Home
  Sambutan
  Sejarah
  Profil
  Pemahaman Iman
  Laporan Dana
  Contact Us
 
   
 
 
 
 
 
 
Penjelasan Pemahaman Iman
>> Keselamatan
>> Gereja
>> Manusia
>> Alam dan Sumber Daya
>> Negara dan Bangsa
>> Masa Depan
>> Firman Allah
 
 
     
 

PENJELASAN – PENJELASAN

TENTANG

PEMAHAMAN IMAN

 
     
 

III

MANUSIA

     
 
 
ALENIA I
Bahwa manusia 1): laki dan perempuan 2) , diciptakan sepadan 3) oleh Allah menurut rupa dan gambar - Nya 4) .

 

III.1.1. MANUSIA

MANUSIA adalah ciptaan Allah Yang Esa( Kej. 1:26; Yes. 45: 12 ) menunjuk pada penggunaan Kata Ganti Orang III Jamak Baiklah kita...). Allah tidak menciiptakan manusia seperti ciptaan lain melalui FIRMAN ( bd . Kej. 1:3, 6, 9, Komentar yang dituliskan Penulis Kejadian adalah ” Berfirmanlah Allah: ” Jadilah.... Dan jadilah demikian ”), sedang ketika manusia diciptakan, Allah langsung turun mengherjakannya dengan menggunakan ”tanah liat” ( Kej. 2:7 Istilah ADAM dalam Bahasa Ibrani adalah ”tanah lempung, liat” yang dipakai tukang periuk membuat tembikar).

III.1.2. LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN

2a. SEPADAN

III.1.3. DICIPTAKAN OLEH ALLAH

Penciptaan manusia oleh Allah diceritakan oleh dua Penulis, yakni: Pertama, Kej. 1 : 26-28; 2:7 dan kedua : Penulis Kejadian (2:15–25) . Kedua penulis itu memiliki tujuan yang sama, tetapi latar belakang gagasan yang berbeda.

  • Penulis Pertama (Sumber P - PRIEST) menulis-kan tradisi lisan (Kej 1:26-28 dan 2:7) dalam ruang peribadahan (liturgis) . Di sana Penulis berusaha menggambarkan kemanusiaan manusia hanya dimengerti dalam hubungan dengan Allah ( Manusia sebagai IMAGO DEI . Secara teologis alkitabiah Penulis memahami status manusia sebagai ” MAKHLUK RELIGIUS ). Manusia diciptakan Allah dengan tujuan MELAYANI ALLAH di dalam alam ciptaan-Nya. Dalam pemahaman seperti itu Penulis Pertama (Sumber P) menempatkan hakekat dan keberadaan manusia semata-mata hanya dapat dinikmati, jikalau I A MEMILIKI HUBUNGAN DENGAN ALLAH. Oleh sebab itu, di luar hubungan dengan Allah kita tak dapat memahami MANUSIA sebagai CIPTAAN ALLAH.
  • Penulis Kedua (Sumber D – DEUTERONOMI). Penulis tradisi lisan tentang penciptaan manusia itu (Kej.2:15-25) menyoroti manusia dalam hubungan dengan sesamanya. Akan tetapi hubungan dengan sesama itu dipahami sebagai anugerah Allah (Kej.2:21-2) . Allah menciptakan jenis kelamin lain yang berbeda dari ” manusia ” (Ibr. ” Isyh ” yang menunjuk pada jenis kelamin laki-laki), yakni: manusia berjenis kelamin perempuan (Ibr. ” isyah ”); kemudian Allah memperkenalkan ” ha + isyah ” ( perempuan itu ) kepada ” ha + isyh ” ( laki-laki itu )
  • Kesimpulan : dengan demikian manusia itu disebut sempurna, jikalau ia selalu membangun, membina dan memelihara hubung-annya dengan Allah selaku Penciptanya ( Hubungan Vertikal ) dan dengan sesamanya ( Hubungan Horizontal ).
  • Hubungan sosial antar manusia di dalam masy-arakat itu merupakan sarana sosial, di mana ma-nusia dapat memperlihatkan kemesraan hubung-annya dengan Allah, penciptanya. Dan, kemesraan yang dimaksudkan adalah cinta-kasih.

III.1.4. MENURUT RUPA DAN GAMBARNYA

Kedua istilah itu: ” gambar ” dan ” rupa ” bukan menunjuk pada makna pisis, tetapi oleh Penulis Kejadian keduanya dipakai menunjuk HUBUNGAN YANG TERCIPTA ANTARA MANUSIA DENGAN A LLAH terkait pada PENCIPTAAN. Bertolak dari PENCIPTAAN itulah Allah memberikan tanggung jawab dan wewenang kepada manusia untuk mengolah dan mengelola alam ciptaan-Nya.

 
 
 
ALENIA II
Bahwa manusia diciptakan Allah sebagai mahluk religius 1) dan makhluk sosial 2) yang diberikan kemampuan 3) untuk membangun relasi secara positif dengan sesamanya demi kebersamaan dan kesejahteraan seluruh ciptaan-Nya.

 

III.2.1. MAKHLUK SOSIO – RELIGIUS

Makhluk religius – sosial Lihat penjelasan pada Klausul I tentang MANUSIA CIPTAAN ALLAH.

III.2.2. KEMAMPUAN

Kemampuan adalah anugerah Allah yang diberi sejak kelahiran (penciptaan) manusia.

III.2.3. SESAMA dan SESAMA CIPTAAN

Yang dimaksudkan dengan sesama ciptaan adalah : 1). Hubungan antar Manusia dan; 2). Hubungan antar MANUSIA dengan sesama makhluk ciptaan TUHAN lainnya (alam dan lingkungan hidup).

III.2.4. KESEJAHTERAAN

 
 
 
ALENIA III
Bahwa manusia laki-laki dan perempuan disatukan dalam pernikahan 1) untuk saling mengasihi dan melengkapi 2).

 

III.3.1. PERKAWINAN KRISTEN

PANDANGAN GEREJA TENTANG PERKAWINAN

Untuk memdapatkan gambaran utuh dan menyeluruh tentang PERKAWINAN , sebab manusia yang berdosa sering memakai alasan-alasan untuk membenarkan tindakan PERZINAHAN ( Perselingkuhan ), PENYIMPANGAN SEKSUAL dan POLIGAMI , serta PERCERAIAN yang ditempuhnya. Gereja perlu menjelaskan dasar Pemahaman Imannya, sehingga Warga Gereja memperoleh sikap dan pandangan yang baik dan benar tentang maksud dan rencana penyelamatan Allah melalui PERKAWINAN dan KELUARGA :

  • DASAR PERKAWINAN
  • KELUARGA KRISTEN
  • HUBUNGAN ANTAR ANGGOTA KELUARGA
  • HAK, KEWAJIBAN DAN TANGGUNG–JAWAB ANGGOTA KELUARGA
  • SEKSUALITAS DALAM KELUARGA

Ad.1. DASAR PERKAWINAN KRISTEN

Gereja berpendapat bahwa PERKAWINAN yang dilakukan oleh dua insan berbeda jenis kelamin perlu disoroti dari dua aspek :

1. FENOMENA SOSIAL

Manusia , laki-laki dan perempuan , adalah makluk sosial ( homo-socius ) yang suka berte-man dan berkelompok . Kecenderungan seperti itu merupakan kebutuhan bathin manusia yang didorong berbagai faktor penentu, seperti : motivasi, emosi, psikologis (termasuk libido seksual), keinginan daging dan kebutuhan, kehendak hati nurani, kemauan akalbudi, dan lain-lain. Oleh karena itu, manusia memilih dan menentukan ” teman ” dan atau ” kelompok ” yang akan dimasukinya.

Perihal berteman dan memilih kelompok merupakan bahagian tak terpisahkan dari pencarian kepribadian (personalitas) atau jati diri. Dalam proses itu manusia membangun dan membina keintiman hubungan sosialnya, agar ia dapat diterima sebagai ” teman pribadi ” dan ” teman dalam berkelompok ”.

Proses saling mengenal di antara sesama teman dalam kelompok merupakan keharusan mutlak yang dipenuhi, agar kedekatan pribadi dapat berjalan dengan baik. Dalam proses yang berjalan, akhirnya manusia memutuskan untuk memilih bagi dirinya sendiri ” pribadi ” yang sesuai dengan karakternya. Itulah kepu-tusan dan pilihan eksistensial yang dipikirkan dan ditindaklanjuti oleh manusia. Yang dimak-sudkan dengan keputusan dan pilihan eksis-tensial adalah perbuatan yang memperlihatkan jatidiri kepada ” teman ” dan atau ” kelompok ” yang ditentukan sesuai dengan kepribadian-nya. Ia mempercayakan diri dalam hubungan dengan ’ teman ” dan atau ” kelompok ” yang dipilihnya.

MANUSIA : CINTA-KASIH dan KASIH- SAYANG

Salah satu kebutuhan manusia sebagai makhluk sosial (homosocius) adalah kebutuhan psikologis : rasa aman, suka diperhatikan, ingin dihargai dan dihormati, mengaktualisasikan diri, membutuhkan kasih sayang, dan yang berhu-bungan dengan pertubuhan dan perkembang-an kehidupan jiwanya.

KASIH-SAYANG merupakan landasan untuk membangun dan membina kualitas hubungan persahabatan ( pertemanan ) sebagai makhluk sosial. Dalam hubungan persahabatan itu manusia mengembangkan selutuh potensi hidupnya bersama dengan teman akrabnya. Tetapi ketika ia memilih dan menentukan orang yang dicintainya, ( Pilihan itu adalah keputusan eksitensial dari manusia sebagai makhluk sosia ), maka manusia meningkatkan hubungan yang bersifat persahabatan menjadi hubungan intim. Hal itu dipengaruhi oleh berbagai faktor jasmaniah dan bathiniah.

Kemudian manusia meningkatkan intensitas hubungan ke arah lebih khusus. Di sinilah kita memahaminya sebagai sebagai gerakan CINTA-KASIH (Yun. Eros ), yang berawal dari rasa suka, senang dan akhirnya CINTA-MENCINTAI.

Pada tahapan ini pilihan manusia dapat benar dan atau tidak benar sesuai dengan norma sosial yang berlaku. Dikatakan pilihan itu dapat dilakukan dengan benar, karena ia memilih seorang perempuan menjadi kekasihnya. Dikatakan tidak benar, karena ia memilih seorang laki-laki sebagai kekasihnya (dalam kasus ini pilihan itu berkaitan dengan penyimpangan seksual yang dipengaruhi oleh berbagai latar belakang kehidupan sosial maupun biologis).

Dari hubungan CINTA-MENCINTAI, manusia berproses meningkatkan hubungan keintiman sesuai dengan visi masadepannya. Ia memilih bagi dirinya seorang perempuan yang meme-nuhi dan atau ” hampir ” memenuhi kriteria yang telah ia tentukan. Jika proses menjadi matang, maka kedua insan memutuskan untuk masuk ke dalam perkawinan. Dalam hal ini PERKA-WINAN merupakan peristiwa sosial, di mana intitusi masyarakat mengakui dan meresmikan PERKAWINAN antar dua manusia berlainan jenis.

Berkaitan dengan uraian di atas, Gereja me-nyetujui dan merestui PERKAWINAN antar dua insan berlainan jenis, sejauh tidak bermasalah hukum dan tidak melanggar norma etis-agamawi yang diyakini dan dipegang teguh oleh Gereja. Terhadap PERKAWINAN tak bermasalah , Gereja menjalankan PEMBER-KATAN PERKAWINAN sesuai HUKUM NEGARA YANG SEDANG BERLAKU dan sejalan dengan NORMA-NORMA GEREJA YANG TELAH DITETAPKAN .

2. IMAN DAN ETIKA KRISTEN

Untuk memperolah gambaran yang benar dan baik tentang PERKAWINAN dengan segala sesuatu yang terkait pada prosesnya, Gereja membuat presuposisi berdasarkan kesaksian Kitab Suci :

a. TEMAN HIDUP YANG SEPADAN

Kesaksian Kitab Suci :

1. Kejadian 2 : 22

2. Matius 19 : 6

NASKAH 1 :

Dan dari rusuk yang diambil T UHAN Allah dari manusia itu, dibangun-Nyalah seorang perempuan, lalu dibawa-Nya kepada manusia itu.

NASKAH 2 :

”Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia."

Gereja, bertolak kesaksian Kitab Suci , me-negaskan pendiriannya tentang hubungan insani adalah sah dan benar sejauh tidak melanggar Hukum Negara yang berlaku dan Ketetapan Gereja (AKTA) serta nilai-nilai etis-spiritual yang terkandung di dalam kesaksia Kitab Suci .

Gereja menghargai dan menghormati hak azasi manusia dalam membangun dan membina hubungan sosial antar warga masyarakat. Hubungan antar manusia --- laki-laki dan perempuan --- sebagai warga masyarakat perlu memperhatikan dan menjunjung tinggi nilai-nilai etis tentang KESEPADANAN dan KESETARAAN . Kedu-dukan manusia sebagai makhluk ciptaan adalah sama, sederajat dan setara di hadapan Allah, Penciptanya.

Perempuan bukanlah manusia-kedua sete-lah laki-laki yang diciptakan oleh Allah ( bd. Kej. 1:27). Allah menciptakan manusia seutuhnya. Keutuhan itu terletak dalam hubungan antar laki-laki dan perempuan. Laki-laki tidak dapat menjadi manusia tanpa perempuan, dan kemanusiaan perempuan tidak dapat dipahami dalam kesatuan hidup bersama dengan laki-laki.

Pernyataan di dalam Kejadian 2 : 18 – 23 merupakan tradisi tertulis yang berlatar belakang budaya bangsa tertentu. Budaya tersebut bersifat patrilineal (menurut garis keturunan bapak) dan patriarch (berpola-kan tradisi ka- bapak -an). Dalam budaya berlatar belakang partilineal dan patriarkh manusia perempuan tidak memiliki status sosial.

Bertolak dari karya penyelamatan Allah yang dikerjakan Yesus Kristus, Gereja me-mahami keesaan-insani sebagai anugerah Allah ke dalam kehidupan bersama-antara-manusia . Sebagai Jemaat Allah (Yun. th

ekklesia tou qeou -- te ekklesia tou theou I Kor.1:2 ) laki-laki dan perempuan Kristen yang percaya dikuduskan Allah oleh darah Tuhan Yesus. Di dalam Kristus (Yun. en tou Kristw en tou kristo – Efs. 1:11 -12 ) tidak ada perbedaan status, seperti yang dikatakan Paulus : ” Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka , tidak ada laki-laki atau perempuan , karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus (Gal. 3:28 ) . Kata “ karena ” (Yun. gar gar ) harus dimengerti dalam hubungan dengan ayat sebelumnya (ay.26-27). “ Karena ” orang-orang kriten percaya bahwa mereka adalah “anak-anak Allah” dan “ dibaptis dalam Kristus ”, maka mereka tidak lagi memper-soalkan status sosial seseorang, termasuk laki-laki dan perempuan. Namun bukan berarti penebusan Kristus meniadakan kodrat dan fungsi sosial manusia . Hal itu hanya dapat terjadi jika laki-laki dan perempuan Kristen yang percaya hidup di dalam Kasih Kristus. Mereka, laki-laki dan perempuan , saling menerima keberadaan-nya (bd. Rom. 15:7) .

Naskah 1 yang berbunyi : ” seorang perem-puan dibawa-Nya kepada manusia itu harus dipahami tidak dalam konteks perjodohan. Allah membawa (dan memberi) manusia perempuan kepada manusia laki-laki, agar mereka bekerja sama dan saling tolong menolong memberdayakan potensi hidup pemberian-Nya (bd. Kej. 2:8b) .

Pemahaman di atas juga dipakai mene-rangkan Naskah 2 : ” yang telah dipersatu-kan Allah, tidak boleh diceraikan manusia ”. Allah menciptakan, tetapi tidak menjodoh-kan manusia . Allah memberikan cinta-kasih (Kid. Ag. 8:6-7) dan kebebasan memi-lih kepada manusia. Karena itu, berdasar pada rasa cinta-kasih dan kebebasan yan dianugerahkan Allah, seorang laki-laki (Kej. 2:24) bebas menentukan pilihan terhadap seorang perempuan (Kej.2:22) menjadi isternya

Gereja memahami makna kata ” seorang ” sebagai bahagian dari perkawinan sah. Dengan demikian, seorang laki-laki hanya memilih bagi dirinya seorang perempuan dijadikan isterinya (prinsip monogami). Ia harus setia mengasihi dan setia dan memperlakukan isterinya dalam keadilan dan kebenaran (Hos.2:18-19), sebagaimana TUHAN Allah telah melakukan baginya ” sampai maut memisahkan ” mereka (for-mulasi Teologi Gereja dalam Tata Ibadah PEMBERKATAN PERKAWINAN ).

Menurut Gereja, Allah mempersatukan perjodohan yang telah diputuskan berda-sarkan cinta kasih dan kehendak bebas manusia. Sebab itu jika manusia (” seorang ” laki-laki dan ”seorang’ perempuan) yang telah mengikatkan perjanjian berkeinginan dan berusaha melakukan perceraian, hal itu menjadi tanggung jawab pribadi. dan tindakan perceraian itu dipandang sebagai sikap berdosa kepada Allah. Allah dan Gereja tidak dapat dilibatkan ke dalam urusan perceraian antara manusia: laki-laki dan permpuan yang mengikat perjanjian menjadi suami-isteri. Akan tetapi Gereja diberi tugas oleh Allah untuk melaksanakan pengembalaan kepada suami-isteri yang ingin bercerai.

Mengalir dari pemahaman yang telah diu-raikan di atas Gereja tidak menganjurkan, tidak mendorong, tidak membenarkan dan tidak mengiyakan keputusan dan tindakan perceraian.

b. INSTITUSI YANG DIKUDUSKAN

Catatan :

Jika dikatakan Perkawinan itu adalah INSTITUSI YANG DIKUDUS-KAN , tidak berarti PERKAWINAN menjadi sebuah sakramen, akan tetapi hal itu didasarkan atas kehendak Allah yang menguduskan PERKAWINAN demi tujuan KESELAMATAN. Istilah ”kudus” (Ibr. qadosy) memiliki beberapa konotasi: bersih, suci dan khusus . Dari makna kata itu kita dapat merumuskan pemahaman baru, bahwa meskipun INSTITUSI PER-KAWINAN itu merupakan budaya manusia namun Allah memakainya. Allah membersihkan, menyucikan dan mengkhususkan institusi tersebut dan bagi tujuan KESELAMATAN hidup manusia.

Pada satu sisi Gereja tidak memberlakukan Pemberkatan PERKAWINAN sebagai SAKRAMEN . Di sisi lain, PERKAWINAN KRISTEN itu dikuduskan Allah, agar tujuan penyelamatan yang direncanakan-Nya dapat tercapai. KEKUDUSAN yang dilekatkan pada PERKAWINAN itu juga memiliki nilai etis Kristen. Karena Allah menguduskan PERKAWINAN itu, maka dari suami-isteri dituntut memelihara kekudusan perkawinannya.

Kesaksian Kitab Suci : Kejadian 2 : 24
  Imamat 18 : 1 – 30
    20 : 7 – 8

NASKAH 1 :

” Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibu-nya dan bersatu dengan isterinya , sehingga keduanya menjadi satu daging ” (Kej.2:24; Mat. 19:5; Efs. 5:31).

Penjelasan Naskah 1

Naskah 1 yang dituliskan dalam Kitab Kejadian ini perlu diperlakukan khusus sesuai latar belakangnya .

Di dalam Naskah 1 ini Penulis mencatatkan budya perkawinan yang berlaku di Israel. Sekali lagi, proses perjodohan sampai kepada keputusan menentukan pilihan untuk menikah antara manusia : laki-laki dan perempuan, terjadi dalam wilayah tanggungjawab etis manusia . Nuansa itu dapat ditelaah dalam pernyataan Penulis Kejadian : ” seorang laki-laki akan mening-galkan ”. Terasa sekali nuansa keputusan etis, ketika ” seorang ” laki-laki menentukan pilihan atas ” seorang ” perempuan.

NASKAH 2 :

” Jangan engkau melanggar keku-dusan nama Allahmu ; Akulah T UHAN . kamu harus mengudus-kan dirimu , dan kuduslah kamu, sebab Akulah T UHAN , Allahmu . Kamu harus berpegang pada ketetapan-Ku dan melakukannya; Akulah T UHAN yang mengudus-kan kamu ” (Im.18:21b; 20:7,8b)

Kesimpulan :

Perkawinan yang telah dianuge-rahkan Allah itu harus dilaku-kan oleh hanya satu orang (se-orang) perempuan saja dengan hanya satu orang (seorang) laki-laki saja .

PERKAWINAN SEBAGAI IBADAH

Penulis Imamat menempatkan status atau PERKAWINAN batang tubuh dari HUKUM KEKUDUSAN (Im.18–22) . Sebab ia menyo-roti PERKAWINAN berkaitan erat dengan panggilan Israel beribadah kepada Allah.

Seluruh pemahaman penulis Imamat itu didasarkan atas pernyataan Allah : ”Kudus-lah kamu, sebab Aku, TUHAN Allahmu, adalah kudus ”. Israel dipanggil, dipilih dan dikuduskan Allah melaksanakan kehendak-Nya, yakni: membawa keselamatan ke dalam dunia. Oleh karena itu, ia menjadi umat yang dikhususkan (Ibr. qadosy ) bagi Allah. Karena itu, seluruh perlaku orang Israel baik pribadi maupun kolektif , atau secara individual maupun institusional (organisasi) harus berbeda dari bangsa-bangsa di sekitarnya. Penulis Imamat mewakili Allah menyatakan : ” Kamu harus tetap berpegang pada kewajibanmu dan jangan kamu melakukan sesuatu dari ke-biasaan keji itu, yang dilakukan sebelum kamu, dan janganlah kamu menajiskan dirimu dengan semuanya itu (Im. 18:30), sebab Akulah, TUHAN yang menguduskan kamu (Im. 20:8) .

Dalam sejarah perkembangan Agama Israel , Nabi Hosea memakai PERKAWINAN untuk menoroti hubungan Allah dengan Israel. Sama seperti Imamat, Hosea me-nempatkan PERKAWINAN dalam seluruh prosesi Ibadah Israel kepada TUHAN Allah. Hal itu dilambangkan melalui tindakan memperisteri Gomer binti Diblaim.

Hosea merefleksikan hubungan Allah dengan Israel lewat penamaan anak laki-lakinya : AMI (= umat-Ku ) dan anak perem-puannya : RUHAMA ( = yang diberkati – Hos. 1:12 ). Israel adalah umat yang diber-kati Allah . Frasa tersebut terdapat di dalam janji Allah kepada Abraham (Kej.12:1-3). Berdasarkan ikatan (kontrak) perjanjian yang dibuat kepada Abraham dan keturun-annya, Allah menghendaki Israel mengenal (Ibr. yada ) – Nya, bukan hanya sebagai Bapa tetapi juga sebagai Suami (Hos.2: 15,22). Menurut Hosea, Allah telah mengu-duskan Israel dari dosa perzinahannya. Perzinahan sang isteri terhadap kasih sayang Hosea menunjuk pada pengenalan Israel akan Allah. Berulangkali sang isteri berzinah, sebanyak itu pula Hosea meng-ampuninya. Berulangkali Israel berkhianat (Hos.11:7), sedemikian itu pula Allah meng-ampuni dosa dan menghapuskan pelang-garan Israel (Hos. 11:8-9). Allah memberikan mahar perkawinan yang mahal: kebenaran, keadilan, kasih-setia, kasih sayang dan kesetiaan (Hos. 2:18-19).

Jadi bagi Hosea, yang terkait dengan perkawinan merupakan sikap ibadah yang didasarkan atas nilai pengenalan akan Allah (Hos. 5:6; 12:4)) dan perihal mengasihi-Nya .

Belajar dari Firman yang disampaikan nabi, kita memetik beberapa makna penting dalam pembangunan dan pembinaan hubungan antar anggota keluarga :

  1. Perkawinan itu merupakan prosesi Ibadah. Ia diawali dengan Permo-honan Berkat atas keluarga yang dibentuk oleh hanya seorang laki-laki saja dan oleh hanya seorang perempuan saja . Atas janjinya kepada Allah , pasangan suami-isteri itu membangun dan membina rumahtangganya.
  2. Prosesi ibadah itu berlangsung kekal ” sampai maut memisahkan mereka ”. Dalam membangun dan membina hubungan suami-isteri ke-duanya harus saling berbagi harta rohani : kebenaran (Ibr. tzedeqah ), keadilan (Ibr. misphat ), kasih–setia (Ibr. emunah ), kasih–sayang (Ibr. rachamim ) dan kesetiaan (Ibr. emeth ) yang diberikan Allah sebe-lum keduanya menikah.
  3. Berdasarkan pengenalan akan Allah , mereka saling mengenal (bd. Istilah yada dalam Kej. 4:1 yang diterjemahkan ” bersetubuh ”) dalam kasih sayang. Intiminasi hubungan suami isteri itu harus mengung-kapkan kasih-sayang yang muncul dari kejujuan dan ketulusan hati (bd. Kid. 8:6-7) , bukan berdasarkan ke-inginan daging tetapi kasih Allah.
  4. Karena suami-isteri kristen itu mengenal dan mengasihi Allah , mereka saling mengasihi dan menjauhkan diri dari keinginan daging yang dapat mengancurkan rumah tangga.

c. PERKAWINAN SEBAGAI LAMBANG

Kesakian Kitab Suci :

Efesus 5 : 32

Paulus adalah seorang Yahudi yang tekun dalam tradisi pengajaran sekte Parisi. Dia sangat mengenal dan menguasai tradisi Perjanjian Lama baik Hukum taurat dan Nubuat para nabi. Ketika ia memberitakan dan mengajarkan Injil Kristus kepada bangsa-bangsa non-Yahudi, ia menemukan realitas perkawinan sebagaimana di lakukan bangsa-bangsa di sekitar Israel pada masa Perjanjian Lama. Masalah keluarga itu diungkapkan dalam tulisan-tulisannya kepada Jemaat Allah (Yun. ths ekklesia tou qeou tes ekklesia tou Theou ) di Korintus (I Kor. 6:12–7:40), Efesus (5:22–6:9) dan Kolose (3:18–4:1) . Untuk memahami pendapat Paulus, kita akan menelusuri dasar-dasar pemikirannya di dalam ketiga surat tersebut.

PERKAWINAN KRISTEN , MENURUT PAULUS.

I.DASAR PERKAWINAN KRISTEN

  • Kawin tidak berdosa – I Kor. 7 : 28
  • Manusia Baru – Efs. 4:17-32; Kol. 3: 5 – 17

Dalam Suratnya Paulus menyapa orang Kristen yang percaya selaku Jemaat Allah ( ths ekklesia tou qeou tes ekklesia tou theou I Kor. 1:2 )., sebab Allah telah membenarkan dan menguduskan dan menebusnya. Dia juga telah mempersekutukan Jemaat dengan Yesus Kristus Tuhan. Hal itu terjadi karena pendamaian yang dilakukan Kristus Yesus (II Kor. 5:19) Dan menjadikan Jemaat milik Kristus, sebaliknya, Kristus milik Jemaat (I Kor. 3:23).

Dalam persekutuan dengan Kristus Yesus, Allah mengaruniakan Rohkudus untuk membaharui ” roh dan pikiran (Efs. 4:23) orang Kristen secara ” terus menerus (Kol. 3:10), supaya orang Kristen menanggalkan cara hidup yang lama dan ” berubah oleh pembaharuan budi, sehingga dapat membedakan mana yang baik dan yang berkenan kepada Allah (Rom.12;3) . Roh dan pikiran yang telah dikuduskan Allah itu

Dengan menjelaskan hal ini kita dapat menyoroti

Paulus tidak melarang perkawinan. Ia menulis: ”tetapi, kalau engkau kawin, engkau tidak berdosa” (I Kor.7:28,36).

II. NILAI-NILAI KELUARGA KRISTEN

    • Damai sejahtera - I Korintus 7 : 15
    • Taat pada Hukum Allah – I Kor. 7 :19
    • Melakukan apa yang bena dan baik, dan melayani Tuhan (I Kor. 7:35)

Ad.2. KELUARGA KRISTEN

Ad.3. HUBUNGAN ANTAR ANGGOTA KELUARGA

Ad.4. HAK, KEWAJIBAN DAN TANGGUNGJAWAB ANGGO-TA KELUARGA

Ad.4. SEKSUALITAS DALAM KELUARGA

III.3.2. DISATUKAN DALAM PERKAWINAN

DISATUKAN DALAM PERKAWINAN. Gereja memahami PERKAWINAN sebagai peristiwa sosial di antara dua anak manusia berbeda jenis kelamin, yang saling mencintai, kemudian percintaan itu disahkan dalam ikatan suami isteri oleh masyarakat melalui pranata sosial, yakni: Pemerintah. Gereja memberkati keluarga dri pasangan suami isteri yang sudah diresmikan / disahkan Pemeintah melalui Petugas Pencatat Perkawinan Sipil.

Beberapa Pemahaman yang perlu diluruskan :

  • Gereja memahami PERKAWINAN sebagai institusi yang dianugerahkan Allah ke dalam hidup manusia (.......). Perkawinan itu merupakan lambang yang memaknai hubungan Kristus dengan Jemaat (Efs. 5 : 31, Lihat TATA IBADAH PEMBERKATAN PERKAWINAN ) . Oleh karena itu Gereja tidak menyetujui tindakan perceraian yang dilakukan oleh salah satu dari antara suami-isteri yang menikah sah secara negara maupun yang diberkati di dalam badah Gereja.
  • PERKAWINAN adalah LEGALISASI HUKUM dari HUBUNG-AN PERCINTAAN (Pertunangan --- Kid.Ag. 8:16-17) antara anak manusia yang berbeda jenis kelamin.
  • Negara, sesuai dengan Perundang-Undangan yang berlaku (UU No. 1 tahun 74 dan perbaikannya), memiliki tanggung jawab dan wewenang meresmikan dan mengesahkan PERKAWINAN SIPIL antar dua Warga Negara Indonesia yang berbeda jenis kelamin.
  • Atas permohonan kedua Mempelai dan Pihak Keluarga Terkait, Gereja melaksanakan dan menyelenggarakan PEMBERKAAN PERKAWINAN, setelah kedua calon mempelai memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan oleh Gereja / Jemaat.
  • Pada saat penyelenggaraan dan pelaksanaan Ibadah PEMBERKATAN PERKAWINAN , maka seluruh keluarga dan kedua mempelai yang mengikrarkan Janji Nikah mengamini, bahwa di dalam Ibadah itu kedua mempelai dipersatukan Allah ke dalam Rumahtangga; dan oleh karena itu, tidak ada alasan untuk diceraikan dan bercerai (Mat. 19:6; Mrk. 10:9). Karena PERKAWINAN itu terjadi atas kemauan dua pihak yang sama imannya kepada Yesus Kristus.
  • Gereja, sesuai dengan Kesaksian Alkitab, menolak legalisasi maupun legitimasi terhadap PERKAWINAN antar manusia sejenis (Imamat 18:22; 20:13).
  • Gereja tidak menganjurkan, tidak mendorong, tidak membenarkan dan tidak mengiyakan PERCERAIAN . Sebab hal itu bertentangan dengan kesaksian Alkitab tentang Gereja selaku mempelai perempuan dari Kristus, yang adalah Mempelai Jemaat (Efs. 5:31-32).

III.3.3 . SALING MENGASIHI DAN MELENGKAPI

 
 
 
ALENIA IV
Bahwa manusia bertanggung-jawab untuk bekerja 1) dalam rangka memelihara dan melestarikan , 2) alam. Untuk menunaikan tugas yang mulia ini manusia maupun struktur masyarakatnya tidak boleh disanjung dan dipuja 3).

 

III.4.1. BEKERJA

KERJA, BEKERJA, MEMPEKERJAKAN, PEKERJAAN selalu memiliki dimensi terkait dengan aspek kehidupan manusia. Dimensi kehidupan manusia yang terkait dengan KERJA, menurut kesaksian Alkitab :

  • DIMENSI RELIGIUS
  • DIMENSI SOSIAL-EKONOMI

Ad.A. DIMENSI RELIGIUS

Tradisi Gereja-Gereja Reformasi memahami, bahwa KERJA adalah bahagian dari panggilan pelayanan (Flp. 2:12-16) dan kewajiban untuk memuliakan Allah (Kol. 3:17). Kerja adalah Pelayanan Kepada Allah ( Efs. 6:7 ”... seperti orang-orang yang melayani Tuhan dan bukan manusia ”). Itu adalah tujuan hidup kristiani. Pekerjaan merupakan ungkapan dari penata-layanan dan sekaligus pengungkapan rasa syukur orang kristen, kepada TUHAN yang telah memberikan ”mandat” (kepercayaan dan tanggung jawab) sejak dunia diciptakan (Kej.1:28).

Memang Alkitab pun memberikan gambaran tentang kesengsaraan dan kesia-siaan dari sebuah pekerjaan (Pengk. 2:4-11; 20-22; Luk. 12:16-21) ; tetapi pekerjaan yang dilakukan itu hanya bermakna bagi kehidupan ciptaan, jika manusia mensyukuri pembe-rian Allah (Pengk. 3:13). Dalam hal ini, Gereja memahami KERJA selaku panggilan kristiani untuk menatalola pemberdayaan alam ciptaan Allah.

Orang kristen hidup hanya oleh iman kepada anugerah Allah di dalam Yesus Kristus.; oleh karena itu renspons terhadap anugerah Allah itu harus tampak melalui ucapan syukur setiap hari. Salah satu aktifitas yang memperlihatkan rasa ucap syukur itu adalah KERJA. Bagi mereka yang tidak mau bekerja atau malas, Alkitab berkata : ” Barangsiapa yang tidak mau bekerja, janganlah ia makan (II Tes. 3:10) Dengan demikian setiap orang kristen, khususnya Warga GPIB, harus bersungguh-sungguh melaksanakan pekerjaannya, sebab pekerjaan itu merupakan disiplin dan sekaligus kewajiban kristen kepada Allah.

Sekali lagi, PEKERJAAN harus dipahami dari aspek ”panggilan dan pengutusan Allah”. Dari sinilah kita pasti meyakini, BEKERJA menuntut pengabdian dan pengorbanan. Mengalir dari pemahaman tentang ” panggilan dan pengutusan Allah ” , selaku PEKERJA kristen, kita menginspirasi kehidupan PEKERJA , dan sekaligus membuka dimensi kreatifitas yang bertolak dari iman tentang Allah yang senantiasa bekerja, seperti Yesus berkata: ” Bapa-Ku bekerja sampai sekarang, maka Akupun bekerja juga ."(Yoh. 5:17). Allah bekerja sejak penciptaan sampai dunia berakhir. Seluruh mata rantai dari KARYA yang diperlihatkan oleh Allah bertujuan keselamatan . Manusia juga diciptakan-Nya demi tujuan penyelamatan . Dengan kata lain, Allah memanggil dan mengutus manusia untuk bekerja menurut rencana yang terkan-dung di dalam pikiran - Nya (Yoh. 9:4) , yaitu : penyelamatan dunia ciptaan Allah (.....) . Dalam pemahaman demikian kreatifitas dan kerja memiliki makna bermutu religius dan sosial.

Manusia diciptakan Allah untuk mencipta; dan, tidak ada penciptaan (pekerjaan) yang baik dan benar tanpa pemahaman tentang panggilan dan pengutusan Allah . Pemahaman itu pula akan menentukan, visi dan misi , model , strategi , perencanaan program ( Jangka Panjang dan Jangka Pendek ) dan sebagainya.

Ad.B. DIMENSI SOSIAL

Seluruh pekerjaan, yang dilakukan manusia sesuai kehendak Allah, bukan sekedar usaha pencarian kebutuhan hidup, akan tetapi ia (pekerjaan itu) akan bermakna manusiawi, jika ia memberikan sumbangan yang bernilai tinggi ke dalam kehidupan masyarakat. Pekerjaan harus menjunjung tinggi harkat kehidupan individu. Manusia tidak boleh dimengerti sebagai mesin penghasil yang bernilai ekonomis. Setiap pekerja haruslah memahami, bahwa pekerjaan itu dilaksanakan untuk mem-peroleh kebutuhan konkrit dari masyarakat.

III.4.2. MEMELIHARA DAN MELESTARIKAN

Pemeliharaan Allah ke atas alam ciptaan-Nya bersifat langsung dan tidak langsung. Bersifat langsung berarti Allah sendirilah yang mulia. Bersifat tidak langsung berarti: Allah mengangkat manusia menjadi ” mandataris ”-Nya di dalam alam ciptaan. Sehubungan dengan tugas penatalayanan (stewardship) Allah memberikan kepercayaan dan tanggung jawab kepada manusia untuk melanjutkan karya pemeliha-raan dan pelestarian (konservasi) alam.  

Akan tetapi dalam proses pelaksanaan dan penyeleng-garaan tugasnya, manusia (disebabkan keinginannya) jatuh ke dalam pelanggaran akan hukum Allah. Manusia berdosa. Dosa mendorong manusia mengeksploitasi alam semesta pemberian Allah kepentingan sendiri, sehingga keharmonis-an ekosistem menjadi terganggu dan rusak. Daya alam semesta semakin berkurang. Oleh karena itu, alam bereaksi terhadap tindakan manusia, hingga mengakibatkan kehan-curan hidup dan kesengsaraan manusia.

Akan tetapi dalam proses pelaksanaan dan penyeleng-garaan tugasnya, manusia (disebabkan keinginannya) telah jatuh ke dalam pelanggaran akan hukum Allah. Manusia berdosa. Dosa telah mendorong manusia mengeksploitasi alam semesta pemberian Allah kepentingan sendiri, hingga keharmonisan ekosistem menjadi terganggu dan rusak. Daya alam semesta semakin berkurang. Karena itu, alam bereaksi terhadap tindakan manusia, hingga mengakibatkan kehancuran hidup dan kesengsaraan manusia.

Allah dalam kasih-Nya yang besar hadir ke dalam alam semesta dan ke tengah manusia. Ia menjadi sama seperti manusia , namun tak berdosa. Dia disebut Yesus (berarti : YANG MENYELAMATKAN ). Tujuan kehadiran-Nya bukan saja menyelamatkan manusia dari dosa, tetapi sekaligus ” memulihkan dan membaharui ” seluruh ciptaan-Nya yang telah rusak dan hancur disebabkan tindakan manusia bermasalah dosa.

Di dalam dan melalui karya Yesus Kristus Allah memulihkan dan membaharui kedudukan ciptaan-Nya (......) . Di dalam dan melalui Dia Allah menciptakan langit dan bumi baru , yakni : suatu sistem kehidupan yang bersumber dari dan diperintah oleh Allah. Di dalam langit dan bumi baru didasarkan atas Anugerah Allah yang diwujudnnyatakan oleh Kristus Yesus. Di dalam dan melalui karya Yesus Kristus Allah menciptakan suatu TATA DUNIA BARU yang berpusat pada Diri-Nya sendiri. Kepada Dia dan bagi Dia persekutuan umat Perjanjian baru dipanggil dan diutus untuk membangun alam semesta bagi kemuliaan Allah dan kesejahteraan bersama sesama ciptaan.

IV.4.3. TIDAK BOLEH DISANJUNG DAN DIPUJA

Alkitab menyaksikan bahwa Allah tidak menghendaki orang menyembah sesuatu pun di atas bumi atau di langit, atau di dalam air atau di bumi di bawah. Allah berfirman :

Jangan ada padamu Allah lain di hadapan-Ku . Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apapun yang ada di langit di atas, atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi. Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, adalah Allah yang cemburu, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat dari orang-orang yang membenci Aku,...” (Kel. 20 : 3-5)

 
 
 
ALENIA V
Bahwa manusia diberi kemampuan dan wewenang menata-layani alam 1) berserta isinya; kemampuan dan wewenang ini dilaksanakannnya dalam keseimbangan di antara kebebasan dan tanggung-jawab 2) , dan di antara hak dan kewajiban 3).

 

III.5.1. MANUSIA DIBERIKAN KEMAMPUAN

Di sepanjang sejarah Gereja percaya dan mengakui, bahwa manusia adalah Ciptaan Allah. ” Tanah liat ”, materi dasar membuat manusia telah menunjuk pada kelemahan dan keterbatasan , ketidak sempurnaan dan kekurangan , ketidak berdayaan dan ketidak mampuan manusia.

Nafas (Roh Kehidupan) manusia itu adalah karunia Allah (Kej. 2:7). Menurut sejarahnya manusia itu terdiri dari dua unsur yang berbeda : bersifat matetial dan imaterial, yang bersifat jasmaniah dan juga spiritual. Akan tetapi secara subtansial manusia disebut makhluk hidup disebabkan ia bernafas. Ke dalam tubuh (material) yang dapat binasa, Allah memberikan nafas sehingga ” tubuh yang mati ” itu hidup (bd. Yeh. 37:4,5 ). Jika demikian hidup manusia tergantung pada Allah selaku Pemberi Kehidupan ( Ul. 8:3 ). Rohlah yang memberi hidup ( Yoh. 6:63 )

Demikian juga kemampuan, karunia rohani ( I Kor. 12:4–6 ), pengetahuan, kepandaian (Maz. 94:10; Dan. 1:17; I Kor. 1:5) merupakan pemberian Allah . Jadi Alkitab bersaksi bahwa nmanusia tidak mungkin dapat mengembangkan hidup, jikalau ia tidak berjalan bersama Allah.

III.5.2. WEWENANG MENATALAYANI ALAM

Langit dengan segala makhluk angkasa, bumi dengan segala ciptaan yang ada di atasnya dan yang ada di bawah bumi bahagian bawah, laut dengan segala isinya, adalah ciptaan Allah. Karena itu seluruh alam semesta adalah kepunyaan Allah. Manusia secara eksistensian maupun esensial juga kepunyaan Allah. Tidak ada satupun di bawah langit dimiliki manusia.

Allah menciptakan manusia untuk tujuan-Nya yang mulia, yakni : KESELAMATAN HIDUP CIPTAAN . Untuk maksud dan tujuan itu pula Allah memberikan MANDAT ( kepercayaan dan tanggungjawab ) pada manusia, agar manusia menatalayani (Ing: stewardship ; Yun: oikonomos ) alam semesta. Manusia diberikan kebebasan untuk menatalayani alam semesta dalam batas-batas tanggung jawab sesuai dengan Firman Allah (Kej. 2:15-17). Ia dapat memerintahi dunia, namun tetap harus taat dan setia kepada Allah, Pencipta.

Naskah Alkitab tentang PENATALAYANAN alam semesta :

Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: " Beranakcucu lah dan bertam-bah banyak ; penuhi lah bumi dan taklukkan lah itu, berkuasa lah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi." (Kej. 1 : 28)

”TUHAN Allah mengambil manusia itu dan menem-patkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu .” (Kej. 2:15)

Ayat-ayat yang dikutip di atas menunjuk pada beberapa pemahaman penting :

1. ALLAH MEMBERKATI .

Manusia hidup, karena Allah memberkatinya. Berkat itu adalah keselamatan hidup yang meliputi aspek kehidupan spiritual maupun material.

2. ALLAH BERFIRMAN

Dalam upaya mengembangkan dan mengisi kehidupan, manusia harus setia dan taat melakukan Firman Allah. Kesetiaan dan ketaatan member-lakukan Firman Allah merupakan pernyataan sikap hati manusia yang menghasihi Allah.

Pada sisi lain, memberlakukan Firman TUHAN merupakan perbuatan yang baik dan benar, yang sama sebutannya dengan IBADAH . Memberlakukan Firman Allah sama artinya dengan membaktikan diri melaksanakan dan menyelenggarakan rencana penyelamatan Allah ke atas dunia cuiptaan-Nya. Dan, karena itu Allah memberkati manusia.

Allah yang berfirman itu memberikan tugas kepada manusia :

1. Beranakcucu dan bertambah banyak, penuhilah dan taklukan bumi :

1.a. BERANAK CUCU DAN BERTAMBAH BANYAK :

    • Gereja memahami tugas ”beranak cucu” dan ” bertambah banyak ” serta ” penuhilah ” bumi terkait dengan fungsi suami-isteri dalam institusi perkawinan yang disah-kan Negara dan diberkati dalam Ibadah Gereja.
    • Sesuai dengan keyakinan iman berdasarkan kesaksian Alkitab, dan yang ditetapkan dalam Keputusan-Keputus-an Gereja di dalam AKTA GEREJA , maka Gereja tidak me-nyetujui terjadinya hubungan sek-sual di luar pernikahan kudus.

1.b. TAKLUKKAN DAN KUASALAH

Alam bukan musuh manusia. Alam adalah sesama ciptaan. Manusia dan alam perlu saling mendukung. Ung-kapan ” taklukan ” dan ” kuasai ” bumi, tak berkonotasi negatif, seolah alam adalah musuh manusia yang harus diperangi.

Bahasa Ibrani ” kuasai ” dan ” takluk-kan ” menunjuk pada artikulasi positif. Kedua kata itu menunjuk pada peng- arti - an pemberdayaan alam demi me-menuhi kebutuhan manusia .

2. Mengusahakan dan memelihara bumi

Pengusahaan dan pemeliharaan alam menunjukkan pada fungsi pengembangan kehidupan antar sesama ciptaan.

        • Hubungan SIMBIOSIS MUTUALIS ( Hu-bungan timbal balik yang saling meng-untungkan ). Hubungan interaktif anat manusia dan alam harus tiba pada sikon saling menguntungkan semua pihak. Alam dapat diberdayakan demi meme-nuhi kebutuhan manusia; akan tetapi manusia pun harus memikirkan dan merencanakan daur-ulang bagi ekosis-tem alami.
        • Pemeliharaan alam yang dilaku-kan ma-nusia seharusnya bersifat holistik. Manusia harus memikirkan dan meren-canakan keutuhan ciptaan Allah dalam alam semesta dengan membangun kembali ”Eden” yang baru di dalam Kristus Yesus.

III.5.3. KEBEBASAN DAN TANGGUNG JAWAB

KEBEBASAN itu hak azasi manusia yang dikaruniakan Allah sejak penciptaan. Kebebasan bukan hak azasi yang dimiliki seseorang karena status sosialnya. Kebebasan itu melekat utuh dan terpadu dengan penciptaan atau kelahiran.

Akan tetapi secara sosial KEBEBASAN harus diatur di dalam norma masyarakat, agar kebebasan dapat diber-dayakan demi kepentingan bersama, demi pembangunan manusia dan sesamanya, dan demi pembangunan alam ciptaan Allah. Pembatasan KEBEBASAN itu dilakukan dengan mengadakan TANGGUNG JAWAB manusia sebagai makhluk religius dan makhluk sosial.

Dengan demikian Gereja tidak mengenal KEBEBASAN YANGTIDAK TERBATAS . Gereja ditugaskan Allah untuk menata dan mengatr KEBEBASAN dalam fungsi dan peran sosio-religius anggotanya. Dalam hal seperti inilah KEBE-BASAN disebut KEBEBASAN YANG BERTANGGUNG-JAWAB.

III.5.4. HAK DAN KEWAJIBAN

Gereja memahami HAK DAN KEWAJIBAN berdasarkan kesaksian Alkitab tentang PANGGILAN DAN PENGUTUSAN . Allah memanggil orang percaya untuk menerima berkat perjanjian yang telah dibuat-Nya dengan Abraham, bapa segala orang beriman. Bersamaan dengan itu orang percaya pun diutus untuk membagi berkat kepada sesamanya.

Sesungguhnya, PANGGILAN Allah kepada manusia itu menunjuk pada pemberian HAK sebagai ahli waris per-janjian Allah; sedangkan PENGUTUSAN -Nya menunjuk pada KEWAJIBAN yang harus dilakukan orang percaya.

engan demikian PANGGILAN (HAK) dan PENGUTUSAN (KEWAJIBAN) harus dipahami dan dihayati dalam proses pelaksanaan dan penyeleng-garaan IBADAH JEMAAT di tengah dunia ciptaan Allah

 
 
 
ALENIA VI
Bahwa karena keinginannya manusia 1) menyalahgunakan kuasa 2) dan tanggung-jawabnya, sehingga ia jatuh dalam dosa 3) menyebabkan rusaknya hubungan 4) dengan Allah, sesama dan alam .

 

III.6.1. KEINGINAN MANUSIA

Pada asalnya, ketika manusia (Adam dan hawa di Taman Eden) menjalin dan membina hubungan baik dengan Allah, segala sesuatu yang ada di dalam dirinya tidak berdosa. Tetapi manusia takluk di bawah KEINGINAN DAGING , sehingga memberontak dan tidak mengakui kedaulatan Allah atas hidupnya.

III.6.2. KUASA

Kejadian 1 ; 28 Alkitab terjemahan Baru:

NASKAH

Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: " Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi."

KUASA dalam ayat ini lebih cenderung menunjuk pada TANGGUNGJAWAB ” mengusahakan ” dan ” memelihara ” alam untuk melanjutkan kehidupan manusia di dalam Taman Eden (bd. Kej. 2:15). Pengelolaan KUASA itu hanya dapat menjadi kebaikan dan benar, jikalau manusia memberla-kukannya sesuai dengan kehendak Allah.

Ada dua istilah bahasa asing yang perlu dipahami secara benar, yakni :

  • MAN POWER, dan
  • HUMAN RESOURCES

Kedua istilah tersebut sangat terkait dengan nilai manusia sebagai makluk ekonomis.

Ad.1. Jika kita memakai istilah MAN POWER , maka yang ditonjolkan adalah kekuatan manusia dalam melaksanakan penglolaan atas kehidupan pribadi dan persekutuan serta masyarakat dan alam semesta. Dalam hal ini manusia akan menge-sampingkan nilai-nilai religius dan etis moral. Manusia akan menonjolkan kemampuan akalbudi yang menghasilkan Ilmu Pengetahuan dan Tek-nologi canggih. Di sinilah manusia meninggalkan Allah dan mengkultuskan dirinya sendiri. Itulah Dosa.

Ad.2. Jika kita memakai istilah HUMAN-RESOURCES , maka kita mengakui bahwa di dalam kehidupan manusia ada potensi . Potensi itu ada dalam hidup yang dianugerahkan Allah kepada manusia. Potensi itu diberikan bersamaan dengan PENCIPTAAN MANUSIA . Potensi itu mencakup :

  • AKALBUDI (Kecerdasan Intelektual),
  • HATI NURANI (Kecerdasan Spiritual, kecer-dasan emosional),
  • BAKAT yang diturunkan berdasarkan kela-hiran seseorang,
  • dan sebagainya

Akan tetapi potensi itu juga dapat ditumbuhkan melalui usaha manusia, seperti :

  • Penguasaan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi,
  • dan sebagainya.

III.6.3. JATUH DALAM DOSA

Kejatuhan manusia disebabkan ketidak setiaan dan ketidak taatan melaksanakan Firman TUHAN. ” KUASA ” (” mandat ”) dan TANGGUNGJAWAB yang dipercayakan TUHAN Allah diselewengkan dan isalahgunakan.

Iblis (ular) bukan faktor penentu yang membuat manusia berdosa. Kajatuhan ke dalam dosa itu disebabkan manusia tidak dapat mengendalikan KEINGINAN DAGING dan HAWANAFSU , hingga kesadaran akalbudi dan hati nurani tidak berfungsi secara baik dalam mengambil keputusan. Sebab itu, baik akalbudi maupun hati nurani manusia telah dibelenggu oleh kuasa dosa. Manusia melakukan apa yang dikehendaki kuasa dosa. Paulus berkata :

NASKAH

Sebab kita tahu, bahwa hukum Taurat adalah rohani, tetapi aku bersifat daging , terjual di bawah kuasa dosa . Sebab apa yang aku perbuat, aku tidak tahu. Karena bukan apa yang aku kehendaki yang aku perbuat, tetapi apa yang aku benci , itulah yang aku perbuat . Jadi jika aku perbuat apa yang tidak aku kehendaki, aku menyetujui, bahwa hukum Taurat itu baik. Kalau demikian bukan aku lagi yang memperbuatnya, tetapi dosa yang ada di dalam aku . Sebab aku tahu, bahwa di dalam aku, yaitu di dalam aku sebagai manusia, tidak ada sesuatu yang baik . Sebab kehendak memang ada di dalam aku, tetapi bukan hal berbuat apa yang baik. Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku perbuat . Jadi jika aku berbuat apa yang tidak aku kehendaki, maka bukan lagi aku yang memperbuatnya, tetapi dosa yang diam di dalam aku (Rom 7:14–20).

III.6.4. MENYEBABKAN HUBUNGAN DENGAN ALLAH TERPUTUS

Di atas dikatakan, bahwa karena KEINGINAN DAGING dan HAWA NAFSU - nya, manusia jatuh ke dalam dosa.
 
 
 
ALENIA VII
Bahwa manusia memerlukan anugerah pembaruan 1) , agar dapat melanjutkan pekerjaanNya hingga pemenuhan kerajaan Allah 2) .

 

III.7.1. ANUGERAH PEMBAHARUAN

Kesaksian Kitab Suci :

III.7.2. KERAJAAN ALLAH

Kitab Suci menggunakan dua istilah untuk menjelaskan KERAJAAN ALLAH

  1. KERAJAAN SURGA,
  2. KERAJAAN ALLAH

Ad.1. KERAJAAN SURGA

Kerajaan Surga dipakai menunjukkan ” wilayah kekuasaan Allah ”. Kata itu berasal dari Bhs Yun. : BASILEOU TOU URANOU . Secara hurufiah dapat diterjemahkan KERAJAAN LANGIT . Di sorga (langit) itulah tempat Allah bertahta ( Maz. 11:4; Mat.25:1 ) .

Ad.2. KERAJAAN ALLAH

Yunani – KERAJAAN ALLAH – BASILEOU TOU THEOU. Istilah itu dipakai menjelaskan PEME-RINTAHAN DAN KEPEMIMPINAN ALLAH ( Mrk. 1:15; Luk. 10:11; Mat. 6:33 ).

2.1. KRISTUS YESUS DAN KERAJAAN ALLAH

Pada beberapa kesempatan lain penulis Kitab Suci Perjanjian Baru mensejajarkan makna KERAJAAN ALLAH itu sama depan kehadiran Kristus Yesus. Penulis Injil Sinoptis mencatat ucapan Kristus Yesus, katika Dia mulai memberitakan Injil, kata-Nya :

NASKAH

"Waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!" (ayat 15)

2.2. DIMANAKAH KERAJAAN ALLAH ?

1. Jika kita menyimak ucapan Yesus dalam Markus (1:15), yang Yesus maksudkan : bila seseorang bertobat dan mengikuti dan mengakui Yesus Kristus selaku Tuhan, maka dengan serentak ia berpindah dari kerajaan maut dan berada di dalam Kerajaan Allah.

Hal itu juga tampak dalam permohonan penjahat di kayu salib : ”Yesus, ingatlah aku, apabila Engkau datang sebagai Raja (Mrk. 23:42). Yesus langsung memberikan kepastian : ” Aku berkata kepadamu , hari ini juga engkau akan ada bersama sama dengan Aku di dalam Firdaus (Mrk. 23:43) . Dengan kata lain, Yesus memastikan, bahwa Dia adalah RAJA ( MESIAH = KRISTUS ) yang memerintah dalam Kerajaan Allah. RAJA Yesus menjamin keselamatan penjahat yang memohon pertolongan-Nya. Dengan demikian, bila tiap orang yang percaya memasuki persekutuan dengan KRISTUS (RAJA) Yesus, Dia berada di dalam Kerajaan Allah. Dia dipimpin oleh RAJA Yesus.

2. IBADAH GEREJA menyatakan kehadiran Kera-jaan Allah di atas bumi. Tradisi Jemaat kristen mula-mula dicatat oleh matius, kata Yesus :

NASKAH

Aku berkata kepadamu: Jika dua orang dari padamu di dunia ini sepakat meminta apapun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapa-Ku yang di sorga. Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka ." (Mat.18:19-20)

Dengan demikian, jika barangsiapa yang bertobat dan meninggalkan dosanya, lalu datang bersekutu di dalam nama RAJA Yesus, Dia hadir di sana. Kehadiran-Nya itu menciptakan suasana surgawi dalam persekutuan orang percaya.

Akan tetapi setiap orang percaya merindukan tempat istirahat dalam damai sejahtera Allah (Why. 14:13). RAJA Yesus menjanjikan hal itu. Yohanes mencatat, kata Yesus :

NASKAH

Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal . Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepada-mu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu. Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamupun berada . Dan ke mana Aku pergi, kamu tahu jalan ke situ." (Yoh. 14:2-4).

Hal itu dikatakan RAJA Yesus juga kepada orang-orang yang mendengar-Nya. Yohanes mencatat percakapan Pontius Pilatus dengan RAJA Yesus :

NASKAH

Pilatus : " Engkau inikah raja orang Yahu-di ?"

Yesus : "Apakah engkau katakan hal itu dari hatimu sendiri, atau adakah orang lain yang mengatakannya kepadamu tentang Aku ?"

Pilatus : "Apakah aku seorang Yahudi ?.... apakah yang telah Engkau perbuat ?"

RAJA : "Kerajaan-Ku bukan dari dunia ini ; jika Kerajaan-Ku dari dunia ini, pasti hamba-hamba-Ku telah melawan, supaya Aku jangan diserahkan kepada orang Yahudi, akan tetapi Kerajaan-Ku bukan dari sini ."

Pilatus : "Jadi Engkau adalah raja ?"

RAJA : "Engkau mengatakan, bahwa Aku adalah raja”... (Yoh.18:33-37)

Jadi, dalam pertobatan semua orang dapat berjumpa dengan RAJA Yesus. Dan, oleh kuasa Rohkristus, orang-orang itu menerima jaminan hidup kekal bersama-Nya di dalam Kerajaan-Nya. Mereka itulah yang disebut anak-anak dan ahli waris Kerajaan Allah.

 
 
 
ALENIA VIII
Bahwa hanya oleh kemurahan Allah 1) melalui Yesus Kristus dan di dalam persekutuan 2) dengan Roh Kudus, martabat manusia sebagai gambar Allah 3) dipulihkan kembali, sehingga ia dapat menghayati dan menikmati hidup kekal 4) dalam kehidupan yang sekarang ini maupun dalam kehidupan yang akan datang.

 

III.8.1. KEMURAHAN ALLAH

Kesaksian Kitab Suci :

III.8.2. DALAM PERSEKUTUAN DENGAN ROH KUDUS

Kesaksian Kitab Suci :

III.8.3. MARTABAT MANUSIA

Kesaksian Kitab Suci :

III.8.4. HIDUP KEKAL

Kesaksian Kitab Suci : Yohanes 3 : 16

 
 
     
Design By Agiz Yuroskha Leonard