristen yang telah diselamatkan Allah melalui Kristus Yesus .
  • Melakukan dan mengadakan pengembalaan terhadap PEJABAT dan WARGA GEREJA dalam berbagai situasi-kondisi sulit yang dihadapinya.

GEREJA-YANG-MELEMBAGA tetap dipimpin oleh Roh-kristus.

TEMPAT RASUL-RASUL DI DALAM GEREJA

Dua hal yang penting pokok, berdasarkan kesaksian Kitab Suci, perlu diperhatikan dalam proses P EMBANGUNAN (Yun. Oikodomeo) adalah :

NASKAH I

Karena tidak ada seorangpun yang dapat meletakkan dasar lain dari pada dasar yang telah diletakkan, yaitu Yesus Kristus (I Kor. 3:11)

Naskah I itu menunjuk pada HAKEKAT GEREJA yang lahir dari pekerjaan Yesus Kristus, sedangkan....

NASKAH II

yang dibangun di atas dasar para rasul dan para nabi, dengan Kristus Yesus sebagai batu penjuru (Efs. 2:20)

Naskah II menunjuk pada Proses PEMBANGUNAN GEREJA yang dilakukan di atas Pemberitaan Injil Kristus melalui Pengajaran rasul-rasul.

PENGADAAN JABATAN GEREJA

Meskipun Jabatan Gereja merupakan karunia Rohkudus (Rom 12:6-8) dan pemberian Kristus (Efs. 4:11) untuk memperlengkapi orang-orang kudus melaksanakan dan menyelenggarakan tugas pengutusannya, namun ia harus ditata, supaya berfungsi secara baik dan benar bagi PERTUMBUHAN IMAN (Efs. 5:16) dan PEMBANGUNAN TUBUH KRISTUS (I Kor. 14:5,12).

Jabatan Gereja itu bukan milik orang percaya, akan tetapi ia merupakan sarana organisasi untuk memancarkan kemuliaan Kristus Yesus. Jadi Jabatan Gereja itu, sesungguhnya, merupakan FUNGSI PELAYANAN - KESAKSIAN di dalam penata layanan GEREJA-MISI dan MISI- GEREJA.

Demi pelaksanaan pelayanan kesaksian dan penyelenggraan organisasi Gereja, rasul-rasul ”menetapkan” para D IAKEN (Yun . Diakonos – diakonox - Kis. 6:3) dan PENATUA (Yun. Presbuteros - presbuterox - Kis. 14:22; bd. Tit. 1:5). Mereka disebut DEWAN PRESBITER atau MAJELIS GEREJA . Secara institusional DEWAN PRESBITER itu merupakan representasi dari Jemaat. Dalam perkembangan organisasi Gereja di kemudian hari dipilih dari antara DEWAN PRESBITER atau MAJELIS GEREJA itu orang yang memimpin dan mengawasi pengajaran dan pemberitaan serta penata layanan Gereja. Jabatan itu disebut P ENILIK J EMAAT (Yun. Episkopos – episkopox - Uskup atau Bishop)

Episkopos ( Episkopos ), Penatua ( Presbuterox ) dan Diaken ( Diakonos ) melaksanakan penatalayanan (dalam pengertian ” memerintah, mengatur dan menata persekutuan ” Ing. Stewardship ; Yun. Oikonomos – Oikonomos ) dari persekutuan yang melayani dan bersaksi secara bersama-sama. Perihal bekerja bersama-sama atau berjalan bersama-sama itu disebut Gereja sebagai ” Presbiterial-Sinodal ”.

KEPEJABATAN DALAM GEREJA PROTESTAN DI INDONESIA BAGIAN BARAT (GPIB) MASA KINI

Kepejabatan sejak zaman para rasul mengalami perkembangan terus menerus, sehubungan dengan konteks di mana Gereja melaksanakan dan menyelenggarakan penatalayanannya.

Dari Swiss (Geneva) Negeri Belanda Indonesia , ke-pe-jabatan Gereja diambil alih secara utuh , yakni : PENDETA – PENATUA – DIAKEN. Ketiga Jabatan itu masih diberlakukan sampai hari ini di dalam Gereja. Ketiga Jabatan itu merupakan representasi dari Jemaat, yang adalah Tubuh Kristus.

PRESBITERIAL -SINODAL SEBAGAI PRINSIP DAN FUNGSI

Pada Alenia 3 tentang GEREJA pada sub-bahasan : GEREJA YANG KELIHATAN – SISTEM DAN STRUKTUR HIRARKHIS perlu mendapat penjelasan khusus.

SISTEM PEMERINTAHAN  

TEOKRASI – KRISTOKRASI

SISTEM TEOKRASI DALAM PERJANJIAN LAMA

Teokrasi adalah salah satu sistem masyarakat. Istilah TEOKRASI berasal dari Bahasa Yunani : THEOS ( Allah ) + KRATOS ( Pemerintahan ) = Pemerintahan Allah . Pemahaman tentang Pemerintahan Allah itu bertumbuh dan berkembang subur dalam budaya dan religi Perjanjian Lama.

Pada sistem TEOKRASI ini TUHAN Allah adalah Raja alam semesta. TUHAN Allah juga adalah RAJA Israel. Raja Israel dipahami sebagai ANAK ALLAH , yang mewakili Bapanya memerintah Israel ( Maz. 2 , khususnya ay. 7 ).

Sejarah MONARKHI Israel baru betrtumbuh pada Abad IX seb. Masehi, ketika orang Israel mendesak Samuel (Hakim dan Nabi) untuk memberikan kebebasan mereka memilih raja seperti yang dilkukan bangsa-bangsa sekitarnya (I Sam. 8:4-7) . Allah menyetujui permintaan umat Israel (I Sam. 8:22).

Akan tetapi Allah sendirilah yang memilih dan menentukan Raja Israel. Hal itu dikarenakan Israel adalah milik Allah. Israel dibentuk dan dijadikan Allah. Raja memiliki hak-hak terbatas. Ia tunduk dan harus melakukan seluruh perintah (kehendak) Allah, jika ia melawan, Allah akan mengambil kembali tanggung jawab dan wewenang yang diberikan kepadanya.

SISTEM KRISTOKRASI DALAM PERJANJIAN BARU

RAJA Israel, menurut penulis-penulis Perjanjian Baru, adalah bayangan ke depan dari sesuatu yang akan diciptakan Allah pada masadepan baru a) . Pemahaman seperti itu ditafsirkan dan dirumuskan secara baru oleh penulis-penulis Perjanjian Baru berdasarkan nubuat nabi-nabi dalam Perjanjian Lama tentang kedatangan RAJA MESIAH b) yang dijanjikan Allah.

Berdasarkan Pemahaman Iman Gereja dan dalam Pengakuan Iman bersama seluruh Gereja di segala abad dan di setiap tempat, Gereja menghayati kesaksian Kitab Suci Perjanjian Lama, bahwa F IRMAN -Y ANG -M ENJADI- D AGING ialah TUHAN Allah sendiri, sebagaimana disaksikan penulis-penulis Kitab Suci Perjanjian Baru. F IRMAN -Y ANG -M ENJADI- D AGING itu disapa dan disebut Yesus Kristus. Dia telah lahir, disalibkan, mati dan dikuburkan, dibangkitkan Allah dan kembali ke dalam kemuliaan surgawi serta memerintah di dalam Kerajaan Allah sampai waktu ditetapkan Allah untuk datang kembali ke dunia. Paulus menyatakan Yesus Kristus itulah Kepala Jemaat-Gereja (Efs. 1:22; 4:15; Kol. 1:16) .

Pemberitaan dan pengajaran para rasul yang dirumuskan dalam Pengakuan Iman : ”Yang telah naik ke Surga, duduk di sebelah kanan Allah , Bapa Yang Mahakuasa...” (Rom.8:34; Efs.1:20; Kol.3:1; I Pet. 3:22) menjadi alasan kuat bagi Gereja, untuk menetapkan dan meneguhkan keyakinannya, bahwa Kristus Yesus sedang memerintah selaku Raja di dalam Kerajaan Allah. Pernyataan pengakuan bersama Gereja-Gereja sejak Abad III –IV Masehi, bahwa Y ESUS K RISTUS adalah R AJA yang memerintah di dalam kerajaan surga dan di atas bumi. Pemerintahan itu disebut Gereja sebagai K RISTOKRASI (Pemerintahan Kristus). Oleh karena Dia, Yesus Kristus, Allah telah mengutus Roh-Nya ke dalam Gereja-Jemaat yang adalah Tubuh-Nya. Di dalam Gereja-Jemaat selaku Tubuh-Nya, Yesus Kristus menjalankan pemerintahan-Nya melalui Pejabat-Pejabat Gereja-Jemaat, yang merupakan representasi tetap dari Tubuh Kristus yang kelihatan (organisasi sosial-keagamaan).

KERAGAMAN PEMERINTAHAN GEREJA

Bertolak dari penafsiran ayat-ayat Kitab Suci, Gereja Kristus di seluruh dunia memilih dan menetapkan corak dari sistem pemerintahannya sesuai Ketetapan Persidangan Gerejanya. Corak dari sistem pemerintahan Gereja dapat dikategorikan ke dalam 3 kelompok, yakni :

  • Sistem Pemerintahan Gereja yang bercorak EPISKOPAL
  • Sistem Pemerintahan Gereja yang bercorak PRESBITERIAL -SINODAL , dan
  • Sistem Pemerintahan Gereja yang bersifat KONGREGASIONAL .

Masing-masing Sistem Pemerintahan Gereja itu memiliki latar belakang sejarah pertumbuhannya sendiri.

PRESBITERIAL SINODAL

Sistem Pemerintahan Gereja bercorak P RESBITERIAL- S INO-DAL bertumbuh dalam sejarah Gereja bersamaan dengan P EMBANGUNAN O RGANISASI J EMAAT A BAD P ERTAMA . Presuposisi Gereja sebagai dasar pengembangan gagasan teologi tentang sistem tersebut berlatar belakangkan :

  • BENTUK GEREJA SEBAGAI TUBUH KRISTUS

TUBUH RISTUS merupakan istilah yang digunakan secara metapora dalam kekristenan Abad I menunjuk

        • Yesus Kristus

Orang-orang Kristen yang percaya mengakui dan menerima kehadiran Allah di dalam nama Yesus Kristus untuk menjalankan pekerjaan penyelamatan atas manusia dan alam semes-ta. Pekerjaan keselamatan itu tampak sejak kelagirannya sampai Dia kembali ke dalam kemuliaan dan duduk di sebelah kanan Allah, Bapa yang Mahakuasa.

Secara khusus istilah ”tubuh Kristus” itu muncul dalam seluruh tradisi Jemaat Abad I untuk melambangkan persekutuan dengan Yesus Kristus. Persekutuan bersama Tuhan Gereja dirayakan dalam sakramen Perjamuan. Di dalam peristiwa itu, gereja-jemaat mengenang kembali kematian-kebangkitan Yesus Kristus.

Hal itu bergema dalam ucapan pelayan Firman yang mengutip tradisi Gereja sebagai berikut :

Dan ketika mereka sedang makan, Yesus mengambil roti, mengucap berkat, meme-cah-mecahkannya lalu memberikannya ke-pada murid-murid-Nya dan berkata : "Ambillah, makanlah, inilah tubuh-Ku." (Matius 26:26)

Dan juga dalam tulisan Paulus kepada Jemaat Allah di Korintus (I Kor. 11 : 24)

Ia mengucap syukur atasnya; Ia memecah-mecahkannya dan berkata: "Inilah tubuh-Ku, yang diserahkan bagi kamu; perbuat-lah ini menjadi peringatan akan Aku !"

Roti yang dimakan itu adalah ”tanda” yang memaknai pengorbanan Yesus Kristus. Roti itu akan bermakna spiritual, jika orang-orang kristen yang percaya dan makan bersama itu menghayati berdasarkan iman akan karya Kristus Yesus. Roti itu hanya sarana dan wacana spiritual untuk memeasuki persekutuan dengan Kristus. Dalam hal ini Gereja menganut pemahaman Konsubtansial tentang dua sakramen yang ditetapkan Tuhan Yesus.

Perbuatan makan bersama dari roti itu dihayati sebagai perbuatan dari orang-orang kristen yang percaya menghayati persekutuan dengan Yesus Kristus, Tuhan dan Kepala Gereja.

PERJAMUAN ESKATOLOGIS

Perjamuan Kudus memiliki nuansa masade-pan yang terbentang luas sampai kedatangan Kristus kembali. Hal itu bergema dalam ucapan Yesus Kristus :

Akan tetapi Aku berkata kepadamu: mulai dari sekarang Aku tidak akan minum lagi hasil pokok anggur ini sampai pada hari Aku meminumnya, yaitu yang baru, ber-sama-sama dengan kamu dalam Kerajaan Bapa-Ku ." (Mat. 26:29)

Dalam spiritualitas yang diberikan Kristus, Jemaat-Gereja menghayati Perjamuan Kudus sebagai perbuatan suci yang harus dilakukan berulang-ulang sebagai tanda dan lambang peringatan akan kematian-kebangkitan Tuhan-nya.

PERJAMUAN DAN MISI GEREJA

Pada sisi lain, Jemaat-Gereja memahami ” per-buatan suci yang dilakukan berulang-ulang ” itu sebagai bagian tidak terpisahkan dari tugas pengutusan untuk memberitakan Kristus Yang Tersalib. Pandangan itu muncul dalam tulisan Paulus :

Sebab setiap kali kamu makan roti ini dan minum cawan ini, kamu memberitakan kematian Tuhan sampai Ia datang (I Korintus 11 : 26)

Perbuatan makan roti bersama dari orang-orang kristen yang percaya itu, bukan saja mengenang akan pekerjaan Yesus Kristus, tetapi juga menghayati pemberian spiritual Kristus ke dalam persekutuan, agar mereka dapat memberitakan dan mengajarkan kema-tian dan kebangkitan Yesus Kristus.

        • Jemaat Lokal

Mengalir dari pemahaman di atas Jemaat-Gereja memahami dirinya sebagai persekutuan yang esa dengan Tuhannya. Persekutuan itu disebut TUBUH KRISTUS. Tradisi itu muncul dalam tulisan Paulus :

Kesaksian Kitab Suci : 1. Kolose 1 : 18
  2. Efesus 1 : 23

Naskah 1

Ialah kepala tubuh , yaitu jemaat . Ialah yang sulung, yang pertama bangkit dari antara orang mati, sehingga Ia yang lebih utama dalam segala sesuatu . (Kolose 1 : 18)

Naskah 2

Jemaat yang adalah tubuh-Nya , yaitu kepenuhan Dia, yang memenuhi semua dan segala sesuatu . (Efesus 1 : 23)

TUBUH KRISTUS adalah sebuah istilah, yang dipakai secara metapa, untuk menunjuk pada persekutuan orang-orang Kristen yang perca-ya, yang disebut : Jemaat-Gereja. Sebutan itu pada Abad I digunakan terkait erat dengan Jemaat Lokal. Mereka juga adalah mempelai Kristus, yang kepadanya Kristus berjanji akan kembali.

Jemaat-Gereja itu bersifat esa, sama seperti roti yang satu melambangkan Tubuh Kristus. Mereka adalah orang-orang yang berkumpul, percaya dan mengasihi Yesus serta melalui pimpinan Rohkristus mereka saling mengasihi.

MENJADI SATU PERSEKUTUAN

Gereja dipanggil Allah melalui karya Yesus Kristus untuk menjadi satu persekutuan, yakni tubuh-Nya.

UNTUK MELAKSANAKAN PELAYANAN

Persekutuan orang-orang Kristen yang dipanggil itu diutus-Nya ke dalam dunia untuk melayankan Injil Kristus dalam bentuk pelayanan kasih (PEL-KAS) di tengah jemaat dan pelayanan kemasyarakatan (PEL-KES).

UNTUK BERSAKSI DAN MENGAJAR

Persekutuan orang-orang kristen yang dipanggil itu diutus-Nya untuk memberitakan kebenaran Injil Kerajaan Allah dan mengajarkan kepada dunia, bahwa YESUS KRISTUS itu Allah yang telah datang menjadi Juruselamat manusia. Pemberitaan itu dilaksanakan dalam beragam bentuk, termasuk pengajaran agama kristen.

Ketiga hal itu disebut Gereja sebagai TRI-DHARMA GEREJA.

  • BENTUK GEREJA SEBAGAI KELUARGA ALLAH

Kesaksian Kitab Suci PL :

a). MASA DEPAN BARU Yesaya 43 : 19
    Yesaya 65 : 17
    Yesaya 66 : 22
b). IMANUEL Yesaya 7 : 14
  RAJA DAMAI Yesaya 9 : 5
  TUNAS ISAI Yesaya 11 : 1 – 10
  RAJA KEADILAN Yesaya 32 : 1 - 8

Nubuat-nubuat nabi itu menunjuk pada pekerjaan Allah menciptakan masa depan baru, di mana Dia sendiri yang memerintah di dalamnya.

Penyataan Allah pada peristiwa Baptisan Yesus (Mat.3:17) : ” Inilah Anak-Ku yang Kukasihi (Mz.2:7) kepadanya Aku berkenan (Yes. 42:1) bergema dalam Pengakuan Petrus (Mat. 16:18 ) : ” Engkaulah Mesiah, Anak Allah Yang Hidup ”. Pembap-tisan Yesus tidak menunjuk pada pertobatan , sebagaimana dipahami tentang Baptisan Yohanes. Pembaptisan Yesus membuka makna baru dalam kerangka penyelamatan Allah :

  • YESUS itu ANAK ALLAH (Maz. 2:7). Dialah RAJA Sejati yang mengatasi segala raja dan penguasa dunia (I Tim. 6:15; Why. 17:14; 19:16). Dia adalah KUASA ALLAH (Kis. 8:10b)
  • YESUS itu JURUSELAMAT (Luk. 2:11; Yoh. 4:42; Kis. 5:51; 13:23; Flp. 3:20; 2 Tim. 2:3;Tit. 3:6; I Yoh. 4;14)
  • Demi menjalankan penyelamatan atas manusia bermasalah, Yesus Kristus telah ” mengosongkan diri-Nya (Flp. 2:6-7) menjadi sama seperti manusia (Yoh. 1:14) menjadi hamba yang menderita di kayu salib (Flp :8, bd. Yes.52:13-53:12) .

KRISTUS YESUS MEMBERI KUASA KEPADA GEREJA

1. ALLAH MEMBERI Exousia KEPADA YESUS

Kesaksian Kitab Suci :

" Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi (Mat. 28:19)

Kata KUASA ( exousia - exousia ) menunjuk pada pemberian hak dan kekuasaan kepada Yesus untuk melakukan sesuatu pekerjaan (tindakan) demi mewujudkan rencana penyelamatan Allah. Exousia Yesus itu tampak dalam keputusan-Nya mengampuni dosa (Mrk. 2:10), mengusir setan (Mrk. 3:15), dan mengajar ( Mat. 7:9; Mrk. 11:8; Luk. 4:16) . KUASA itu, exousia , tidak dapat dipisahkan dari kehadiran Kerajaan Allah yang dibawa-Nya. Dalam kehadiran-Nya, Yesus membuktikan Kerajaan Allah sedang datang dan bekerja di antara manusia (Mrk. 1:14-15).

2. YESUS MEMBERI Exousia KEPADA GEREJA

Gereja adalah orang-orang percaya yang telah dipanggil masuk ke dalam persekutuan hidup bersama Allah. Panggilan itu disampaikan Yesus kepada semua orang. Kepada persekutuan orang-orang percaya itu (Gereja) Yesus memberi KUASA, exousia , agar ia dapat melanjutkan ” pekerjaan Dia (Yoh.9:4) . Dengan kata lain, Yesus memberikan KUASA -Nya, agar Gereja dapat melanjutkan Misi-Nya.

Matius 28:19 perlu dipahami dari latar belakang yang diuraikan di atas. Jika KUASA , exousia , itu dihubungan dengan Gereja, maka hal itu harus dimengerti dalam relasi khusus antara Yesus, selaku Kepala (dari Tubuh-Nya yang menerima kuasa dari Yesus (Yoh.1;12). Tuhan Yesus juga memberikan KUASA kepada para rasul (2 Kor. 10:8), tetapi mereka harus memakainya secara bertanggung jawab (bd. Mrk. 13:34;1 Kor. 9:4 ff).

3. Exousia DIBERIKAN KEPADA TIAP ORANG PERCAYA DALAM PERSEKUTUAN DENGAN KRISTUS DAN GEREJA

Perjanjian Baru menyoroti pemberian exousia kepada tiap orang percaya lebih terkait dengan KEBEBASAN (1 Kor. 6:12; 8:9; 10:23).

Secara khusus Paulus memakai kata exousia itu bukan dalam arti yang sama seperti digunakan pada konsep filsafat Yunani. Dalam pandangan Paulus, exousia itu harus digunakan orang percaya dengan mengingat dua hal : pertama , kepatutan (pertimbang-an etis sesuai dengan iman) hidup sebagai orang-orang yang telah diselamatkan; kedua , peberdayaan exousia harus dilihat dari hukum manfaatnya. Apakah exoxus , pemberian Allah itu telah dipergunakan untuk membangun persekutuan ataukah tidak.

KUASA DIBERIKAN KEPADA PEJABAT MELALUI GEREJA

Dasar Pemahaman Teologis :

    • Allah memberikan kuasa ( exousia ) kepada Yesus dalam rangka Ia melaksanakan Misi Allah di tengah dunia
    • Yesus memberi exousia kepada Jemaat-Gereja (yaitu persekutuan orang percaya) untuk memberlakukan pekerjaan Allah yang sudah diperlihatkan Yesus.
    • Gereja-Jemaat yang telah menerima exousia dari Yesus memberikannya kepada orang-orang yang dipilih dan ditetapkan untuk melaksanakan dan menyelenggarakan penata-layanan Misi Yesus di dalam dan melalui Gereja.

Dalam pemahaman Gereja mengerti, tidak seorang pun dapat melakukan Misi Yesus terpisah dari apa yang sedang dan akan dikerjakan Gereja. Tidak seorang pun diberikan hak organisasi untuk ”mentahbiskan” dan atau ”meneguhkan” dirinya sendiri diluar kewibawaan Gereja selaku Persekutuan (Kis.15:25). Di sinilah orang percaya, yakni: Warga Gereja memahami makna PANGGILAN INSTITUSIONAL dari tiap Pejabat Gereja.
 
 
 
ALENIA III
Bahwa sepanjang sejarah dan di manapun di dunia, dari utara, selatan, barat dan timur , 1) orang-orang percaya dipanggil dan dituntun oleh Roh Kudus 2) untuk menjadi satu persekutuan 3) yang menjalankan tugas pelayanan, dan kesaksian 4).

 

II.3.1. SEPANJANG SEJARAH DAN DI MANAPUN DI DUNIA, DARI UTARA, SELATAN, BARAT DAN TIMUR, ORANG-ORANG PERCAYA DIPANGGIL

Lukas 13 : 29; bd. Mat. 8 : 11

II.3.2. DITUNTUN OLEH ROH KUDUS

II.3.3. MENJADI SATU PERSEKUTUAN

A. MENJADI SATU

Predikat ” menjadi satu ” merupakan kehendak Yesus yang diucapkan-Nya dalam Doa Imam Besar Agung (Yoh. 17:21,23).

Kesaksian Kitab Suci

supaya mereka semua menjadi satu (Kol. 3:15) , sama seperti Engkau , ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita , supaya dunia percaya , bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku. Dan.... Aku di dalam mereka dan Engkau di dalam Aku supaya mereka sempurna menjadi satu , agar dunia tahu , bahwa Engkau yang telah mengutus Aku dan bahwa Engkau mengasihi mereka, sama seperti Engkau mengasihi Aku.

Tujuan akhir dari ” menjadi satu ” adalah kesaksian bahwa Allah : Bapa–Anak–Roh adalah Esa. ” Menjadi satu ” itu merupakan suatu proses menuju yang ” sempurna ”. Kesempurnaan itu sama seperti keesaan Allah : Bapa–Anak–Rohkudus Tritunggal Yang Kudus).

B. ”MENJADI SATU” DALAM GERAKAN MISI BERSAMA

Menjadi satu ” persekutuan yang dimaksudkan dimulai dari pemahaman dan pengakuan tentang adanya satu Gereja yang esa, yang diikatkan oleh kasih dan kuasa Rohkudus.

Rohkudus atau Rohkristus itulah yang memimpin Gereja untuk memberlakukan hanya satu pekerjaan Yesus, yang tampak dalam tiga kegiatan , yang diebut TRI DHARMA GEREJA . Keesaan itu adalah keesaan melaksanakan MISI KRISTUS YESUS, sekalipun dalam bentuk denominasi Gereja dan strategi yang berbeda. Gereja adalah satu di dalam Kristus (Gal. 3:28)

Keesaan itu dapat tampak melalui kehidupan spiritual, sebagaimana Paulus menuliskan (Efs. 4:2b-6a) :

Kesaksian Kitab Suci :

Tunjukkanlah kasihmu dalam hal saling membantu. Dan berusahalah memelihara kesatuan Roh oleh ikatan damai sejahtera: satu tubuh (Rom. 12:5; I Kor. 12:12;20), dan satu Roh (I Kor.12:4) , sebagaimana kamu telah dipanggil kepada satu pengharapan yang terkandung dalam panggilanmu, satu Tuhan (I Kor.8:6; 12:5), satu iman, satu baptisan , satu Allah (I Kor.8:6;12:6) dan Bapa dari semua, Allah yang di atas semua dan oleh semua dan di dalam semua. (bd. I Kor. 12:4-6; Flp. 2:2)

II.3.4. MELAKSANAKAN DAN MENYELENGGARAKAN TUGAS PELAYANAN DAN KESAKSIAN

Kesaksian Kitab Suci :

 
 
 
ALENIA IV
Bahwa Yesus Kristus adalah Kepala Gereja 1) dan Gereja sebagai tubuh-Nya 2) yang rapi tersusun 3), dan segala sesuatu di dalamnya harus diselenggarakan secara tertib dan teratur 4).

 

II.4.1. YESUS KRISTUS ADALAH KEPALA GEREJA

Kesaksian Kitab Suci : Efesus 1 : 20
    1 : 22
  Kolose 1: 18

II.4.2. GEREJA SEBAGAI TUBUHNYA

Kesaksian Kitab Suci : Roma 12 : 5
  I Korintus 12 : 12, 27
  Efesus 1 : 23
    4 : 12

II.4.3. GEREJA SEBAGAI TUBUHNYA YANG RAPI TERSUSUN

Kesaksian Kitab Suci : I Korintus 12 : 24
  Efesus 2 : 21
    6 : 16

II.4.4. DAN HARUS DISELENGGARAKAN SECARA TERTIB DAN TERATUR

Kesaksian Kitab Suci : II Timotius 1 : 7
  I Korintus 14 : 40
 
 
 
ALENIA V
Bahwa Gereja terpanggil untuk senantiasa menyatakan keesaannya 1), supaya dunia percaya bahwa Allah Bapa telah mengutus Yesus Kristus 2), untuk menjalankan karya keselamatan bagi dunia 3) ini .

 

II.5.1. SUPAYA DUNIA PERCAYA, BAHWA ALLAH BAPA TELAH MENGUTUS YESUS KRISTUS

Kesaksian Kitab Suci : Yohanes 17 : 23

II.5.2. MENJALANKAN KARYA KESELAMATAN BAGI DUNIA INI

Allah adalah Pribadi yang berpikir (Maz. 139:17) dan merancang gagasan (Yes. 40:12-26; 55:8-9 ). Kekuatan pikiran dan gagasan-Nya tampak sejak penciptaan alam semesta (Kej.1:1-2:4; Maz.104: 24) . Penciptaan itu menjelaskan dan menegaskan, bahwa sejak semula Allah Yang Esa (Bapa, Firman dan Roh) telah bekerja ” sampai hari ini ” (Yoh. 15:17) membuktikan kebenaran pikiran dan rencana-Nya tentang KESELAMATAN (bacalah dan pahamilah pikiran Yohanes Calvin tentang PREDESTINASI dalam Bukunya INSTITUTIO – Lihat juga Pandangan Paulus yang menyatakan : Allah merencanakan keselamatan sebelum dunia diciptakan).

Untuk TUJUAN dan MAKSUD memelihara dan melestarikan KESELAMATAN, Allah menciptakan manusia. Dia, Allah Yang Esa, memberi ”mandat” kepada manusia untuk menguasai, yakni: mengolah dan mengelola alam semesta menurut kehendak-Nya. Disebabkan KEINGINAN NAFSU -nya, manusia memberontak melawan kedaulatan Allah. Manusia jatuh ke dalam dosa (Maz. 14: 1-3; Rom. 3: 10-18,23).

Abraham, Ishak dan Yakub dipanggil-diutus Allah untuk ” menjalankan karya keselamatan ” yang telah dirancangkan sejak semula sebelum langit-bumi diciptakan. Kepada leluhur Israel itulah Allah berjanji, bahwa oleh mereka ”semua kaum di muka bumi akan memperoleh berkat” (Kej.12:3).

Berdasarkan perjanjian kasih karunia itu Allah memilih (Yes. 41:8) , memanggil, menghimpunkan, menciptakan serta mem-bentuk (mereka menjadi satu bangsa di muka bumi, yakni: Israel dalam Perjanjilan Lama, berdasarkan Perjanjian Kasih Karunia yang dibuat-Nya dengan leluhur Israel (Kej. 12:1-3; 26:24; 27:28-29; 28:3-4).

Berangkat dari perjanjian kasih-karunia itu Allah sendiri datang ke dunia dalam nama YESUS (Luk. 2:21) untuk melakukan penyelamatan.

 
 
 
ALENIA VI
Bahwa keberadaan Gereja sebagai umat Allah terus menerus mengalami pembaharuan 1) bersama dan dengan seluruh ciptaan menyongsong penggenapan pemerintahan Allah .

 

II.6.1. KEBERADAAN GEREJA TERUS MENERUS MENGALAMI PEMBAHARUAN ( ECCLESIA REFORMATA SEMPER REFORMANDA )

Keberadaan (eksistensi) Gereja tergantung seutuhnya pada perhubungannya dengan Allah yang menyatakan diri di dalam Kristus Yesus, Tuhan dan Kepala Gereja (Efs. 4 : 15), yang juga memimpinnya melalui kuat-kuasa Rohkudus.

Gereja adalah persekutuan orang-orang yang dipanggil oleh Allah keluar dari kegelapan dan masuk kepada terang-Nya yang ajaib (I Pet. 2:9). Dia, Gereja, bukanlah institusi yang mati, bersifat statis. Ia, Gereja, memiliki sifat:

    • Dinamis
    • Kreatif
    • Inovatif

karena dipimpin oleh Rohkristus Yang Hidup.

Untuk dapat memiliki sifat demikian, Gereja (baik sebagai institusi ataupun persekutuan orang percaya) harus selalu memberi diri dibaharui terius menerus (Kol. 3:10; Rom.12:2-3) dibaharui oleh Rohkristus, hingga mampu melaksanakan dan menyelenggarakan Misi Kristus di dalam dunia ciptaan-Nya.

UMAT ALLAH

Umat Allah (Ibr. Am YHWH ; Yun. laou tou Theou ) Umat Allah adalah gambaran yang dipakai di dalam Perjanjian Lama dan dikenakan kepada Israel (....). Akan tetapi Gereja pun mengakui dan mengimani, bahwa oleh karena imannya kepada Yesus Kristus, eksistensi (keberadaan) – nya juga dapat disebut umat Allah.

Hal ini penting dituliskan, karena istilah ”Am YHWH” mengandung makna teologis di dalamnya, antara lain:

  • Umat Allah (Am YHWH) menunjuk pada perupaan eksistensial dari Gereja sebagai Institusi religius di tengah masyarakat.
  • Umat Allah (Am YHWH) menunjuk pada kepemilikan Allah (I Pet. 2:9-10) atas persekutuan orang-orang yang telah diselamatkan hanya oleh iman kepada Kristus Yesus dan dipimpin oleh kuat-kuasa Rohkudus.
  • Umat Allah (Am YHWH) menunjuk pada karakter dan sikap yang melekat pada Gereja sebagai persekutuan orang-orang yang diselamatkan Allah.
  • Umat Allah (Am YHWH) menunjuk pada tujuan hidup dari persekutuan orang-orang yang diselamatkan Allah, yakni: melaksanakan dan menyelengga-rakan Ibadah kepada Allah untuk (pro-eksistensi) dan bersama (co-eksistensi) dengan sesama ciptaan-Nya.

II.6.2. MENYONGOSONG PENGGENAPAN PEMERINTAHAN ALLAH

TRI-DHARMA GEREJA (Persekutuan, Pelayanan dan Kesak-sian) dilaksanakan dan diselenggarakan sambil menantikan penggenapan Janji Tuhannya, bahwa Dia: Yesus Kristus, Tuhan dan Kepala Gereja, akan datang kembali untuk menyatakan pemerintahan Allah atas alam semesta.
 
 
 
ALENIA VII
Bahwa kendatipun Gereja terpanggil menghadirkan tanda-tanda Pemerintahan Allah 1) , tetapi Gereja bukan Pemerintahan Allah itu sendiri 2).

 

II.7.1. TANDA-TANDA PEMERINTAHAN ALLAH

Sekalipun Gereja tidak sama persis dengan Pemerintahan Allah (Yun. Basileou tou Theou ) akat tetapi Gereja adalah tanda dari kehadiran Pemerintahan Allah di atas bumi. Melalui dan di dalam Gereja Allah memperkenalkan kepada dunia suatu tatanan masyarakat baru yang berlandaskan pada nilai-nilai Kerajaan Allah, yakni : kebenaran, damai sejahtera dan sukacita (Rom.14: 17).

Tanda Pemerintahan Allah juga adalah TERANG. Terang Yang Sejati adalah Allah (I Yoh.1:5) dan Firman-Nya (Luk. 2:32; Yoh. 1:4-5,9;3:19;8:12; 9:5; 12:46) yang telah menyata-kan Diri di dalam Yesus Kristus. Gereja bukan Terang. Tetapi Gereja diutus oleh Kristus Yesus untuk menjadi terang di dalam dunia (Mat. 5:14; Efs. 5:8).

 
 
 
ALENIA VIII
Bahwa Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat 1) bersama Gereja-Gereja lain adalah perwujudan dari Gereja Yesus Kristus 2) yang esa , kudus , am dan rasuli 3) yang berada dan berkarya di Indonesia yang beragam .

 

II.8.1 GEREJA YANG ESA

Lihat Penjelasan tentang GEREJA pada Alenia III butir 3

II.8.2 GEREJA YANG KUDUS

II.8.3. GEREJA YANG AM

Lihat penjelasan tentang GEREJA pada Alenia 1

II.8.4. GEREJA YANG RASULI

Lihat penjelasan tentang GEREJA pada alenia II terkait TEMPAT RASUL-RASUL DALAM GEREJA dan GEREJA YANG MELEMBAGA

II.8.5. KEBERAGAMAN

5.1
KEBERAGAMAN (yang dimaksudkan dalam naskah ini) adalah konteks sosial yang menjadi latar belakang di mana Gereja menjalankan misinya, seperti: budaya, sistem masyarakat, pendidikan, status sosial dan sebagainya.
5.2 KEBERAGAMAN LATAR BELAKANG
 
KEBERAGAMAN bukan hanya ditemukan dalam konteks sosial semata, akan tetapi juga di dalam kehidupan bergereja-berjemaat. Penulis Lukas dan Matiur secara sadar mengemukakan latar belakang tersebut, ketika keduanya menuliskan : ” orang akan datang dari Timur dan Barat, dan dari Utara dan Selatan dan mereka akan duduk makan di dalam Kerajaan Allah (Luk. 13:29; bd. Mat. 8:11-12).
 
Penulisan arah mata angin itu menunjuk pada latar belakang kehidupan manusia yang akan masuk ke dalam Kerajaan Allah. Jika Gereja menggunakan ayat tersebut, maka yang dimaksudkan adalah ”latar belakang orang-orang percaya yang dipanggil dan dihimpunkan TUHAN di dalam Gereja.
5.3 KERAGAMAN DALAM KEESAAN
 

Fenomena sosial yang menjadi latar belakang Gereja itu tidak dapat dihindari. Keadaan seperti itu justru harus dilihat sebagai karunia TUHAN ke dalam kehidupan bergereja. Rasul Paulus mengatakan : ” Karena sama seperti tubuh itu satu dan anggota-anggotanya banyak, dan segala anggota itu, sekalipun banyak, merupakan satu tubuh, demikian pula Kristus. Kamu semua adalah tubuh Kristus dan kamu masing-masing adalah anggotanya (I Kor. 12:12,27).

Pernyataan Paulus ini dapat membantu Gereja melihat keberagaman sebagai karunia Allah, bukan hanya keberagaman dalam karunia-karunia rohani saja, melainkan juga dalam latas belakang sosial tiap anggota Gereja-Jemaat.

Keberagaman itu adalah anugerah Allah ke dalam Gereja-Jemaat. Oleh karena itu, ia perlu ditata dan diberdayakan secara baik dan benar, agar Misi Kristus melalui pekerjaan Gereja (Missio Ecclesianum) dapat mencapai kesempurnaan.

Penataan dan pemberdayaan keberagaman anggota Gereja-Jemaat harus berorientasi pada Doa Yesus selaku Imam Besar Agung (Yoh. 17:21-23), yakni: supaya mereka SEMPURNA MENJADI SATU. Tujuan itu merupakan suatu proses yang direncanakan Gereja-Jemaat dengan melibatkan Rohkudus di dalam-nya. Gereja tidak ditugaskan menciptakan KESERA-GAMAN , melainkan membuat KEBERAGAMAN MEN-JADI KEKUATAN YANG INDAH DI DALAM KEESAAN .

 
 
 
ALENIA IX
Bahwa Tuhan yang memanggil dan menetapkan para pelayan-Nya 1) sebagai Presbiter 2) yang berjalan bersama-sama 3) untuk memperlengkapi warga 4) GPIB yang missioner 5) sebagai manusia yang utuh.

 

II.9.1. TUHAN YANG MEMANGGIL DAN MENETAPKAN

Kesaksian Kitab Suci : Yohanes 15 : 16

II.9.2. PELAYAN

Kesaksian Kitab Suci :

II.9.3. PRESBITER

Kesaksian Kitab Suci :

A. PESBITER SEBAGAI JABATAN GEREJA

Yang dimaksudkan Presbiter adalah Jabatan Gerejawi yang sudah ada sejak zaman Jemaat Kristen Abad Pertama. Jabatan itu dalam Gereja saat ini disebut PENATUA.

PEMAHAMAN GEREJA TENTANG PRESBITER

B. DEWAN GEREJA atau MAJELIS JEMAAT

Sejak zaman rasul-rasul pun istilah tersebut sudah digunakan untuk menyebut representasi Pejabat Gereja yang memimpin Jemaat. Mereka itu disebut DEWAN GEREJA atau MAJELIS JEMAAT (TUA-TUA JEMAAT).

II.9.4. YANG BERJALAN BERSAMA-SAMA

Kesaksian Kitab Suci :

II.9.5. MEMPERLENGKAPI WARGA GPIB

Kesaksian Kitab Suci : Efesus 4 : 12

 
 
     
Design By Agiz Yuroskha Leonard