|
| |
|
|
| |
PENJELASAN – PENJELASAN
TENTANG
PEMAHAMAN IMAN
|
|
| |
|
|
| |
ALENIA I |
| KAMI MENGAKU , |
| Bahwa Allah yang esa 1) dengan FirmanNya dalam kasihNya yang tiada tara telah memulai karya keselamatan bagi 2) alam semesta 3) sejak awal Penciptaan 4) dan setelah kejatuhan manusia dalam dosa 5). Allah meneruskan karyaNya untuk memelihara alam semesta dari derita dan maut 6) . Karya keselamatan ini berlangsung sampai pada akhir zaman 7) . |
|
| |
| |
KESELAMATAN
Masalah : Mengapakah KESELAMATAN ditempatkan pada POKOK PERTAMA , sedangkan FIRMAN ALLAH diletakkan pada POKOK TERAKHIR ?
Alasan :
A. KESELAMATAN , SEBUAH KONTEKS SOSIAL
1. Manusia adalah makhluk sosio-religius . Manusia disebut sosial, karena ia senantiasa berada dalam hubungan (horisontal) dengan orang. Di sisi lain, manusia adalah makhluk ciptaan Allah. Kehidup-annya tergantung pada TUHAN Allah. Oleh karena itu, manusia wajib memelihara dan meningkatkan hubungan (vertikal) -nya dengan TUHAN Allah.
-
Dalam kehidupannya bersama orang lain manusia membentuk kelompok kecil maupun masyarakat. Melalui hubungan sosial manusia berharap dapat memenuhi dan menikmati kebutuhan lahir-bathinnya. Sudah pasti satu-satunya kebutuhan dasar yang ingin diperoleh adalah KESELAMATAN , yakni : suatu keadaan di mana kebutuhan pisik dan psikologis terjamin. Katakanlah, jika kebutuhan akan makanan dan minuman dapat diperoleh, maka manusia dapat menikmati keadaan yang disebut: SELAMAT . Jika kebutuhan akan rasa nyaman dan aman tercapai, maka manusia mencapai KESELAMATAN psikologis. Jadi pada hakekatnya kebutuhan dasar dari manusia adalah KESELAMATAN .
-
KESELAMATAN itulah yang dipercakapkan dan diusahakan oleh semua orang di dalam masyarakat. KESELAMATAN itu pun diajarkan oleh semua agama di dunia. KESELAMATAN itu dirumuskan dalam nilai-nilai, norma-norma tertulis maupun adat-istiadat, idiologi ekonomi, politik, pertahanan-kemanan, pendidikan dan sebagainya. Malahan setiap Agama mengklaim, bahwa KESELAMATAN yang diajarkan dan diberita-kannya merupakan KEBENARAN yang harus ditaati untuk diberlakukan setiap penganutnya.
Jika tiap-tiap Agama mempertentangkan ajarannya tentang KESELAMATAN , sudah barang tentu akan timbul kekacaun. Oleh karena itu :
B. KESELAMATAN , KARYA ALLAH DALAM MISI GEREJA
-
Tidak satupun manusia masa kini dan masa depan yang dapat memandang TUHAN Allah secara langsung, seperti pada masa purbakala. Manusia harus mengakui secara jujur, bahwa ia dapat mengetahui dan memahami hakekat dan keberadaan TUHAN Allah melalui ” tanda-tanda (sign), lambang-lambang ” (symbol) dan dalam ” karya-karya ”Nya dalam alam semesta. Hasil pengamatannya itu disusun dalam sejumlah pokok-pokok pengajaran yang diwariskan dari generasi ke generasi.
-
Karya TUHAN Allah itu tampak dalam berbagai cara. Mahakarya TUHAN yang dapat dinikmati manusia adalah KESELAMATAN . Dalam karya-Nya yang MENYELAMATKAN , Allah bertindak memberi kasih-karunia, memelihara dan melindungi kehidupan, membebaskan dari kesengsaraan, memerdekakan dari penjajahan, menciptakan masa depan, membimbing dan memimpin, dan sebagainya.
-
KESELAMATAN adalah mahakarya TUHAN yang dianugerahkan kepada manusia dan alam semesta. Dia telah, sedang dan akan terus menerus mengadakannya sampai akhir zaman. Titik sejarah terpenting dari rentetan pekerjaan-Nya tampak pada kehadiran Yesus Kristus. Di dalam dan melalui pekerjaan-Nya TUHAN Allah menganugerahkan KESELAMATAN ke atas kehidupan seluruh makhluk ciptaan-Nya. Itulah pemahaman dan pengakuan iman Gereja sepanjang sejarah dunia dan di manapun Gereja diutus.
-
GEREJA adalah hasil dari Misi Allah di dalam perkerjaan Yesus Kristus dan oleh pimpinan Roh kudus . Ia diutus memberitakan dan mengajarkan Injil Kerajaan Allah kepada semua makhluk (Mark. 16:15). Pada perjalanan misi pelayanan–kesaksiannya Gereja berjumpa dengan manusia dalam konteks sosial. Di sana Gereja melihat manusia menggumuli masalah kehidupan. Manusia mencari kebutuhan akan KESELAMATAN . Ke sanalah Gereja diutus menyampaikan pesan TUHAN Allah dan melakukan percakapan , agar manusia yang percaya diselamatkan (Yoh.3:16; Rom. 10:8b – 11).
Jika KESELAMATAN itu diletakkan pada Pokok Pertama dalam PEMAHAMAN IMAN , maka Gereja bermaksud dan bertujuan, agar KESELAMATAN menjadi ” jembatan ” dan ” landasan ” dialog dengan manusia dan istitusi sosial-keagamaan, agar bersama-sama membangun dunia sesuai dengan kehendak TUHAN.
Dengan demikian, KESELAMATAN bukan hanya menjadi landasan hubungan dialogis antar umat manusia. Tetapi KESELAMATAN juga menjadi koridor yang mengarahkan harapan manusia memasuki masadepan baru menyongsong kedatangan Yesus Raja.
KAMI MENGAKU ....
Kedua kata itu memiliki pengertian yang luas dan mendalam pada pemahaman Gereja. Hal itu dapat dijelaskan seperti begini :
A. KAMI ....
A.1. KAMI, sebagai PERSEKUTUAN
Penggunaan kata ganti orang kedua tunggal tersebut menunjuk pada PERSEKUTUAN YANG MENGAKU.
A.2. KAMI sebagai ORANG PERORANGAN (PRIBADI )
PERSEKUTUAN YANG MENGAKU itu terdiri dari orang-orang percaya. Tiap-tiap orang percaya itu sendiri mengakui (mengikrarkan janji) imannya kepada Allah. Berdasarkan PENGAKUAN itu oran percaya selaku individu mengikat dan mempersatukan dirinya dengan Kristus Yesus, sekaligus dengan sesama seimannya di dalam kasih Kristus Yesus (Efs. 4:16; Kol. 2:19) .
B. MENGAKU ...
Kata kerja yang itu berasal dari kata ”aku”. Dengan menggunakan kata MENGAKU, Gereja memperdengankan Pemahaman Imannya tentang seluruh karya TUHAN Allah melalui dan di dalam rumusan pengakuan. AKU YANG MENGAKU menunjuk pada aktivitas eksistensial dari orang percaya selaku pribadi, individu.
Kalimat yang dapat menjelaskan makna pemahaman Gereja itu dapat dimengerti seperti begini : AKU MENGAKU.....
B.1. AKU MENGAKU menunjuk pada JANJI atau IKRAR.
Melalui dan di dalam pengakuan iman yang diucapkan, seseorang memperlihatkan seluruh integritasnya berhadapan dengan Allah. Di dalam pengakuan iman ia mengikatkan diri pada Allah, yang diakuinya selaku TUHAN, sekaligus yang menguasai hidup dan matinya. Ia menyatakan kepada semua orang, Allah itu TUHAN yang telah menyelamatkannya hanya oleh iman di dalam Yesus Kristus. Itulah Pengakuan Iman nyata-nyata di hadapan semua orang. ( Pengakuan pribadi seperti ini dapat disaksikan dalam peristiwa Pentahbisan Pendeta, Peneguhan Penatua-Diaken, Pelayanan Sakramen Baptisan dan Peneguhan Sidi Jemaat ).
B.2. AKU MENGAKU bermakna PERSEKUTUAN
AKU MENGAKU juga mengandung konotasi PERSEKTUAN (Persekutuan Orang-Orang Percaya). AKU yang mengaku bukan berdiri sendiri saja, melainkan AKU bersama dengan ORANG-ORANG YANG DISELAMATKAN TUHAN DALAM PERSEKUTUAN IMAN bersaksi kepada semua orang : TUHAN Allah telah menganugerahkan KESELAMATAN hanya oleh iman di dalam karya Yesus Kristus dan Roh Allah.
I.1.1. ALLAH YANG ESA
Kesaksian Kitab Suci : Ulangan 6 : 4
Yesaya 45 : 5, 6
Allah yang esa itu juga adalah Juru selamat (Yud. 25).
I .1.2. BAGI
Kata ” bagi ” digunakan dalam alenia ini untuk menunjuk pada tindakan Allah atas alam semesta. Hal itu berkaitan erat dengan ” keadaan ” alam semesta yang sedang mengalami kekacauan (Yun chaos; Ibr. tohu wawohu). Dalam gagasan berpikir orang-orang Israel, kekacauan merupakan sebuah keberadaan (eksistensi) yang memiliki tenaga ( = kekuatan – Yun: dunamos - dunamos) perusak, penghancur kehidupan. Dalam ke – ada – an kacau tidak ada kemungkinan bagi pertumbuhan dan pembangunan kehidupan menuju yang baik. Kekacauan selalu berkonotasi mematikan dan meniadakan kehidupan.
Allah melihat kekacauan itu sebagai sesuatu yang tidak baik, yang tidak memungkinkan kehidupan bertumbuh dan berkembang. Oleh karena itu, Allah bekerja menertibkan kekacauan . Lebih baik dikatakan : ” Allah bertindak menia-dakan – mematikan - kekuatan kekacauan sebagai kuasa yang menghancurkan kehidupan. ” Tindakan Allah tersebut harus dimengerti dari sudut panang kesaksian penulis Kitab Kejadian sebagai :
-
Melalui tindakan itu Allah menghukum dan mematikan kuat-kuasa si Pengacau (konotasi lainnya adalah Iblis, Setan, Kuasa Kegelapan, Kuasa Jahat dan sejenisnya).
-
Melalui tindakan itu pula Allah memperlihatkan keunggulan (superioritas) - Nya yang menghidupkan
-
Tindakan Allah itu harus dibaca sebagai bentuk nyata dari KARYA PENYELAMATAN.
- Tindakan itu bermakna : ” Allah memberi kehidupan kepada alam semesta ”, sama seperti Dia memberi ” nefesh ” ke dalam tubuh yang mati, sehingga dapat hidup dan bergerak (Kej. 2:7) .
Dengan demikian Gereja memahami dan mengakui, bahwa kehidupan itu diawali dan didasarkan pada pekerjaan Allah. Hidup itu berawal pada kebaikan yang nampak dalam pekerjaan-Nya dan yang dianugerahkan kepada ciptaan-Nya .
I.1.3. ALAM SEMESTA
Kitab Suci menjelaskan, bahwa alam semesta adalah makhluk ciptaan Allah (Kej.1:1; Yes. 45:12) .
I.1.4. PENCIPTAAN
Gereja memahami penggunaan kata ” penciptaan ” bukan sebagai kata yang bersifat statis. Penciptaan, ketika kata itu dipakai, memiliki makna ” kelanjutan yang memiliki tujuan ” dan ” kesinambungan dari serentetan kejadian yang berproses ”. Dengan demikian penciptaan langit dan bumi dan seluruh ciptaan (creature) di dalamnya selalu berproses ” menuju kesempurnan ”.
Penjelasan itu tidak bermaksud mengatakan, bahwa ” segala sesuatu ” yang diciptakan Allah belum selesai; melainkan ” segala sesuatu ” hasil karya Allah itu harus dikembangkan dan ditingkatkan oleh manusia mencapai tujuan Allah, yakni: kesempurnaan. Memang benar, Kitab Suci menyaksikan :
NASKAH
”Allah melihat bahwa semuanya itu baik ” (Kej.1:10,12,18)
Yang dimaksudkan penulis adalah Allah menilai hasil pekerjaan-Nya BAIK . Secara kualitatif hasil pekerjaan Allah itu bermutu, berbobot. Demikianlah Gereja memahami arti penciptaan itu.
I.1.5 KEJATUHAN MANUSIA KE DALAM DOSA
Kesaksian Kitab Suci : Kejadian 3
Mazmur 14 : 1 – 3
Roma 3 : 10 – 12
I.1.6. MAUT
Maut tidak sama persis dengan kematian. Maut merupakan suatu keadaan yang dialami seseorang, ketika ia melanggar perintah, memberontak melawan kedaulatan Allah. Maut dapat dialami seseorang dalam keadaan masih bernyawa.
I.1.7. SAMPAI AKHIR ZAMAN
Idiom ini perlu dimengerti dalam dua hal :
- AKHIR ZAMAN,
- SAMPAI AKHIR ZAMAN
Untuk dapat lebih dipahami, kita harus menjawa pertanyaan : APAKAH YANG DIMAKSUDKAN DENGAN AKHIR ZAMAN ?
-
AKHIR ZAMAN adalah keadaan di mana seluruh kegiatan berhenti, tidak bergerak atau mati (alat penunjuk waktu berhenti, manusia mati, peredaran benda-benda angka-sa mengelilingi matahari berhenti, dan lain-lain).
Sesungguhnya, latar belakang dari kedua kata tersebut berpangkal pada nama dewa Yunani : Kairos dan Kronos . Kairos ( Kairos ) adalah dewa yang menguasai dan memberikan kebaikan; sedang Kronos ( Kronos ) adalah Dewa yang menguasai waktu.
WAKTU , DALAM GAGASAN KITAB SUCI
Dalam Kitab Suci diterjemahkan ke dalam BahasaYunani (LXX = S EPTUAGINTA ) kita menemukan beberapa jenis kata terkait dengan waktu. Akan tetapi kata-kata tersebut berbeda artinya.
Rentang waktu yang berjalan dari masalampau ke masa depan.
- KAIROS ( kairos ; Ibr. et atau mo’ed )
Kata kairos menunjuk pada ” saat tertentu ” dalam rentetan waktu yang berjalan menuju masadepan, terjadi ” kesempatan (saat) penting dalam sejarah kehidupan seseorang atau sebuah bangsa”. ” Kesem-patan ( saat )” itu bersifat positif, berisikan berkat dan keberuntungan. Markus, penulis Injil, memakai kata tersebut untuk menyatakan saat kehadiran Yesus Kristus untuk menggenapi nubuat Perjanjian Lama (Mrk. 1:15)
NASKAH
”Kata-Nya: ” Waktu ( kairos ) - nya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil”.
Dalam Perjanjian Baru kata Kairos sering digunakan terkait pada Yesus Kristus. Penulis Ibrani memakainya terkait dengan kepulangan orang Israel dari Babel. Penulis memahami ” kairos ” (kairos) sebagai ” kesem-patan (saat) anugerah” untuk kembali ke Yerusalem. Sementara Lukas memakai ” kairos " (kairos) sebagai penunjuk kepada Yesus Kristus yang datang menyela-matkan Yerusalem (Luk. 19:43-44),
NASKAH
Sebab akan datang harinya, bahwa musuhmu akan mengelilingi engkau dengan kubu, lalu mengepung engkau dan menghimpit engkau dari segala jurusan, dan mereka akan membi-nasakan engkau beserta dengan pendudukmu dan pada tembokmu mereka tidak akan membiarkan satu batupun tinggal terletak di atas batu yang lain, karena engkau tidak mengetahui saat , bilamana Allah melawat engkau."
padahal orang-orang yahudi dan pemuka agamanya gagal memahami maksud kedatangan Yesus (Luk. 12:56).
NASKAH
”Hai orang-orang munafik, rupa bumi dan langit kamu tahu menilainya, mengapakah kamu tidak dapat menilai zaman ini ? ”
Sama seperti keyakinan iman orang-orang percaya pada masa rasul-rasul, Gereja masakini pun percaya, bahwa sekarang ini juga Allah masih bekerja untuk menyelamatkan manusia dan alam semesta (Yoh. 5:17). Malahan saat penyelamatan itu lebih dekat (Rom. 13:10). Oleh karena itu TUHAN Allah mengingatkan Gereja dan orang percaya, agar lebih giat melakukan kebaikan dan menggunakan kesempatan yang dianugerahkan ( Kol. 4:5) TUHAN dengan sebaik-baiknya untuk melakukan perbuatan baik.
|
| |
ALENIA II |
Bahwa Yesus Kristus 1) telah mati, bangkit dan naik ke surga 2) menjamin keselamatan orang percaya dan membebaskannya dari kuasa dosa 3), derita dan maut 4). Dengan demikian relasi manusia dengan Allah dan relasi manusia dengan sesama ciptaan-Nya telah dipulihkan. Hal itu akan senantiasa kami peringati melalui sakramen : Baptisan 5) dan Perjamuan 6) . |
|
|
I.2.1. YESUS KRISTUS
A. Arti Kata
Yesus Kristus berasal dari perbendaharaan kata Bahasa Yunani : ’Iesu (Ibr. Yesua, Yehoshua ) = YANG MENYELAMATKAN dan ”Kristos” (Ibr : Mesiah ; Arab = Masih ) = YANG DIURAPI. Jadi kedua kata itu dapat diterjemahkan:
- DIA YANG MENYELAMATKAN adalah DIA YANG DIURAPI atau
- JURU SELAMAT itu adalah RAJA YANG DIURAPI
B. Kedua nama itu diberikan kepada Yesus (Luk. 2:21)
I.2.2. NAIK KE SURGA
Idiom ” NAIK KE SURGA ” juga ” TURUN DARI SURGA ” mengandung makna spiritual . NAIK KE SURGA sama artinya dengan KEMBALI KE DALAM KEMULIAAN ALLAH , sedang TURUN DARI SURGA bermakna ” mengosongkan diri menjadi sama dengan manusia ” (Flp. 2:7-8)
1.2.3. DOSA
Kitab Suci memiliki beragam kata Ibrani dan Yunani yang dapat diterjemahkan : DOSA . Namun penerjemahannya pun harus dilihat sesuai dengan ayat, perikop dan kitab di mana kata tersebut ditemukan. Hal ini perlu dipikirkan, sebab tiap penulis Kitab Suci memiliki latar belakang pengetahuan dan pengenalan yang beragam sesuai konteks tentang kata atau kalimat yang digunakannya.
Salah satu kata yang dipakai terkait erat dengan DOSA , dalam Bhs Ibrani disebut ” hatat ” . Kata itu berarti : ” pelanggaran terhadap Hukum Allah ”; kemudian diterjemahkan ke dalam Bhs Yunani ” amartias ”. Terjemahan itu baik, tetapi tidak seluruh maknanya tepat, sebab kata ’ amartias ” mengandung banyak sekali maknanya dalam Filsafat Yunani. Dengan demikian, jika kita ingin memahami arti kata ” amartias ”, maka kita harus memahami gagasan Filsafat Yunani yang terkandung di dalam kata tersebut. Jika diterjemahkan secara acak kita dapat berbuat kekeliruan.
Akan tetapi untuk memudahkan kita menjelaskan kata DOSA , maka ada beberapa pengertian yang dapat dikemukakan berdasarkan kesaksian Alkitab:
I.2.4. SAKRAMEN
Sakramen adalah perbuatan suci yang ditetapkan Yesus Kristus untuk dilakukan di dalam Gereja-Nya. Sakramen itu adalah firman Allah yang dilakukan. Perbuatan sakramental itu mengandung janji Allah kepada umat-Nya, menjamin pengam-punan dari dosa, hidup kekal bersama Allah, berdasarkan kematian dan kebangkitan Kristus Yesus.
HANYA DUA SAKRAMEN KETETAPAN GEREJA
Gereja memutuskan dan menetapkan pelaksanaan dan penyelenggaraan Sakramen sebagai TANDA dan LAMBANG , yakni :
- BAPTISAN KUDUS, dan
- PERJAMUAN KUDUS
Dalam Jemaat Kristen mula-mula sakramen bukan saja dipahami sebagai peringatan akan karya penyelamatan yang Kristus telah lakukan , akan tetapi juga pemberian anugerah berdasarkan iman dan kuat-kuasa Roh kudus . Baptisan dan Perjamuan sama nilainya dengan Firman Alllah yang diberitakan. Jadi tidak bioleh ada pelayanan sakramen tanpa pemberitaan Firman Allah. Hanya di dalam penerangan Firman Allah, sakramen memiliki nilai iman dan menunjuk pada keselamatan.
Sakramen Baptisan dan Perjamuan telah digunakan sebagai lambang pada perbuatan-perbuatan suci dalam Perjanjian Lama, seperti Sunat ( Kej. 17:11; Kol. 2:11-12 – digantikan oleh Baptisan) dan Paskah ( Kel. 12: 7-8,13; 23:14-17; I Kor. 5:7 – kemudian dilanjutkan dalam Perjamuan Kudus.) Baptisan Kudus dan Perjamuan Kudus itu menunjuk pada makna anugerah Allah ke atas komunitas perjanjian , dan yang menuntun tiap orang percaya lebih dekat kepada Allah. Baptisan dan Perjamuan secara eksplisit menunjuk pula pada makna penebusan dalam Kristus dan persekutuan dengan Diri-Nya melalui pimpinan Roh-kudus (Kis. 11:23-27; Rom. 6:3-5; Tit. 3:5; I Kor. 11:23-27; Yoh. 6: 53-58,63; Kol. 2:11-12).
Gereja mengadakan dua sakramen sesuai yang diamanatkan Yesus Kristus, sebagaimana yang tertulis di dalam Perjanjian Baru:
A. SAKRAMEN BAPTISAN ( Mat. 28:19; Kis. 2:38 )
DASAR PERAYAAN LITURGI BABTISAN
Gereja melaksanakan pembaptisan kepada orang-orang yang mengakui imannya dengan nyata-nyata dalam pertmuan Ibadah Jemaat. Pembaptisan itu didasarkan atas perintah Kristus Yesus :
NASKAH
” Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptis- lah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus ” ( Mat. 28:19)
BAPTISAN ADALAH METERAI KESELAMATAN
Baptisan diperlukan Gereja untuk melegalisasi dan melegitimasi keselamatan yang diterima hanya oleh iman di dalam Kristus Yesus dan dimeteraikan oleh Rohkudus (Efs. 1:7-14; Tit. 5:5). Rohkuduslah yang menuntun orang mengakui Kristus Yesus selaku Tuhan (I Kor. 12:3). Dan, karena pertolongan Roh-kudus orang percaya menyerahkan diri dibaptiskan.
GEREJA MENETAPKAN PEMBAHARUAN PERJANJIAN SEBAGAI PENGGANTI BAPTISAN ULANG
Perpindahan Agama adalah hak azasi manusia sesuai dengan pilihan hati nurani dan keputusan akalbudinya. Gereja mengormati setiap keputusan yang dipilih orang percaya. Akan tetapi sebelum pilihan keputusan itu ” menjadi ketetapan hati ” dari warganya, Gereja perlu melaksanakan pengembalaan khusus, agar yang bersangkutan dapat memahami makna keputusan yang dipilihnya.
Pengembalaan Gereja bertujuan positif, yakni : membim-bing warganya untuk mengerti dan mema-hami anugerah keselamatan yang telah diterimanya dari Allah. Sekalipun Gereja tidak dapat menghalangi keinginan warga yang akan berpindah agama, namun sekurang-kurangnya membuka pemahaman tentang akibat (konsekwensi) yang akan dijalaninya kemudian (Mat. 12: 31-32) , sehingga yang bersangkutan mempertimbangkan kembali keputusan yang dipilihnya.
Perpindahan agama tidak mengharuskan Gereja secara otomatis menghapuskan yang bersangkutan dari daftar keanggotaan Gereja, sebab Allah tidak menghendaki seorang pun binasa (........) . Dia juga yang akan mengutus Roh-Nya ke dalam hati dan pikiran yang bersangkutan, sehingga ” suatu waktu ”, yakni : menurut waktu yang sudah ditetapkan Allah , ia akan bertobat dan kembali ke dalam persekutuan Jemaat.
Dan jika yang bersangkutan itu bertobat dari dosa penyangkalan imannya akan Kristus Yesus, maka Gereja, sesuai dengan ketetapan Gerejawi yang telah diputuskan bersama, tidak lagi melakukan PEMBAPTISAN ULANG , melainkan kepada yang ber-sangkutan diberikan kesempatan MEMBAHARUI IMAN (JANJI) -nya. Pemba-haruan perjanjian akan dilakukan sesuatu dengan tata cara yang dsudah ditetapkan Gereja.
CARA PEMBAPTISAN
Menurut kesaksian Kitab Suci, Kristus Yesus tidak pernah mewariskan CARA PEMBAPTISAN . Apa yang dialami Kristus Yesus di Sungai Yordan, bukanlah CARA PEMBAPTISAN yang diwajibkan untuk diberlakukan oleh Gereja. Pembaptisan yang dilakukan oleh Yohanes Pembaptis kepada Kristus Yesus adalah ritus Agama Yahudi yang harus dijalani oleh warganya.
Oleh karena itu, Persidangan Gerejalah yang akan menentukan CARA PEMBAPTISAN dengan mempertimbangkan tradisi gerejawi yang selama ini berkembang di dalam pelaksanaan baptisan.
KEESAAN SAKRAMEN GEREJA
Masalah yang dihadapi Gereja : bagaimanakah orang-orang percaya dari denominasi lain yang sudah dibaptiskan dan berpindah keanggotaan gerejanya .
Gereja memahami dan mengakui, bahwa Sakramen yang diwajibkan Kristus Yesus untuk dilakukan adalah SAKRAMEN BAPTISAN dan SAKRAMEN PERJAMUAN . Sama seperti TUHAN Allah itu Esa, maka Esa jugalah seluruh karya-Nya. Oleh karena itu, setiap orang dewasa yang percaya kepada Kristus Yesus yang berpindah keanggotaannya tidak perlu dibaptiskan kembali. Akan tetapi, yang bersangkutan wajib mengikuti proses belajar ( KATEKISASI GEREJA ), agar ia mengetahui dan mengerti dengan sungguh-sungguh PEMAHAMAN IMAN GEREJA yang telah ditetapkan oleh Persidangan Sinode.
BAPTISAN DEWASA DAN KATEKISASI
Untuk mencapai hasil maksimal dari tujuan KATEKISASI yang dimaksudkan di atas, Gereja mengadakan KELAS KATEKISASI KHUSUS bagi orang atau orang-orang dewasa (baik secara individual maupun keluarga) yang BERPINDAH AGAMA . SILABUS dan KURIKULUM katekisasi itu diadakan berdasarkan PEMAHAMAN IMAN GEREJA .
Penjelasan tentang BAPTISAN ANAK dan DEWASA
Sesuai dengan kekayaan rohani yang terpelihara rapih dan berkembang sepanjang sejarahnya, Gereja memilih dan menetapkan dua jenis Pembaptisan, yakni :
1. BAPTISAN ANAK
Kitab Suci memberikan kesaksian, Allah membuat perjanjian kasih-karunia dengan orang beriman (Abraham). Terkait dengan Perjanjian Kasih Karunia T UHAN Allah memberi ” tanda perjanjian ” ( meterai ) untuk dikenakan kepada setiap orang beriman, yakni : SUNAT . Akan tetapi SUNAT sebagai tanda perjanjian telah dinodai dosa umat-Nya (Israel). Kitab Suci menyaksikan :
NASKAH
Dan Tuhan telah berfirman : " Oleh karena bangsa ini datang mendekat dengan mulutnya dan memulia-kan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya menjauh dari pada-Ku, dan ibadahnya kepada-Ku hanyalah perintah manusia yang dihafalkan , ” (Yes. 25:13; bd. Mat. 15:8-9; Mrk. 7:6-7)
dan lagi dikatakan-Nya :
” Sebab itu sunatlah hatimu dan janganlah lagi kamu tegar tengkuk. Dan T UHAN , Allahmu, akan menyunat hatimu dan hati keturunanmu, sehingga engkau mengasihi T UHAN , Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu, supaya engkau hidup (Ul. 10:16; 30:6; bd. Rom.2:29).
Oleh karena perbuatan Israel, ”SUNAT” sebagai ” tanda perjanjian kasih karunia ” telah lumpuh kekuatannya. Manusia butuh akan ”tanda perjan-jian yang baru” . Dan, TUHAN Allah menganuge-rahkannya ke atas kehidupan manusia di dalam dan melalui pekerjaan Kristus Yesus. Di dalam Kristus , SUNAT yang menjadi bayang-bayang dari tanda perjanjian digenapi-Nya. Paulus bersaksi :
NASKAH
Dalam Dia kamu telah disunat, bukan dengan sunat yang dilakukan oleh manusia, tetapi dengan sunat Kristus , yang terdiri dari penanggalan akan tubuh yang berdosa (Kol. 2:11).
SUNAT KRISTUS
Penggunaan ” tanda keselamatan ” (SUNAT) ditransformasikan Paulus ke dalam iman perjanjian baru tentang KEMATIAN dan KEBANGKITAN Kristus.
Makna SUNAT dalam Agama Yahudi terletak pada ”darah yang tercurah” sebagai dasar pembuatan perjanjian (Ibr. qarat berith ). Sebab itu, Paulus mentrasformasikan ”darah perjanjian yang tercurah” itu tertuju pada KEMATIAN Kristus. Pada penyaliban itulah ”darah Kristus telah dicurahkan” untuk mengikat Allah – manusia dan, sekaligus, membenarkan manusia di hadapan Allah. Oleh karena itu, Paulus menuliskan
Gereja mengimani dan mengakui, bahwa TUHAN Allah mengikat perjanjian dengan Abraham dan keluarganya. Keluarga itu termasuk anak-anak. Dengan demikian anak-anak pun dimasukkan ke dalam perjanjian kasih-karunia dan menerima berkat perjanjian.
Gereja menetapkan perkataan perkataan Kristus Yesus, sesuai dengan Perayaan Liturgi Baptisan kepada Anak-Anak :
NASKAH
"Biarkanlah anak-anak itu, janganlah menghalang-halangi mereka datang kepada-Ku; sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Sorga." (Mat. 19:14)
PERAYAAN LITURGI BAPTISAN ANAK
Perjanjian Kasih-Karunia dianugerahkan Allah ke atas manusia secara individual dalam kesatuan persekutuan dan atau dianugerahkan ke atas ko-munitas di mana tiap-tiap orang yang percaya (termasuk anak atau anak-anak) bersekutu.
2. BAPTISAN – PENEGUHAN SIDI ORANG DEWASA
Gereja menerima realitas dari keragaman hidup beragama dalam masyarakat Indonesia. Gereja pun menghargai kebebasan dan hak azasi yang dimiliki tiap individu. Hal seperti itu pun terjamin dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945 pasal 29 : 1 – 2.
Oleh karena itu, Gereja terbuka dan menyambut setiap orang berasarkan pengakuan iman dengan nyata-nyata, tanpa paksaan, tidak terdorong dan didorong pihak lain, melainkan dengan kesadaran sendiri datang kepada Gereja dan mengakui Kristus Yesus selaku Tuhan dan Juruselamat.
Sesuai dengan Ketetapan Gereja dalam Persi-dangan Sinode, maka kepada orang-orang yang berpindah agama (keyakinan), Gereja melaksana-kan PENEGUHAN SIDI JEMAAT secara bersamaan dengan BAPTISAN nya. Pelaksanaan BAPTISAN bagi orang dewasa tidak dipisahkan dari PENEGUHAN SIDI .
Cerita tentang Bendahara Negeri Etiopia (Kis. 8:26-40) menjadi pembanding yang digunakan untuk menjelaskan keyakinan Gereja tentang BAPTISAN DEWASA dan PENEGUHAN SIDI . Hal tersebut diuraikan sebagai berikut :
Ayat 28 : Orang itu sedang dalam perjalanan pulang dan duduk dalam keretanya sambil membaca kitab Nabi Yesaya.
Filipus : ”Mengertikah tuan apa yang tuan baca ?” (ay.29)
Sida-Sida : ”Bagaimanakah aku dapat mengerti, kalau tidak ada yang membimbing aku ? (ay.30)
”Aku bertanya kepadamu, tentang siapakah nabi berkata demikian?” (ay. 34)
Ayat 34 : Mulailah Filipus berbicara dan bertolak dari nas itu ia memberitakan Injil Yesus kepadanya.
Sida-Sida : ”Apakah halangannya, jika aku di-baptis ?” (ay.36).
Filipun : ”Jika tuan percaya dengan segenap hati, boleh ” (ayat 37-a)
Sida-Sida : ”AKU PERCAYA, bahwa YESUS KRISTUS adalah ANAK ALLAH” (Ayat 37-b)
Ayat 38 : Orang Etiopia itu menghentikan kereta itu, dan keduanya turun ke dalam air....., dan Filipus mem-baptis dia.
Kesimpulan dari cerita Lukas tentang proses yang dilalui Sida-Sida Etiopia adalah :
-
Rohkudus membuat orang Etiopia itu membaca kesaksian Kitab Suci tentang Injil Yesus.
-
Roh Allah mengantar Filipun untuk bertemu dengan orang Etiopia dan menjelaskan makna Kitab Yesaya.
-
Orang Etiopia yang sudah memahami Injil Yesus itu minta dibaptiskan.
Melalui cerita itu Gereja memahami, bahwa orang-orang dewasa wajib mengikuti proses belajar untuk mengetahui, mengenal dan mengerti sekaligus mengaku iman dengan nyata-nyata Injil Yesus, barulah menerima sakramen Baptisan. Proses pembelajaran itu disebut dalam tradisi Gereja sebagai KATEKISASI .
PERAYAAN LITURGI BAPTISAN – PENEGUHAN SIDI ORANG DEWASA
Dengan demikian gereja menyimpulkan dan mene-tapkan, setiap orang dewasa yang akan menerima sakramen Baptisan wajib mengikuti proses belajar ( KATEKISASI ), kemudian dibaptis dan diteguh-sidikan dalam Ibadah Jemaat dengan memakai Liturgi Gereja yang telah ditetapkan dalam Persidangan Sinode.
B. SAKRAMEN PERJAMUAN ( Mat. 26 : 26-29 )
HARI RAYA PASKAH (Kel.12; Im. 23:4-8; Bil. 9:1-14; Ul. 16:1-2) adalah sebuah peristiwa yang harus dirayakan tiap keluarga dari Israe (Kel.12:47), karena TUHAN Allah bertin-dak menyelamatkan umat-Nya dari penindasan di Mesir (Kel.12:51). Pada hari itu, seluruh keluarga Israel menyembelih anak domba jantan yang tak bercacat cela, dimasak tanpa adonan. Darah anak domba itu dilaburkan pada ambang pintu rumah, sebagaimana yang dilakukannya pada malam terakhir menjelang eksodus.
Dalam perkembangannya anak domba yang dimasak tanpa ragi itu dimakan bersama dengan ”roti tak beragi” (Ul. 16:3-8). Kedua Perayaan itu : Paskah dan Hari raya Roti tidak beragi digabungkan menjadi satu perayaan yang memaknai eksodus Israel dari Mesir.
MAKNA PASKAH DALAM TRADISI JEMAAT MULA-MULA
Tradisi Yahudi tentang PASKAH itu diambil alih Jemaat Kristen Abad Pertama untuk mengingat rayakan KEMATIAN – KEBANGKITAN Kristus Yesus. Lambang dan tanda anak domba jantan yang tidak bercacat cela direlevansikan secara langsung pada Kristus. Kristus Yesus disebut: ANAK DOMBA ALLAH ” yang menghapus dosa dunia ” (Yoh. 1:29,36; Kis. 8:32; I Kor. 5:7; Ibr.9:12; 10:4;13:20; 1 Pet. 1:19).
Yohanes mencatat ucapan Yesus tentang diri-Nya: ” Akulah roti hidup ” (Yoh. 6:32-35,48).
Kedua lambang itu, yakni: roti dan anggur yang melambangkan tubuh dan darah yang memaknai karya Allah yang menyelamatkan di dalam Kristus Yesus. Roti dan Anggur merupakan sarana ( tran- subtantia ), agar orang percaya dpat menghayati karya Allah yang menyelamatkan itu. Perayaan Perjamuan Kudus itu diikuti oleh semua orang percaya yang telah mengakui imannya dengan nyata-nyata (diteguh-sidikan) di dalam Ibadah Jemaat.
Gereja merayakan KEMATIAN – KEBANGKITAN Kristus melalui Ibadah Perjamuan Kudus sesuai dengan perintah Yesus (I Kor. 23-25; bd. Mat.26:26-29; Mrk. 14: 22-25; Luk. 22:15-20) .
Gereja tidak mengenal BAPTISAN ORANG MATI; oleh karena itu Gereja tidak memberlakukannya. |
| |
ALENIA III |
Bahwa dalam 1) karya keselamatan Allah telah memanggil 2) Abraham 3) menjadi umat Perjanjian Lama, juga Israel dari perhambaan di Mesir dan menyelamatkannya 4) dari kepunahan. Allah meneruskan 5) kasih setiaNya dengan melindungi dan menuntun umatNya kembali yang terserak dan tercerai berai di tanah pembuangan 6). |
|
|
I.3.1. DALAM
Kata ini (khususnya pada Pokok KESELAMATAN – Alenia 2) dipakai mentitik beratkan ” proses ” dari karya penyelamatan Allah di dalam sejarah Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru.
I.3.2. MEMANGGIL
Kata kerja ” memanggil ” (dalam Bahasa Yunani) merupakan kata dasar, jika dijadikan kata majemuk jadian, dapat memiliki banyak arti. Kata kerja ”memanggil ” dari Bhs. Yunani ” kalew ” ( kalew ). Kata kerja tersebut banyak digunakan dalam Kitab Suci dengan kasus kata kerja aktif (berimbuhan me + panggil + an atau me + panggil). Hal itu menunjukkan, bahwa subyeklah yang memiliki inisyatif memanggil; contohnya : Allah memanggil umat-Nya . Melalui kalimat itu terkandung maksud :
-
Allah yang berinisyatif memanggil
-
Umat adalah objek yang mendengar panggilan. Ia tidak memiliki inisyatif apapun untuk datang kepada Allah. Umat pasif. Ia menanti panggilan.
-
Karena panggilan itu bersumber dari Allah, maka Dia bertindak dalam kuat-kuasa Roh-Nya untuk menggerakkan umat datang memenuhi panggilan-Nya.
EKKLESIA
Kata Yunani itu menjadi dasar kata ” ekklesia ”. Kata EKKLESIA terdiri dari dua patah kata, yakni:
- Ek = keluar
- Kalew = memanggil
Jadi ” ekklesia ” = ” orang-orang yang dipanggil keluar ” (bd. Mat. 16:18; I Pet. 2:9)
I.3.3. MEMANGGIL ABRAHAM
Nama aslinya Abram , kemudian hari namanya diganti menjadi Abraham . Dia bukan orang Israel. Dia berasal dari Ur-Kasdim (Kej. 11:27-32). Ia tidak mengenal YHWH yang diajarkan Musa. Dia seorang penyembah Allah. Nama Allahnya : P AKAD A BRAHAM ( Allah yang disembah Abraham – Kel. 3:16; 4:5).
Allah yang disembah Abraham itu memanggil dan me-nyuruhnya pergi meninggalkan semua yang dimilikinya di Ur-Kasdim menuju sebuah negeri yang ditunjukkan Allah kepadanya (Kej. 12:1). Panggilan dari Allah yang disembah Abraham itu mengandung nilai-nilai penting. Di kemudian hari nilai-nilai itu menjadi landasan kuat bagi pertumbuhan dan perkembangan Agama Israel, antara lain :
- Abraham mengenal Allah Yang Berjanji
- Abraham menerima berkat (tanah) Perjanjian
- Abraham menjadi Bapa dari Umat (Israel) Perjanjian
- Abraham menjadi alat pengukur keselamatan bagi bangsa-bangsa
ABRAHAM DALAM KEKRISTENAN
Pada masa pertumbuhan kekristenan pemakaian tradisi tentang Abraham dikaitkan dengan faktor etis-spiritual dan iman belaka. Abraham menjadi simbol dalam hal :
-
Melalui Abraham janji Allah tentang kesela-matan itu sampai kepada bangsa bangsa di dalam karya Yesus Kristus . Allah menetapkan Abraham sebagai leluhur Tuhan kita: Yesus Kristus (Mat. 1:18; Luk. 3:34)
-
Abraham menjadi tokoh legendaris karena ketaatan dan kesetiaannya mengikuti pangillan Allah yang tak dikenal, tetapi ia percaya, bahwa Allah yang memanggil, Dialah TUHAN yang setia menyertai dan menolong hidupnya. Iman itu yang diperhitungkan Allah sebagai kebenarankepada Abraham (Kej. 15:6; Rom.4:3; Gal. 5:6; Yak. 2:23)
-
Abraham menjadi figur kehidupan seorang sahabat Allah. Dari Abraham Gereja dapat belajar tentang nilai-nilai etis-spiritual dan iman yang perlu dijadikan sikap MANUSIA BARU.
Dengan demikian Abraham memiliki tempat khusus dalam pandangan Gereja tentang Sejarah Keselamatan. Hal itu dimulai dari pernyataan Allah, ketika Dia memanggil Abraham ” Engkau akan menjadi berkat, dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat ” (Kej.12:2b, 3) . Rasul Paulus menguraikan pemahamannya tentang peranan Abraham dalam sejarah keselamatan. Menurut Paulus, INJIL (dalam arti kata: BERITA SUKACITA ) telah lebih dulu disampaikan kepada Abraham. Dan yang dimaksudkan paulus itu adalah Janji Allah yang terkandung dalam panggilan Abraham (Kej.12:1-3;15:6;Gal. 3:6-14). Janji itu juga terkandung dalam panggilan Allah kepada tiap orang yang percaya kepada Yesus Kristus (bd. I Pet. 3:9).
Sambil berjalan Gereja memberitakan pengakuan imannya tentang Yesus Kristus, bahwa Dia adalah keturunan Abraham ( Mat. 1:18; Luk 3:34 ). Berdasarkan kesaksian Jemaat Kristen mula-mula dan semua tradisi yang diterima Gereja (GPIB) sampai hari ini, Gereja pun memahami dan meyakini, percaya dan mengakui, bahwa ” berkat Abraham ” dapat sampai kepada bangsa-bangsa non-Yahudi melalui Yesus Kristus, keturunan Abraham (bd. Gal. 3:4). Namun berkat Abraham itu dapat diterima hanya oleh iman di dalam nama Tuhan Yesus Kristus.
Surat Paulus kepada Jemaat di Galatia amat besar pengaruhnya dalam perkembangan Teologia Reformasi. Latar belakang per-kembangan teologia Gereja Katolik Roma pada Abad Pertengah-an telah mendorong kelahiran Gereja-Gereja Reformasi. Gerakan Reformasi yang dimulai sejak Dr Marthin Luther mengajukan 99 Dalil telah menciptakan perkembangan baru dalam sejarah perkembangan gagasan teologi Gereja yang berdampak pada PENATALAYANAN Gereja. Paulus berkata :
NASKAH
Jadi kamu lihat, bahwa mereka yang hidup dari iman , mereka itulah anak-anak Abraham. Dan Kitab Suci, yang sebelumnya mengetahui, bahwa Allah membenarkan orang-orang bukan Yahudi oleh karena iman, telah terlebih dahulu memberitakan Injil kepada Abraham: " Olehmu segala bangsa akan diberkati ." Jadi mereka yang hidup dari iman, merekalah yang diberkati bersama-sama dengan Abraham yang beriman itu . Karena semua orang, yang hidup dari pekerjaan hukum Taurat, berada di bawah kutuk. Sebab ada tertulis: "Terkutuklah orang yang tidak setia melakukan segala sesuatu yang tertulis dalam kitab hukum Taurat." Dan bahwa tidak ada orang yang dibenarkan di hadapan Allah karena melakukan hukum Taurat adalah jelas, karena: " Orang yang benar akan hidup oleh iman." Tetapi dasar hukum Taurat bukanlah iman , melainkan siapa yang melakukannya, akan hidup karenanya. Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat dengan jalan menjadi kutuk karena kita, sebab ada tertulis: "Terkutuklah orang yang digantung pada kayu salib!" Yesus Kristus telah membuat ini, supaya di dalam Dia berkat Abraham sampai kepada bangsa-bangsa lain, sehingga oleh iman kita menerima Roh yang telah dijanjikan itu (Galatia 3 : 7 – 14)
I.3.4. MENYELAMATKAN
SELAMAT adalah kata keadaan. Akan tetapi prasa ” Allah menyelamatkan ” dalam perbendaharaan kata-kata Ibrani selalu dikaitkan dengan nama ” Yeshu’ah ”. Dalam Kamus Besar bahasa Indonesia ( halaman 895 ), kata SELAMAT berarti
- terhindar dari bahaya, aman sentosa,
- sejahtera,
- tidak kekurangan sesuatu apapun,
- tidak mendapat gangguan,
- tidak gagal,
- beruntung,
- tercapai maksudnya
Bahasa Yunani ditulis : sozo dan soteria . Pengertiannya mencakup:
- Selamat dari kekuatan yang mengancam kehidupan,
- Selamat dari eksekusi hukuman mati,
- Selamat dari penyakit yang mematikan.
Bahasa Ibrani ditulis : yeshu’ah . Akar kata tersebut dapat diterjemahkan : Secara fundamental kata itu mencakup pengertian :
- keadaan yang lapang (kosong) atau luas,
- keadaan yang longgar,
- tidak membahayakan.
Kata tersebut memiliki konotasi yang baru, jikalau ia digunakan dalam teks tertentu sesuai konteks yang melatar belakangi teks (alkitab) yang dibaca, antara lain :
- Bebas dari keadaan yang mendesak atau menekan,
- Bebas dari kurungan, penjara;
- Bebas dari penindasan atau penjajahan
Jadi pada hakekatnya kata ”selamat” itu menunjuk pada sebuah keadaan (situasi-kondisi), di mana seseorang berada di dalam keadaan yang bebas dari petaka yang dapat mematikan kehidupannya.
KESELAMATAN , menurut kesaksian Alkitab
KESELAMATAN adalah pokok utama dalam teologi Alkitabiah. Sebab semua kitab di dalam Alkitab bersaksi tentang pikiran–rencana–tindakan Allah yang membebaskan dan menyelamatkan.
PERJANJIAN LAMA
Hampir seluruh penulis Kitab-Kitab dalam Perjanjian Lama memberitakan pekerjaan ” pembebasan ” dan ” penyelamatan ” Allah ke atas Israel, sejak Mesir sampai dengan Babel. Kebenaran Allah itu diwujud nyatakan dalam perbuatan keselamatan ke atas manusia yang tidak mampu menyelamatkan dirinya, mereka yang miskin, kehilangan semangat (Yes. 40:18-20; 44:9-20; 46:6-7).
PERJANJIAN BARU
Kekristenan memiliki banyak gagasan yang mengung-kapkan KESELAMAT-AN melalui pekerjaan Kristus. Dalam Perjanjian Baru kita dapat menemukan bebagai gagasan dari setiap penulis dengan beragam latar belakang komunitasnya dipelihara dan ditumbuh kembangkan dalam Gereja. Gereja menjadi sarana yang berfungsi menyeimbangkan (harmoni-sasi) keberagaman gagasan tentang KESELAMATAN tersebut. Dalam hal seperti itu, Gereja mula-mula tidak memberikan sanksi terhadap gagasan mengenai KESELAMATAN. Keberagaman format gagasan tentang KESELAMATAN di dalam kehidupan berjemaat-bergereja (pada masa rasul-rasul) mengemukakan kepada kita sekarang ini, bahwa tidak satupun model (gagasan) yang dipakai secara eksklusif di dalam Gereja-Jemaat. Gagasan tentang KESELAMATAN , sesungguhnya, hendak mengungkapkan ” misteri ilahi ” dalam kehidupan profan.
Ada beberapa model gagasan tentang KESELAMATAN yang dapat dikemukakan :
1. KRISTUS : ALLAH MENJADI MANUSIA
Gagasan ini mengalir dari pemahaman tentang pelanggaran dan pemberontakan manusia terhadap Allah, sehingga manusia harus menerima penghukuman.
KESELAMATAN terjadi karena Allah mengasihi manusia. Dia relah mengampuni dosa manusia. Pikiran dan perasaan-Nya itu tampak jelas dalam pekerjaan Kristus di dalam dunia.
Pengorbanan Kristus di Salib itu menjadi bukti dari pikiran dan perasaan Allah yang menyelamatkan. Oleh karena itu, manusia perlu meresponsnya. Sikap merespons itu perlu ditampakkan melalui penyesalan dosa dan kemauan untuk bertobat serta kembali ke dalam persekutuan dengan Allah. Dan, sikap itu hanya dapat terjadi, jika kita dipimpin oleh Roh Allah dan mengasihi Allah .
Dalam hal ini Kristus menjadi model (contoh) bagi barang siapa yang membutuhkan keselamatan.
2. KRISTUS : IMAM BESAR AGUNG
Dalam sistem keagamaan Israel Perjanjian Lama , K ESELAMATAN itu tampak melalui SISTEM IBADAH , khususnya PERSEMBAHAN KORBAN dan TUGAS IMAM BESAR . Dalam model seperti ini Imam Besar berfungsi sebagai ” mediator ” di antara Allah dan manusia. Ia mempersembahkan korban keselamat-an demi pengampunan dosa umat-Nya. Setetes darah anak domba yang dikorbankan itu --- dalam penghukuman, bukan pendamaian --- sebagai lambang dari penderitaan umat karena penin-dasan dosa. Dalam MODEL ini, Kristus dipahami selaku Imam Besar Agung kita, yang membiarkan Diri-Nya menjadi korban persembahan bagi keselamatan kita.
3. KRISTUS : PANGLIMA BALATENTRA SURGAWI
Model ini dapat dibaca dalam cerita-cerita tentang perang antara Allah melawan Kuasa Iblis. Dalam perang seperti ini Kristus yang dipahami sebagai Pemimpin telah mengalahkan kuasa dosa dan maut melalui penyaliban-Nya. Dan melalui kebangkitan-Nya Dia menampilkan Diri sebagai Kristus Pemenang serta membawa sejumlah besar orang keluar dari perhambaan dosa (lih. Mrk. 3:23-27; I Kor. 15:24-28).
4. KRISTUS : PENEBUS
Model ini menempatkan pemahaman tentang pekerjaan Kristus sebagai Penebus. Istilah ” penebus ” itu selalu dimengerti dalam dunia ekonomi. Orang-orang berdosa adalah mereka yang berhutang, diperbudak, dan dipenjarakan oleh kuasa iblis. Orang-orang ini tidak memiliki kekuatan untuk membebaskan dirinya. Oleh karena itu, Kristus menyerahkan Diri-Nya sebagai ” tebusan ” bagi banyak orang. Paulus menuliskan: ” Kita telah ditebus dengan harga yang mahal ” (.....)
5. SATISFIKASI
Model ini melukiskan drama di peradilan, di mana Allah adalah Hakimnya dan manusia sebagai pelanggar Hukum Allah. Dakwaan terhadap manusia : bersalah; sedangkan keputusannya : hukuman mati. Tetapi ketika keputusan itu akan dilaksanakan, datanglah seorang yang benar mengajukan dirinya sebagai pengganti terpidana mati. Dialah Kristus. Dia menyerahkan diri-Nya menggantikan manusia untuk memikul kutukan Allah. Model ini dimodifikasi digunakan Calvin Yohanes dalam pengajarannya
6. DUNIA PERADILAN
Model ini sering digunakan dalam kekristenan di Barat. Gambaran model ini lebih banyak di kemukakan oleh Anselmus melalui tulisannya: C UR D EUS H OMO ? ( Mengapa Allah menjadi Manusia ). Calvin menggunakan gambaral model ini untuk menjelaskan keselamatan yang dianugerakan Allah dalam gagasan tentang PEMBENARAN ( Justification ) dan PENGAMPUNAN ( Forgiveness ). Kedua topik tersebut merupakan isu sentral, apabila kita ingin memahami pikiran Calvin tentang Keselamatan. Topik yang dikemukakan Calvin itu pula bukan barang baru, tapi Calvin menemukannya dalam tulisan Paulus (juga Agustinus, Bishop dari Hyppo ) tentang : PEMBENARAN OLEH ANUGERAH ALLAH KARENA IMAN .
I.3.5. MENERUSKAN
”TUHAN Allah meneruskan kasih setia-Nya dengan melindungi dan menuntun umat-Nya ” .
Gereja menyatakan hal itu sebagai kebenaran yang tidak dapat dipungkiri semua orang. Sejak dahulu Allah telah memimpin manusia menuju keadaan yang baik. Berulang-ulang manusia memberontak dan menolakn kedaulatan Allah atas kehidupannya. Manusia memutuskan meninggalkan Allah mahakasih, tetapi TUHAN Allah tidak pernah berhenti mengasihi manusia. Dia melanjutkan pekerjaan selamat dengan terus menerus mencurahkan kebenaran (Ibr tzadaqah) , keadilan ( Ibr. misphat) , kasih-setia (Ibr. emeth ) dan kasih-sayang (Ibr. rachamim – Hos. 2:19 ) ke atas manusia, sekalipun (menurut Hosea) : manusia itu seperti seorang isteri yang suka menyeleweng terhadap cinta-kasih Allah, suaminya. Allah tidak pernah berhenti mengasihi manusia, sekalipun manusia sering menyangkal-Nya .
I.3.6. KASIH SETIA
Kitab Suci Perjanjian Lama menggunakan istilah Ibrani ” emeth ” yang diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia ” kasih-setia ”. Istilah ini berarti : kasih TUHAN Allah yang ’ terus menerus ” diberikan kepada umat-Nya tanpa mengenal batas waktu dan tidak dapat dihentikan oleh dosa. Kata itu sering dipakai bergandengan dengan kata Iibrani : ” olam meolam ” – Ing. ” ever and forever ” – mengatasi waktu dan tempat. Kasih-setia Allah itu tidak dapat berubah (Yes. 54:10):
NASKAH
Sebab biarpun gunung-gunung beranjak dan bukit-bukit bergoyang, tetapi kasih setia-Ku tidak akan beranjak dari padamu dan perjanjian damai-Ku tidak akan bergoyang , firman TUHAN, yang mengasihani engkau.
Kasih-setia Allah itu merupakan salah satu sifat yang melekat pada diri-Nya sendiri. Israel dan Gereja menerimanya berulang-ulang dan terus menerus, sebab Dia, TUHAN, ALLAH kita, berpegang pada perjanjian kasih-karunia yang diikatkan dengan Abraham, leluhur orang percaya.
Kasih TUHAN itu tidak dapat dihentikan oleh kuasa apapun dan tidak dapat dibatasi oleh ruang tempat. TUHAN Allah memberikannya secara cuma-cuma (Lat. Gratio ). Sifat dari kasih-setia TUHAN itu teguh, kokoh, kekal. Hal itu diperlihatkan TUHAN melalui dan di dalam kehadiran Yesus Kristus. Berdasarkan realitas keselamatan itu, gereja dan orang percaya meletakkan seluru pengharapan akan masadepan ke dalam kepemimpinan-Nya.
I.3.7. PEMBUANGAN
Menurut kesaksian Kitab Suci, pembuangan adalah penghukuman TUHAN Allah yang dijatuhkan kepada manusia (Israel) karena kesalahan dan dosanya.
Kesaksian Kitab Suci : II Raja |
24 : 14–17 ; |
bd.Yer.51;31 |
| |
25 : 6 |
|
Yeremia |
13 : 19 |
|
| |
20 : 4 |
|
| |
52 : 27 |
|
Yehes. |
39 : 23 |
|
|
| |
ALENIA IV |
Bahwa dalam karya keselamatan melalui Yesus Kristus, Allah telah menyelamatkan dan menghimpun 1) umat Perjanjian Baru 2) yaitu Gereja 3) yang diutus-Nya untuk memberitakan Injil 4) dan menghadirkan tanda-tanda kerajaan Allah 5) di atas bumi. |
|
|
I.4.1. MENYELAMATKAN DAN MENGHIMPUN
MAKNA KATA
SELAMAT (Kt Sifat, Keadaan); MENYELAMATKAN (Kt. Kerja Aktif); DISELAMATKAN (Kt. Kerja Pasif); KESELAMATAN (Kt. Benda); PENYELAMATAN (menunjuk pada proses dari pekerjaan selanmat yang sedang dilakukan).
Dalam alam pemikiran israel keselamatan itu dikaitkan dengan keadaan dibebaskan dari Penyakit, dibebaskan dari penjajahan kuasa kegelapan. Jika pekerjaan menyelamatkan itu dikaitkan dengan Allah, maka hal itu harus dilihat dalam kaitan dengan ” manusia jatuh ke dalam dosa ”. Keselamatan itu dapat dinikmati umat, jika ia taat dan setia melakukan kehendak Allah seperti yang tertulis di dalam Kitab Suci .
Gereja (GPIB) menjelaskan keselamatan itu adalah pekerjaan Allah yang mengampuni dosa manusia di dalam kematian Yesus Kristus. Keselamatan itu adalah anugerah Allah semata-mata. Manusia tidak ikut di dalam karya tersebut. Allah sendirilah yang bekerja. Pekerjaan itu tampak jelasa di dalam perbuatan dan perkataan Yesus Kristus.
Manusia adalah pendosa (Rom. 3:10-13, 22). Ia dilahirkan di dalam dosa. Dosa asal. Dosa asal bukanlah dosa yang dilakukan secara individual; akan tetapi karena ia adalah manusia, sama seperti Adam yang berdosa dan menerima maut ( I Kor. 14:21-22) . Oleh karena manusia secara individual adalah pendosa, ia membutuhkan anugerah keselamatan. Sebab ia tidak mungkin mampu menyelamatkan diri sendiri. Manusia membutuhkan keselamatan dari hukuman Allah.
Karena keberdosaannya manusia dihukum Allah. Ia, manusia, mengalami maut kekal. Maut itu bukanlah sebuah penghukuman yang bersifat alami. Maut itu berkaitan dengan kekuatan kuasa Iblis yang memisahkan manusia dari hidup kekal bersama Allah. Jadi kematian orang percaya bukanlah disebabkan karena dosa (Why. 14:13), tetapi kematian seperti itu adalah keharusan biologis yang dialami manusia, karena ia dibuat dari tanah liat.
Mengatasi masalah itu, Allah mengutus Jesus Kristus, agar Dia mati disalibkan demi penyelamatan manusia.
NASKAH
”Karena demikian besar kasih Allah kepada dunia ini, sehingga dikaruniakan anak-Nya yang tunggal, supaya barang siapa yang percaya kepada-Nya tidak binasa melainkan beroleh hidup kekal” (Yoh.3:16)
Yesus Kristus memenangkan keselamatan itu melalui pengorbanan-Nya di salib (Yoh.17:4). Oleh karena itu, Allah memberikan (Yoh. 4:6,9) dan menaklukan segala sesuatu kepada-Nya I Kor. 15:27-28; Efs. 1:22) , termasuk orang-orang percaya. Tujuan akhir dari penyelamatan itu adalah persekutuan hidup bersama Allah di dalam Kerajaan Surga. Oleh karena itu, setiap manusia harus menerima dan mengakui Yesus Kristus secara pribadi, supaya dapat menerima hidup kekal di dalam kerajaan Surga.
Berdasarkan pengakuan iman dengan nyata-nyata kepada Yesus Kristus, Allah mengutus Roh-Nya untuk memeteraikan dan menjamin keselamatan tiap orang baik di atas bumi sampai ke dalam Kerajaan-Nya (Efs. 1:13-14). Oleh karena itu, barangsiapa yang telah mengakui dan menerima Yesus Kristus, selaku Tuhan dan Juruselamatnya, ia harus menanggalkan seluruh perbuatan berdosa, kemudian memperlihatkan pekerjaan yang baik sebagai ungkapan syukur kepada Allah (Efs. 2:10; Kol. 1:17; I Tes.5:18).
Untuk dapat berbuat baik, orang percaya harus memberi diri dipimpin oleh Rohkudus (Gal.5:25), yang akan mengubahnya roh dan pikirannya (Efs. 4:23) terus menerus (Kol. 3:10), sehingga ia menjadi manusia baru di dalam Kristus (II Kor. 5:17) dan yang menyerupai Kristus (Rom. 12: 2-3). Orang-orang percaya yang dikuasai Roh kristus itu melakukan pekerjaan Kristus untuk membuktikan kebenaran iman dan pengharapan kepada Dia. Memang orang percaya itu belum sempurna di dalam dunia ini. Tetapi ia harus berjalan sambil membuktikan kebenaran iman sampai waktu yang ditentukan Allah bagi pengangkatannya sebagai ahli waris kerajaan Allah (Gal.5:5). Waktu itu adalah pemulihan dan pengang-katan kita sebagai anak-anak dan ahli waris kerajaan Allah pada saat kedatangan Kristus kembali .
Sebagai Gereja yang memahami diri dalam kesatuan dengan Ajaran Calvin, kita percaya, bahwa keselamatan itu adalah anugerah Allah hanya oleh iman kepada Yesus Kristus (Gal. 3:8,14).
NASKAH
Kitab Suci, yang sebelumnya mengetahui, bahwa Allah membenarkan orang-orang bukan Yahudi oleh karena iman , telah terlebih dahulu memberitakan Injil kepada Abraham: "Olehmu segala bangsa akan diberkati. Yesus Kristus telah membuat ini , supaya di dalam Dia berkat Abraham sampai kepada bangsa-bangsa lain, sehingga oleh iman kita menerima Roh yang telah dijanjikan itu."
Kita tidak diselamatkan karena kita mau bertobat; juga karena kita melakukan perbuatan baik (Rom. 1:16-17; Gal. 2:16; 3:11; Efs. 1:8-9; 2:4-5,8-9); sebab pada dasarnya seorang manusia pun tidak ingin hidup bersama Allah. Kita semua telah menyeleweng dan bejat, tidak ada yang berbuat baik, seorangpun tidak (Maz. 14:3). Kita bertobat karena Allah dalam kasih-karunia-Nya , oleh Yesus Kristus, telah memanggil ( bd. Rom. 11:29 ) kita untuk hidup bersama dan menerima berkat-Nya.
I.4.2. UMAT PERJANJIAN BARU
Kesaksian Kitab Suci :
I.4.3. GEREJA
SEJARAH PERTUBUMHAN DAN PERKEMBANGAN ISTILAH EKKLESIA.
Saat ini ada banyak dan beragam pandangan tentang istilah GEREJA. Kita dapat mencatatnya seagai berikut :
-
Seluruh orang kristen yang percaya sebagai Gereja yang bersifat universal;
-
Jemaat lokal yang berkumpul pada suatu tempat untuk beribadah;
-
Sebuah gedung yang dibangun untuk aktivitas ibadah;
- Denominasi;
- Para Pejabat Gereja serta pekerjaannya
Kecuali butir 1 dan 2 yang ditemukan dalam Perjanjian Baru, maka semua istilah yang terdapat dalam butir-butir berikutnya adalah perkembangan pemikiran dan pemahaman tentang istilah Gereja. Padahal menurut pandangan Jemaat mula-mula, istilah GEREJA itu dikaitkan dengan : ”Jemaat dan orang-orang kristen yang percaya di dalam suatu wilayah pelayanan ”. Kemudian di abad pertama gagasan itu berkembang menjadi : ” Orang-orang kristen yang berkum-pul di suatu bangunan rumah untuk memuliakan TUHAN ” (Roma 16:5;I Kor. 16:19; Kol. 4:15; Flm. 2).
Istilah GEREJA dalam Kitab Suci Perjanjian Baru terjemahan Yunani disebut : EKKLESIA. Istilah itu dipakai sebanyak 114 kali. Istilah itu digunakan dalam 17 Kitab dari 27 Kitab dalam Perjanjian Baru. Oleh karena itu, jika kita akan mengkaji istilah tersebut dalam PB ( Perjanjian Baru ), kita bukan hanya menguji penggunaan dan makna kata EKLESIA saja, tetapi juga kita harus melihat kesejajaran makna dan membandingkan kata itu dengan berbagai gambaran yang digunakan penulis-penulis PB. Lebih jauh lagi, kita harus melihat keterkaitannya dalam gagasan-gagasan teologi Israel tentang umat Allah pada Perjanjian Lama (PL).
Pada masa Israel PL, ”perkumpulan orang-orang percaya kepada YHWH” disebut EDHAH dan QAHAL Pada awalnya, kedua istilah ini tidak memiliki konotasi keagamaan; katakanlah sebagai bukti, QAHAL dalam Bilangan 22:4 berarti ” laskar besar ”. Istilah itu mengalami perkembangan pada masa sesudah pembuangan (post-exilis). Pada masa itu, istilah QAHAL lebih sering dipakai ketimbang EDHAH. Artinya pun mengalami pergeseran dan diberikan makna keagamaan. Istilah itu menunjuk pada PERSEKUTUAN UMAT ISRAEL YANG BERKUMPUL MENDENGAN HUKUM TUHAN dan UNTUK BERIBADAH KEPADANYA ( II Taw. 20:5; Ez. 10:12’ Neh. 5:13; 8:2), Selanjutnya QAHAL dipakai menyatakan bentuk ” qahal dari JHWH ” ( JEMAAT / UMAT YHWH ). Dalam proses perkembangan seperti ini, QAHAL bukan hanya menunjuk pada ”pertemuan orang-orang Israel untuk beribadah pada suatu perayaan tertentu”, melainkan secara spesifik sebagai JEMAAT / UMAT ALLAH yang memiliki karakter khusus dan berbeda dari perkumpulan atau bangsa-bangsa lainnya. Mereka menyebut dirinya UMAT PILIHAN JHWH YANG DIPANGGIL UNTUK BERIBADAH ”
Ketika Perjanjian lama diterjemahkan ke dalam Bahasa Yunani (selama Abad III – II seb. Masehi), kedua istilah itu ( EDHAH dan QAHAL ) disebut SYNAGOGE dengan menekan-kan makna PERKUMPULAN dan EKKLESIA dalam gagasan tentang ” ORANG YANG DIPANGGIL KELUAR ”. Kemudian istilah EKKLESIA itu lebih sering dipakai untuk menerje-mahkan QAHAL dan EDHAH , karena keduanya berasal dari kata kerja ” memanggil keluar ” atau ” memerintahkan keluar ”. Akhirnya frasa ” yang yang dipanggil keluar oleh TUHAN ” dipakai secara umum dalam teologi Gereja (maupun akademis) untuk mengungkapkan makna yang dimaksudkan dalam PL terjemahan Yunani, yakni : ” Israel yang telah dipanggil Allah sebagaimana yang dikatakan : QAHAL YHWH ” ( JEMAAT / UMAT TUHAN )
Kata itu dikaitkan kepada orang Kristen oleh Jemaat mula-mula, katika mereka menyebut dirinya: “ ISRAEL MILIK ALLAH” (Gal. 6:16 ), suatu UMAT PILIHAN atau BANGSA YANG KUDUS sebagai penolakan terhadap orang Yahudi yang menolah Mesias (I Pet. 2:9). Hal itu bermaksud menjadi alas an mengapa Jemaat disebut “ EKKLESIA MILIK ALLAH ” atau JEMAAT / UMAT MILIK TUHAN ” . Katakanlah sebagai contoh, ketika Paulus menuliskan surat kepada orang-orang Kristen di Korintus (I Kor.1:2) , ia menuliskan : ”
NASKAH
kepada jemaat Allah di Korintus, yaitu mereka yang dikuduskan dalam Kristus Yesus danyang dipanggil menjadi orang-orang kudus, dengan semua orang di segala tempat, yang berseru kepada nama Tuhan kita Yesus Kristus, yaitu Tuhan mereka dan Tuhan kita.
Dalam ayat ini Paulus menekankan gagasan tentang “ panggilan ” ( EKKLESIA , kata dasarnya adalah ” dipanggi l” atau ” memanggil keluar ”). Frasa : ” kepada jemaat Allah di Korintus... yang dipanggil menjadi orang-orang kudus ... yang berseru kepada nama Tuhan kita Yesus Kristus” dipakai Paulus untuk menunjukkan orang-orang Kristen di Korintus sebagai JEMAAT ALLAH. Sekalipun Perjanjian Lama terjemahan Yunani masih memelihara makna QAHAL dan EDAH dari Agama Israel, Paulus (dan juga Jemaat mula-mula) telah menyempitkan dan menghkususkan kata ” milik Allah ” untuk menyebut status orang Kristen mula-mula. Suatu JEMAAT ALLAH yang dipanggil oleh Allah untuk menjadi kudus . Tulisan itu menunjuk pada hubungan khusus yang terjalin dan dibangun berdasarkan panggilan Allah . Pang-gilan itu dilakukan Allah melalui Yesus Kristus, dan di dalam Dia, mereka (Jemaat Allah) dikuduskan bagi Allah.
I.4.4. MEMBERITAKAN INJIL
| Kesaksian Kitab Suci : |
Matius 28 : 18-20 |
| |
Markus 16 : 15, 20 |
Penjelasan :
TUHAN Allah memanggil dan mengutus murid-murid , yang juga disebut rasul-rasul , ke seluruh dunia. Hal itu bergema dalam Doa Yesus sebagai Imam Besar Agung yang dituliskan Yohanes ( Yoh. 17:20).
NASKAH
”Dan bukan untuk mereka ini saja Aku berdoa, tetapi juga untuk orang-orang, yang percaya kepada-Ku oleh pemberitaan mereka;...”
Doa Yesus itu menunjuk pada hasil pemberitaan Injil yang dilakukan para murid (=rasul=rasul). Jemaat dibangun di atas pengejaran para rasul.
I.4.5. TANDA-TANDA KERAJAAN ALLAH
Kesaksian Kitab Suci :
Tanda-tanda Kerajaan Allah dapat juga disebut : ”tanda-tanda Pemerintahan Allah ” . Gereja memahami dan mengakui, bahwa ”tanda-tanda Kerajaan Allah” itu tampak dalam berbagi ”penyataan Allah” baik secara langsung maupun tidak langsung, terbuka ataupun tidak terbuka. Tanda-tanda itu adalah :
-
YESUS KRISTUS dan seluruh pekerjaan yang dilakukan semasa hidup-Nya.
-
Tanda-tanda itu hadir melalui pemberitaan Injil Kristus dan pengajaran rasul-rasul.
-
GEREJA adalah tanda kehadiran Kerajaan Allah di dalam alam semesta.
-
Pekerjaan Gereja ( missio-ecclesianum ) adalah perbuatan orang percaya dalam bentuk kesaksian akan firman Allah (Injil Kristus), pelayanan sakramen dan pelayanan kasih.
Sifat atau kekhasan yang melekat pada tanda-tanda Peme-rintahan Allah atau Kerajaan Allah adalah :
A. |
DAMAI SEJAHTERA, |
Roma |
14 : 17 |
|
KEBENARAN DAN SUKACITA |
Yohanes |
14 : 27 |
B. |
KASIH |
I Korintus |
13 : 13 |
C. |
KEBENARAN, KEADILAN, |
Hosea |
2 : 18 – 19 |
|
KASIH SETIA, KASIH |
Galatia |
5 : 22 |
|
SAYANG DAN KESETIAAN |
|
|
D. |
KEBAIKAN |
Amos |
5 : 15 |
|
|
Mikha |
8 : 8 |
|
|
Matius |
5 : 45 |
E. |
IMAN, PENGHARAPAN |
I Korintus |
13 : 13 |
|
DAN KASIH |
I Yohanes |
4 : 19 |
F. |
TERANG BAGI DUNIA |
Yohanes |
8 : 12 |
| |
|
Matius |
5 : 13 |
| |
|
Yesaya |
49 : 8-B.a |
Sifat atau kekhasan itu adalah karunia Roh kudus yang tampak melalui perilaku ibadah Jemaat Allah, yang menjalankan pelayanan-kesaksian, sambil menyongsong kedatangan Raja Yesus kembali. Sifat atau karakter itulah yang membedakan Jemaat Allah (orang-orang kristen yang bersekutu) dari dunia di sekitarnya.
|
|
|
|
| |
|
|
| |
| |
ALENIA V |
Bahwa oleh kasihNya yang tiada tara 1), Allah telah mewujud nyatakan keselamatan itu sepenuhnya melalui pekerjaan Yesus Kristus 2). Supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa melainkan memperoleh hidup yang kekal 3). |
|
|
I.5.1. KASIHNYA YANG TIADA TARA
| Kesaksian Kitab Suci : |
Yohanes |
3 : 16 |
| |
I Yohanes |
4 : 8 – 10,19 |
| |
Mazmur |
40 : 11 |
Gereja percaya dan memahami serta mengakui, bahwa TUHAN itu Allah Mahakasih. Berdasarkan kasih-Nya TUHAN memilih dan memanggil Abraham, leluhur orang kristen yang percaya, agar Ia menjadi alat untuk membawa berkat keselamatan ke atas kehidupan manusia dan alam semesta.
Namun oleh ketegaran hati dan kefasikannya manusia memilih untuk hidup di luar kasih TUHAN. Dia, manusia, memberontak, melanggar, tidak setia dan tidak mengasihi TUHAN Allah, Penciptanya. Allah menghukumnya sejak dari manusia pertama: Adam. Ia dikeluarkan dari Taman eden (Kej. 3:24) --- demikian pula Israel, keturunan Abraham secara lahiriah, dihukum Allah karena dosanya. Israel dihukum buang ke Babilonia (I Rj. 24:14-15) --- sampai TUHAN Allah sendiri yang datang di dalam nama Yesus (Luk. 2;21) untuk menyelamatkan manusia dari dosa, sesuai pemberitaan rasul-rasul (Kis. 4:12). Kasih TUHAN itulah yang menutupi setiap pelanggaran dan dosa manusia (Yes. 44: 22; I Pet. 4:8b; I Yoh. 1:9; 4: 8-10,19) .
I.5.2. YESUS KRISTUS
I. PENGENALAN AKAN KESELAMATAN DIDALAM YESUS KRISTUS (SOTERIOLOGI)
Sepanjang sejarahnya, sejak Yesus Kristus kembali ke dalam kemuliaan Allah di surga (Kis. 1:10-11) sesuai kesaksian rasul-rasul sampai hari ini , Gereja berjalan sambil memberitakan dan mengajarkan , melayani dan bersaksi tentang Allah yang telah menyelamatkan melalui pekerjaan Yesus Kristus. Yesus Kristus itulah yang berkata (Yoh.14:6) :
YESUS KRISTUS : JALAN MENUJU KESELAMATAN
NASKAH
”AKUlah JALAN dan KEBENARAN dan HIDUP. Tidak seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui AKU ”
Gereja percaya dan mengakui, bahwa Kristus Yesus telah ditentukan Allah menjadi jalan pendamaian karena iman dalam darah-Nya (Rom. 3:25). Dengan demikian, tidak ada jalan lain yang diberikan Allah, dan tidak ada nama lain di luar Kristus Yesus (Kis. 4:12; bd. Flp. 2:10), baik di dalam surga maupun di dalam alam semesta, yang olehnya manusia diselamatkan. Dia juga menjadi ” jalan masuk (Rom. 5:2; Efs. 3:12) yang baru (Ibr. 10:20) ” kepada kasih-karunia yang mempersekutukan seluruh orang kristen dengan TUHAN Allah. Semuanya itu hanyalah anugerah Allah yang perlu ditopang oleh iman, supaya tiap orang kristen yang pecaya akan masuk ke dalam Kerajaan Allah.
I.1. YESUS ITU ALLAH SEKALIGUS MANUSIA
a. Yesus Kristus : ANAK–ALLAH
Ketika Israel dihukum TUHAN Allah dalam pembuangan di Babilonia, tidak ada seorang-pun yang dapat membebaskannya. Israel kehilangan kemerdekaan dan masa depan. Pada saat itulah TUHAN Allah berfirman :
NASKAH :
Aku, TUHAN, yang terdahulu, dan bagi mereka yang terkemudian Aku tetap Dia juga. (Yes. 41: 4b; 44:6; 48:12)
Melalui ucapan Yesaya, TUHAN mengingatkan Israel, bahwa Dialah YANG TERDAHULU . Artinya, TUHAN itu Allah yang disembah oleh Abraham, Ishak dan Yakub. Dia bekerja menyelamatkan Abraham dengan memberikan seorang anak yang melanjutkan keturunannya (Yes. 51:2). Dia yang menolong Yakub, ketika berhadapan dengan Esau, kakaknya. Dia yang mengubah yakub menjadi Bapa Bangsa Israel. Dia itu Allah yang terus menerus bekerja sampai hari ini (Yoh. 5;17) untuk mewujudkan anugerah keselamatan. Dia juga akan membebaskan Israel dari Babilonia, sama seperti yang telah dilakukan-Nya di Mesir (Kel. 20:1) . Dia, TUHAN Allah, tidak pernah berubah sepanjang waktu. Sama seperti TUHAN Allah menolong Yakub pasa masa kesusahan, demikian pula Israel ditolong-Nya (Yes. 41:14). Dialah Pencipta Israel (Yes. 43:15; 44:2) .
TUHAN Allah sendiri (Yes.48:11; bd. Yeh. 36: 22,32) yang mengerjakan penyelamatan atas Israel , umat -Nya. Suatu keselamatan yang tidak pernah berakhir dan tida dapat dihalangi kekal selama-lamanya (Yes.51:C.b, 8B.a).Pernyataan Yesaya, bahwa ALLAH SENDIRI YANG BEKERJA MENGADAKAN PENYELA-MATAN , menjadi dasar kokoh bagi pemaham-an dan pengakuan Gereja yang bersaksi dalam pemberitaan dan pengajarannya : Y ESUS adalah T UHAN Allah yang datang ke dalam dunia .
Sebutan ANAK yang digunakan Gereja tidak menunjukkan kemenduaan ( dikotomi ) dalam hakekat ( esensi, zat ) Allah. Ke- ANAK -an Yesus bukan pula menunjuk pada kerendahan kualitas hakekat-Nya dibandingkan dengan Allah Bapa, sebab sejak semula Kitab Suci telah mengatakan Yesus itu adalah ROH ALLAH (Mat. 1:18,20) .
Drama pengadilan Yesus di hadapan Mah-kamah Agama (Sandedrin)memperlihatkan kegentaran dan keraguan ulama Yahudi tentang kepercayaannya sendiri. Hal itu bergema dalam pertanyaan : ” Engkau ini Anak Allah ? ” (Luk.22:70-71). Yesus membalikkan pertanyaan imam-imam itu: ” Engkau sendiri mengatakan , bahwa Akulah Anak Allah”. Namun tanpa ragu-ragu, Gereja dan orang kristen yang percaya berpegang teguh pada pengakuan itu: Engkau adalah Mesiah Anak Allah yang hidup ” (Mat. 16:16). Inilah pokok pengakuan dan pengharapan Gereja.
Istilah ANAK menegaskan dan memperlihat-kan, betapa sulit manusia membahasakan ” penjelmaan Allah menjadi manusia ” (Yoh. 1:14). Dengan demikian, kita dapat memahami kesulitan yang diialami orang Yahudi dan pemuka agamanya menolak realitas ilahi yang ada di dalam manusia Yesus (Yoh. 10:33,36) .
b. Yesus Kristus : ANAK–MANUSIA
Kitab Suci menyaksikan dua hal tentang kasus ini : ” Firman itu telah menjadi manusia” (Yo.1:14) . Rasul Paulus menggunakan kata kerja ”menjadi” menunjukkan pekerjaan Allah ”mengambil rupa manusia” (Yun. ’ omoiwmati – homoiomati dari kata dasar humoios ) dan ” menjadi sama dengan manusia ” (Flp. 2: 7), demi melaksanakan rencana penyelamatan.
Untuk tujuan itulah Allah menjadikan diri-Nya sebagai manusia. Allah tidak lagi berbicara melalui perantaraan manusia. Allah tidak lagi bekerja melalui manusia. Akan tetapi Dia langsung bertindak ” membuat Diri-Nya dila-hirkan menjadi” manusia ”, dan mengalami ”keadaan sebagai manusia” (ayat 8).
Menurut Paulus, perbuatan Allah yang ”menjadi manusia’ menunjuk pada :
-
Sikap hati-Nya . Dia, yang adalah TUHAN dan RAJA, merendahkan diri sebagai manusia untuk merealisasikan tujuan-Nya.
-
Keber - ADA - an yang ilahi dalam rupa manusia. Keber - ADA - an Allah sebagai manusia merupakan keputusan-Nya, sekaligus menunjukkan kemahakuasaan-Nya yang tidak terbatas. Itulah sebabnya Paulus mengatakan : ”Dalam Dialah berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan Allah ” (Yun. plerwmaths qeothtox – pleroma tes theotetos – Kol. 2:9; bd. 1:19 )
-
Hakekat (esensi) dan keberadaan (eksistensial)-Nya tidak kelihatan (mis-teri = rahasia) membuka cadar melalui perupaan-Nya sebagai manusia.
Akan tetapi perlu dicatatkan, bahwa perihal Allah ” menjadi manusia ” tidak mengurangi keilahian-Nya, dan sekaligus, Ia tidak berdosa. Dia tetaplah Allah Mahakudus yang ber - ADA di dalam rupa manusia.
Dengan demikian idiom ANAK-ALLAH dan ANAK-MANUSIA memiliki arti khusus dalam pemberitaan Gereja saat ini, yakni: YESUS adalah ALLAH MAHA MULIA YANG MERENDAHKAN DIRI MENJADI SAMA DENGAN MANUSIA UNTUK MENYELESAIKAN PEKERJAANNYA SENDIRI .
I.2. SEBUTAN YESUS KRISTUS
A. |
YESUS KRISTUS : |
TUHAN |
|
|
Kesaksian Kitab Suci : |
Yesaya |
42 : 8 |
|
|
Filipi |
2 : 10 |
B. |
YESUS KRISTUS : |
ALLAH JURU SELAMAT |
|
|
Kesaksian Kitab Suci : |
Yesaya |
43 : 11 |
|
|
|
45 : 15b |
|
|
|
49 : 26 |
|
|
Kisah |
5 : 31 |
|
|
Filipi |
3 : 20 |
|
|
Titus |
3 : 6 |
C. |
YESUS KRISTUS : |
ALLAH PENEBUS |
|
|
Kesaksian Kitab Suci : |
Yesaya |
43 : 1 |
|
|
|
54 : 5 |
|
|
|
63 : 16 |
|
|
Galatia |
2 : 13 |
|
|
Ibrani |
9 : 15 |
D. |
YESUS KRISTUS : |
PEMBELA |
|
|
Kesaksian Kitab Suci : |
Roma |
8 : 34 |
E. |
YESUS KRISTUS : |
PEMBAHARU |
|
|
Kesaksian Kitab Suci : |
II Korintus |
5 : 17 |
|
|
Wahyu |
21 : 5 |
F. |
YESUS KRISTUS : |
JURU DAMAI |
|
|
Kesaksian Kitab Suci : |
II Korintus |
5:18–19 |
1.3. JABATAN – JABATAN YESUS
A. YESUS selaku IMAM
Penulis Kitab Ibrani paling banyak menulis tentang Yesus Kristus selaku IMAM BESAR AGUNG. Ia bukan menjadi Imam yang menaikkan Doa Syafaat dan membawa korban anak domba bagi keselamatan umat, seperti yang dilakukan Imam Besar dalam Perjanjian Lama; akan tetapi Dia sendirilah IMAM BESAR AGUNG yang ” menjadi korban pendamaian dan perantara ” (mediator) demi pengampunan dosa umat manusia.
B. YESUS selaku RAJA
Jabatan Yesus selaku RAJA sangat jelas pada nama-Nya : KRISTUS (Yun. kristos ; Ibr. Mesiah ; Arb. Masih ), berarti YANG DIURAPI. Istilah MESIAH, dalam gagasanAgama Israel selalu dihubungkan dengan RAJA YANG DIURAPI ALLAH , tetapi sekaligus YANG DINANTIKAN umat-Nya. Kata ” Mesiah ” itu bergema dalam pengakuan Jemaat Kristen mula-mula, sebagaimana yang diucapkan Petrus (Mat. 16:116)
C. YESUS selaku NABI
Kitab Suci menerangkan tentang fungsi nabi sebagai ” MULUT ALLAH ” dan ” ORANG YANG MENUBUATKAN MASA DEPAN ”. Yesus lebih dari pada seorang nabi. Dia adalah Allah Yang Berfirman (” Aku berkata kepadamu...” - Mat. 5: 18,20,22,26,28 dan lain-lain) dan Yang Berkarya (Yoh.10:37-38) di tengah manusia.
Berdasarkan JABATAN KRISTUS itulah Gereja mengartikan dan memahami JABATAN GEREJA yang diberikan kepada Jemaat (bd. Efs.4:11) . Namun Jabatan gereja itu perlu dihayati secara fungsional. Dengan kata lain, Jabatan Gereja hanya bermakna, jika ia berfungsi melalui pekerjaan pelayanan-kesaksian.
I.5.3. HIDUP KEKAL
Kesaksian Kitab Suci :
Di dalam Filsafat Bahasa (Philologi) dikenal apa yang disebut : metaliguistik ; yakni, kata, istilah, frasa dan kalimat yang dipakai oleh manusia untuk menggambarkan sesuai yang bersifat adikorati (ilahi, supranatural). A NAK -A LLAH termasuk dalam kategori demikian. Istilah A NAK –A LLAH , sesungguhnya, menunjukkan keterbatasan dan ketidak mampuan akalbudi manusia membahasakan P RIBADI Y ESUS yang ADALAH Allah sendiri. Dalam hal ini akalbudi tidak dapat menangkap maknyanya. Hanya iman yang dapat memahaminya. Berpikirlah berdasarkan I MAN . Lihatlah saja penyahutan Yesus terhadap pertanyaan Pilatus : “Engkau mengatakan…” (Yoh. 18:37) .
Yun. genomenoz - genomenos; dapat juga diterjemahkan : tinggal di dalam diri manusia ) |
| |
ALENIA VI |
Bahwa Yesus Kristus yang adalah Raja 1) dari segala raja dan Tuan dari segala tuan 2) akan menyatakan kepenuhan Keselamatan 3) pada saat Ia datang kembali kelak sebagai Hakim 4) dan Raja yang duduk disebelah kanan Allah Bapa yang Maha Kuasa 5). |
|
|
I.6.1. YESUS KRISTUS ADALAH RAJA
| |
Kesaksian Kitab Suci : |
Kisah |
17 : 7 |
I.6.2. RAJA DI ATAS SEGALA RAJA DAN TUAN DI ATAS SEGALA TUAN
| |
Kesaksian Kitab Suci : |
I Timotius |
2 : 2 |
| |
|
|
6 : 15 |
| |
|
Wahyu |
17 : 14 |
| |
|
|
19 : 16 |
I.6.3. KEPENUHAN KESELAMATAN
Kesaksian Kitab Suci :
I.6.4. YESUS KRISTUS ADALAH HAKIM
| |
Kesaksian Kitab Suci : |
Kisah |
10 : 42 |
| |
|
I Korintus |
4 : 4 |
| |
|
II Timotius |
4 : 1 |
I.6.5. DUDUK DI SEBELAH KANAN ALLAH BAPA
| |
Kesaksian Kitab Suci : |
Matius |
26 : 64 |
| |
|
Markus |
16 : 19 |
| |
|
Lukas |
22 : 69 |
| |
|
Roma |
8 : 34 |
| |
|
Efesus |
1 : 20 |
| |
|
Kolose |
3 : 1 |
| |
|
Ibrani |
10 : 2 |
| |
|
I Petrus |
3 : 22 |
Seluruh ayat yang disebutkan di atas menegaskan sebuah kenyataan iman, bahwa Yesus kristus yang dimuliakan itu, setelah kematian dan kebangkitan-Nya telah kembali memerintah di dalam Kerajaan Allah. Dia adalah Raja yang berkuasa sampai Dia menyatakan pemerintahan kelak pada waktu kedatangan-Nya kembali.
|
|
|
| |
|
|
| |
| |
ALENIA VII |
Bahwa keselamatan yang dikerjakan Kristus terbuka bagi seluruh umat yang ada di muka bumi yang terdiri dari berbagai suku bangsa. Dalam kasih-Nya yang tiada tara Allah mengaruniakan keselamatan, yakni: kemerdekaan 1) kepada bangsa Indonesia. Sebagai bangsa yang dimerdekakan bertanggung jawab mengupayakan pembebasan dari ketidakadilan 2), perusakan alam 3) dan pelecehan hak asasi manusia 4), kemerosotan etis moral 5) dan bentuk penindasan lainnya. |
|
|
I.7.1. KEMERDEKAAN
Allah mengerjakan penyelamatan atas manusia. Penyelamat-an itu tampak dalam berbagai bentuk konkrit, yakni:
- Pembebasan
- Pelepasan
- Penebusan
- Kemerdekaan
Pembebasan Israel dari perhambaan di Mesir dan dari penjajahan Babel menjelaskan, Allah tidak menghendaki terjadinya penjajahan manusia atas manusia dan bangsa atas bangsa. Oleh karena itu, kemerdekaan Bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah bagian yang tidak terpisahkan dari anugerah Allah (bandingkan Alinea III MUKADIMAH UUD 1945)
I.7.2. MENGUPAYAKAN PEMBEBASAN DARI KETIDAKADILAN
I.7.3. PENGRUSAKAN ALAM
Kitab Suci menyaksikan, Allah menciptakan manusia. Dia juga yang memberikan ” mandat ”, agar manusia ” mengusahakan ” dan ” memelihara ” alam (Kej.2:15). Pengusahaan (pemberdayaan – pemanfaatan Sumber Daya Alam) alam bertujuan untuk menjamin kelanjutan kehidupan manusia. Akan tetapi pengusahaan (pemberdayaan – pemanfaatan Sumber Daya Alam) juga harus ditata sedemikian rupa, sehingga menjamin keseimbangan ekosistem di dalamnya. Itulah yang dimaksudkan dengan ”pemeliharaan”.
Dalam proses itu manusia perlu memberikesempatan, agar alam dapat memperbaiki diri sendiri dan atau manusia merekayasa pembangunan sistem ekologi yang membuat alam mampu berdaur ulang.
I.7.4. HAK AZASI MANUSIA
TUHAN Allah yang menciptakan semua orang adalah sama (……). Dia memberikan kehidupan kepada manusia (Kej. 2:7). Dia menghendaki manusia membina, membangun dan menata hubungan sosial secara bertanggung jawab dengan menghormati dan menjunjung tinggi maertabat kemanusiaan, tanpa diskiriminasi atau pembedaan fungsi struktural ( dalam sistem kelembagaan) juga fungsi kodrati karena penciptaan (laki-laki dan perempuan). Karena itu, pemberdayaan Sumber Daya Manusia perlu dikembangkan dengan memperhatikan hak asasi manusia berdasarkan penciptaan Allah dan kelahirannya, sebagai berikut :
1. HAK ATAS KEHIDUPAN
TUHAN, Allah Pemberi hidup, tidak menghendaki seorang pun binasa. Dia menginginkan manusia mengembangkan hidupnya secara bebas dan bertanggungjawab. Tanggung jawab dan kebebasan itu harus dikembangkan manusia dalam relasi vertikan (dengan Allah) maupun relasi horisontal (dengan sesama manusia dan sesama ciptaan Allah lainnya). Dan, oleh karena itu, dalam proses mengembangkan–meningkatkan kualitas kehidupan, manusia harus saling mengasihi , saling menghormati , saling mendukung dalam hal-hal baik dan positif, memelihara persaudaraan sebagai makhluk ciptaan Allah.
TUHAN Allah memberikan kepada manusia hak dan kebebasan menyatakan pendapat tanpa membeda-kan ras, warna kulit, bahasa, agama, kebangsaan maupun status sosial, kekayaan, kelahiran dan status lainnya.
2. HAK HUKUM
Berdasarkan penciptaan-Nya Allah, memberikan hak untuk hidup layak kepada manusia. Oleh karena itu, tidak seorang pun menerima hak untuk mematikan, melenyapkan kehidupan, mengeksekusi kehidupan manusia karena alasan-alasan pelanggaran norma-norma masyarakat, norma-norma keagamaan dan hukum positif dalam negara.
Gereja, berdasarkan keyakinannya akan kasih dan pemeliharaan Allah , menentang dengan keras perlaku-an institusi apapun yang melakukan eksekusi hukuman mati , segala bentuk eutanasia (baik medis atas permin-taan penderita maupun atas keputusan institusi serta keluarga karena alasan-alasan sosial), kematian di atas kursi listrik, kematian karena ditembak berda-sarkan vonis intitusi hukum. Sebab tidak seorangpun di atas permukaan bumi dapat menciptakan dan memberikan kehidupan kepada manusia. Allah sajalah yang berhak menabut kehidupan dari tubuh jasmani manusia, sebab Dialah Pencipta manusia. Allah berfirman :
NASKAH
” Jangan membunuh ” (Hukum Taurat VI – Kel.20 : 13)
Setiap orang memiliki hak yang sama di hadapan hukum. Oleh karena itu, tidak seorangpun diberikan hak untuk menganiaya, membantai, membunuh dan mematikan kehidupan orang lain , sekalipun orang tersebut melakukan tindak kejahatan publik. Allah memberikan tanggungjawab kepada Pemerintah untuk memeriksa dan mengadili tindak kejahatan publik yang dilakukan manusia sebagai anggota masyarakat (Rom. 13:4).
Karena manusia memiliki hak hidup, maka ia wajib diperlakukan sama di hadapan hukum. Oleh karena itu, dalam proses pemeriksaan awal sampai pembuktian kesalahannya, seorang tersangka harus dilindungi hukum dan tidak diperlakukan secara sewenang-wenang. Penguasa tidak boleh melakukan tindakan diskriminasi sosio-politis, sosio-religius, sosio-kultural untuk maksud dan tujuan pembenaran atas dakwaan dan atau tuduhan kepada tersangka sampai kejahatannya dapat dibuktikan secara otentik dan akurat di hadapan hukum. Oleh karena itu, Penguasa Negara harus melindungi hak hidup setiap warganya, sekalipun ia melakukan tindak kejahatan publik (Hukum Taurat VI – Kel. 20:13).
3. KEBEBASAN BERAGAMA DAN MEMILIH / MENENTUKAN KEYAKINAN SENDIRI
Setiap orang diberikan kebebasan memilih dan menentukan bagi dirinya sendiri keyakinan religius atau cara penyembahan kepada Allah Yang Benar. Oleh karena itu :
-
Pemerintah atau Penguasa Negara wajib melindungi kebebasan memilih dan menentukan agama menurut keputusan hati nurani dan kesadaran akalbudi tiap warganya.
-
Tidak boleh terjadi pemaksaan atau dorongan kekerasan yang mempengaruhi kehendak bebas warga negara untuk memilih keyakinan religiusnya.
-
Setiap orang harus menghargai keputusan bathin seseorang untuk berpindah agama, sekalipun hal itu bertentangan dengan ajaran agama yang dianut sebelumnya.
4. HAK ATAS KESEHATAN
Setiap manusia yang diciptakan Allah diberikan hak hidup sehat. Oleh karena itu, Penguasa Negara harus menjamin kesehatan warganya. Oleh karena itu, Gereja dan Negara harus bekerja bersama-sama dalam memelihara dan meningkatkan kualitas perawatan hidup sehat bagi tiap individu maupun kolektif serta berjuang untuk melestarikan kesehatan lingkungan masyarakat.
5. HAK ATAS PROPERTI
A. HAK KERJA MANUSIA
Tiap orang memiliki hak dan kebebasan untuk memiliki harta benda, sejauh kepemilikan itu sah secara hukum dan tidak bertentangan dengan alasan-alasan keagamaan serta nilai-nilai etis-moral.
PEKERJAAN ADALAH HAK MANUSIA
Kerja bukan saja merupakan kewajiban manusia terhadap sebuah institusi yang memberi pekerjaan. Kitab Suci menyatakan, bahwa pekerjaan itu hak manusia yang diberikan oleh Allah (”... dengan bersusah payah engkau akan mencari rejekimu dari tanah seumur hidupmu ” – Kej. 3:17 ). Sekalipun ucapan itu merupakan ” kutukan Allah ” ke atas manusia berdosa, namun ia harus dimengerti secara positif. Allah menghendaki manusia bekerja, agar dari hasil pekerjaan ia mencukupi kebutuhan hidupnya .
Dengan demikian Gereja dan Negara perlu memikirkan, merencanakan, menjabarkan dan menciptakan kesempatan dan lapangan pekerjaan bagi membantu warganya mencapai keadilan, yak-ni : kesejahteraan hidup yang bernilai ekonomis.
Dalam kerangka berpikir seperti itu, Gereja dan Negara wajib memberikan penghargaan atas jasa kerja yang bernilai ekonomis secara memadai (berasarkan penilaian atas prestasi menurut aturan-aturan yang berlaku) kepada setiap pekerja. Pemberian itu bertujuan membagi (sharing) kesejahteraan kepada pekerja yang melakukan kewajibannya secara baik, benar dan bertanggung-jawab (Maz.126:5,6).
B. HAK KERJA PEKERJA GEREJA
Yang dimaksudkan dengan PEKERJA GEREJA adalah :
-
Pendeta / Pegawai Gereja yang diangkat dengan Surat Keputusan dan yang berdinas aktif (organik)
-
Karyawan Gereja di tingkat sinodal dan karyawan gereja di tingkat Jemaat serta karyawan tidak tetap yang diangkat dengan Surat keputusan jemaat Lokal.
Dalam lingkungan kehidupannya Gereja wajib mengatur jaminan kesejahteraan bagi Pelayan Firman Allah dan karyawan yang bekerja.
6. PERLINDUNGAN HAK ANAK DAN PEREMPUAN
Kitab Suci memberikan kesaksian tentang sikap dan pandangan Yesus terhadap anak atau anak-anak, seperti demikian :
NASKAH
Lalu orang membawa anak-anak kecil kepada Yesus, supaya Ia meletakkan tangan-Nya atas mereka dan mendoakan mereka ; akan tetapi murid-murid-Nya memarahi orang-orang itu. |
Tetapi Yesus berkata: "Biarkanlah anak-anak itu, janganlah menghalang-halangi mereka datang kepada-Ku; sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Sorga." |
Lalu Ia meletakkan tangan-Nya atas mereka dan kemudian Ia berangkat dari situ (Matius 19:13-15) |
Bertolak dari teladan Yesus Kristus kepada anak atau anak-anak, Gereja menyatakan pendapat tentang PERLINDUNGAN HAK ANAK, sebagai berikut :
| A. |
Anak atau anak-anak adalah pemberian Allah ke dalam keluarga (Maz.127:3). Ia dilahirkan berda-sarkan perintah TUHAN Allah kepada suami isteri (Kej. 1:28a). Oleh karena itu, anak atau anak-anak perlu dilindungi terhadap kekerasan di dalam keluarga dan masyarakat (Efs.6:4;Kol. 3:21). Anak atau anak-anak harus menerima pendidikan dan pengajaran untuk mencapai masadepan yang baik (Maz. 126:4-5; Amsal ....; Efs. 6:4b) . |
| |
Akan tetapi karena keadaan tertentu anak atau anak-anak dapat tidak menikmati hak-haknya sebagai manusia, seperti kematian orangtua. Oleh karena itu, Gereja dan Negara bertanggung jawab menghidupi dan memelihara, memberikan jaminan sosial (pelayanan karitas), memberikan perlindungan hukum, memberikan jaminan pendidikan kepada anak atau anak-anak terlantar dan yatim piatu (bd. Yak.1:26-27). |
| B. |
PERLINDUNGAN ATAS PEREMPUAN |
| |
| 1. |
PEREMPUAN MENIKAH SAH |
| |
Hubungan antara laki-laki dan perempuan dalam perkawinan adalah sama dalam fungsinya. Perempuan yang diperisterikan sah secara hukum dan diberkati di dalam Ibadah Jemaat harus dihormati dan dikasihi (Kol.3:19) sesuai dengan tanggungjawab sosialnya yang dilakuka di dalam keluarga (Amsl 31:12; Kol. 3:18; Efs.5:22). |
| 2. |
PEREMPUAN BELUM MENIKAH |
| |
Allah mencipptakan manusia perempuan (Ibr. isyah) dan memberikannya kepada manusia laki-laki (Ibr. haisyh) menjadi ” penolong yang sepadan ” untuk membangun kehidupan secara bersama-sama. Penulis Kitab kejadian mencatat : |
|
| |
NASKAH
”Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia ( Kej.2:18b ). Dan dari rusuk yang diambil TUHAN Allah dari manusia itu, dibangunnyalah seorang perempuan, lalu dibawan-Nya kepada manusia itu (Kej. 2:22). Lalu berkatalah manusia itu: ”Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku. Ia akan dinamai perempuan, sebab ia diambil dari laki-laki ” (Kej.2:23).
Berdasarkan pernyataan Kitab Suci tersebut, setiap perempuan memiliki kesempatan kerja yang sama dengan laki-laki serta harus dilindungi dan dibela terhadap ancaman kekerasan yang ditimpakan secara sengaja maupun tidak sengaja. |
| |
|
| C. |
PERLINDUNGAN ATAS HAK KAUM MISKIN |
| |
Penjelasan :
Yang dimaksudkan dengan KAUM MISKIN adalah :
-
Seseorang atau orang-orang yang karena kelahirannya menderita kelainan psikologis dan biologis (cacat mental dan cacat pisik).
-
Seseorang atau orang-orang yang karena sesuatu hal telah menyebabkan ia kehilang-an masadepannya, seperti: janda, anak yatim piatu, orang atau orang-orang seba-tangkara. Mereka ini berada di dalam tekanan ekonomis, masalah psikologis dan mental-spiritual.
-
Seseorang atau orang-orang yang karena keadaan tertentu diberhentikan dari peker-jaannya (karena pengurangan tenaga kerja, tetapi bukan disebabkan masalah yang dilakukannya).
-
Seseorang atau orang-orang yang karena kebutuhan ekonomis telah bekerja sebagai buruh kasar baik di dalam rumahtangga maupun dalam masyarakat, orang-orang terlunta dan sejenisnya
Kesaksian Kitab Suci yang mendukung : |
| |
| 1. |
Perjanjian Lama |
| |
| A. |
Terhadap Perlakuan Kasar |
| |
Keluaran 21 : 26-27; 22 : 21-26; 23:6; |
| |
Ulangan 24:14-15, 17, 19 – 22 |
| B. |
Tentang UPAH KERJA |
| |
Ulangan 24 : 14 - 15 |
|
| 2. |
Perjanjian Baru |
| |
| A. |
Tentang UPAH KERJA |
| |
II Tesalonika 3 : 12 |
| B. |
Tentang Janda |
| |
I Timotius 5 : 3 – 16 |
|
Gereja dan Negara adalah alat yang dipakai Allah untuk membawa kesejahteraan kepada orang-orang seperti yang sudah dikategirikan di atas.
|
I.7.5. ETIS – MORAL
|
| |
|
|
| |
| |
ALENIA VIII |
Bahwa melalui Roh Kudus, Allah menuntun 1) orang percaya mengakui 2) Yesus Kristus selaku Tuhan dan Juruslamat 3) dalam pergumulannya di dunia. |
|
|
I.8.1. MENUNTUN
Gereja, sesuai dengan kesaksian Kitab Suci, mengakui bahwa Rohkudus sajalah yang bekerja dalam hati nurani dan menuntun setiap orang menjadi percaya dan mengakui Yesus Kristus selaku Tuhan dan Allah adalah Bapanya.
Kesaksian Kitab Suci : I Korintus 12 : 2-3; Roma 8:14-15; Gal. 4:5
I.8.2. MENGAKUI YESUS KRISTUS
Ayat yang dapat dipakai untuk mengembangkan pemahaman tentang footne tersebut adalah
Roma 10 : 9
I.8.3. YESUS KRISTUS : TUHAN
| Kesaksian Kitab Suci : |
Filipi |
2 : 10 |
| |
I Korintus |
12 : 3 |
I.8.4. YESUS KRISTUS ADALAH JURU SELAMAT
| Kesaksian Kitab Suci : |
Yesaya |
43 : 11 |
| |
|
45 : 15b |
| |
|
49 : 26 |
| |
Kisah |
5 : 31 |
| |
Filipi |
3 : 20 |
| |
Titus |
3 : 6 |
|
| |
|
|
| |
|
|
|
|